TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-52



Pagi yg cerah. Sinar matahari memasuki celah jendela. Sinarnya menyilaukan mata. Pagi itu Suzy terbangun dari tidurnya. Ia menatap wajah Zean yg kelelahan setelah aktivitas panjang mereka tadi malam. Merasa, ada yg memperhatikan. Zean berkata pada Suzy.


Zean : "Apakah, aku sangat tampan? Sehingga, kau menatapku terus menerus."


Suzy terkejut dan Zean perlahan membuka matanya. Zean tersenyum sedang mendapati Suzy dengan ekspresi wajah orang terkejut.


Zean : "Sayang? Apakah, kau masih mau lagi. Aku masih punya stok. Kita bisa melakukannya sekali lagi. Bagaimana?"


Wajah Suzy memerah ketika ia mendengar kata-kata maut Zean.


Suzy : "Ti...tidak usah. Su...sudah cukup." ucap Suzy segera bangkit hendak pergi ke kamar mandi. Namun, belum lagi niatnya terlaksana ke kamar mandi. Tiba-tiba saja Zean menarik tangannya. Hingga membuat Suzy jatuh di atas tubuh polos Zean. Suzy terkejut untuk kedua kalinya. Sedangkan, Zean tersenyum senang dan ia memeluk erat tubuh Suzy sembari mencium lembut rambut panjang Suzy.


Zean : "Sayang, kenapa buru-buru? Aku masih ingin kamu di sisiku."


Suzy : "Um, maaf ak...aku harus segera pergi ke pasar untuk belanja. Nanti, aku bisa kesiangan."


Zean : "Sayang? Mulai sekarang, kamu gak usah belanja ke pasar lagi dan buka kedai nasi lagi."


Suzy : "Loh, kenapa?"


Zean tersenyum dan Suzy tidak mengerti arti senyuman itu. Zean mengambil uang yg ia simpan di bawah bantalnya. Itu, adalah uang gajinya selama sebulan ia bekerja dengan temannya Bagas. Disaat ia sedang susah saat mencari pekerjaan. Ia bertemu Bagas secara tidak sengaja di sebuah tempat.


Bagas menawarkan pekerjaan pada Zean. Awalnya, Zean merasa enggan untuk menerimanya. Karena, ia sudah cukup membuat susah Bagas dan ibunya. Namun, Bagas tidak peduli. Bagas rela membantu Zean demi persahabatan mereka berdua.


Zean : "Ini untuk kamu." ucap Zean sambil menyerahkan lembaran uang kepada Suzy.


Suzy : "Ap...apa ini?"


Zean : "Uang gaji aku, sayang?"


Suzy : "Uang gaji? Lohh, bukannya kamu sedang cari pekerjaan ya selama sebulan ini."


Zean lagi-lagi tersenyum mendengar kata-kata polos Suzy.


Zean : "Maaf, ya aku bohong sama kamu. Sejujurnya, aku udah dapat kerja sama teman aku. Aku mau bilang sama kamu. Tapi, aku juga ingin kasih kejutan untuk kamu. Jadi, aku sembunyiin dehh..." ucap Zean menyentuh mesra ujung hidung Suzy.


Suzy : "Ohh, jadi begitu. Terima kasih, ya?"


Zean : "Iya, sama-sama sayang?" ucap Zean mulai nakal meraba-raba bagian tubuh Suzy.


Suzy : "Nghh...ka...kamu ngapain?"


Zean : "Aku mau lagi. Boleh, ya?"


Suzy memerah wajahnya.


Zean : "Tuh, kamu diam aja. Berarti kamu mau juga kan?"


Suzy : "E...emangnya ka...kamu gak kerja?"


Zean : "Hari ini aku libur, sayang?" ucap Zean sembari mencium bibir Suzy penuh nafsu. Zean ingin segera berlayar lagi bersama Suzy. Namun, tangisan Laura menghentikan aksi Zean.


"Oeekkk....Oeeekkk."


Suzy terkejut dan Zean menghentikan aksinya.


Suzy : "Sepertinya, Laura tidak ingin kita berlayar lagi." ucap Suzy tersenyum.


Zean : "Nanti malam."


Suzy : "Nanti malam?"


Zean : "Nanti malam aku minta lagi, ya? Sekarang, ayo susui dia. Tangisannya semakin keras."


Suzy : "Iya, baiklah. Dan, lepaskan pelukanmu."


Zean : "Ehh? Iya lupa." ucap Zean tersenyum.


Zean melepaskan pelukannya dan Suzy bangkit lalu menggendong Laura dan menyusuinya. Sedangkan, Zean ia segera bangkit menuju kamar mandi. Ia mandi dan membersihkan tubuhnya setelah melakukan aktivitas yg melelahkan tadi malam.


.


.


.


.


.


.


.


Sedan hitam pekat itu membelah jalanan. Sean dan Lova sedang dalam perjalanan menuju rumah Irene. Ibu kandung Lova. Lova tampak gelisah selama perjalanan menuju rumah orang tua kandungnya. Sean melihat hal itu. Ia pun menggenggam jari jemari Lova dan Lova menatapnya.


Sean : "Jangan tegang begitu?"


Lova : ???


Sean tersenyum.


Sean : "Kemarilah, biar aku peluk."


Sean memeluk Lova dengan hangat. Membuat Lova merasa nyaman seketika.


Sean : "Aku tahu, ini sangat berat bagimu. Tapi, meski begitu kamu jangan tegang begitu sayang? Hari ini adalah hari bahagiamu. Untuk kamu bertemu orang tua kandungmu. Untuk kamu bertemu mereka dan bersama lagi dengan mereka. Tersenyumlah, sayang? Maka, itu jauh lebih baik." ucap Sean lembut dan menenangkan.


Lova mengangguk dan ia menangis di dalam pelukan Sean. Sungguh, ia tidak menyangka jika Sean bisa juga bersikap seperti seorang sahabat yg dapat memberikan rasa aman dan nyaman pada dirinya.


Sean melepas pelukannya dan perlahan jemarinya yg kokoh menghapus airmata Lova.


Sean : "Hapus air matamu. Nanti orang tuamu mengira kalau aku sudah menyakitimu."


Mendengar kata-kata Sean membuat Lova jadi tertawa renyah.


Lova : "Hahaha..., mana mungkin begitu. Masa mereka bisa berpikir begitu."


Sean : "Siapa tahu, begitu mereka melihatnya mereka berpikir yg tidak-tidak tentang aku."


Lova : "Ihh..., enggak. Suamiku sayang, mana mungkin begitu."


Sean : "Oh, ya? Jadi, kalau begini bagaimana?" ucap Sean langsung mengecup bibir Lova lembut.


Lova kaget.


Lova : "Heyy...jangan sembarangan cium. Lihat, ada pak supir."


Sean : "Memangnya kenapa? Kamu kan istriku. Memangnya tidak boleh? Just kiss you one minute."


Lova : "No!!!" ucap Lova sembari mendorong tubuh Sean.


Sean : "Heyy..., cantik? Jangan menolakku. Atau, aku akan menerkammu."


Lova : "Ahh, tidaaakkk...!!!" teriak Lova.


Lalu, terdengar suara tawa dari bibir mereka berdua.


"Hahaha"


Sang supir terlihat sangat kasihan sekali. Harus melihat adegan mesra antara tuan dan nyonyanya setiap hari. Terkadang tak jarang telinga supir ini jadi merah karena mendengar kata-kata candaan mesra Sean ketika merayu Lova. Dan, itu cukup membuat sang supir ingin mengakhiri masa lajangnya juga dan menikah. Memang, hidup berumah tangga itu menyenangkan. Disamping ada sisi baiknya terkadang hidup dalam rumah tangga juga tak mudah dan memiliki sisi buruk. Apalagi, jika dalam rumah tangga ada pihak ketiga yg mengganggu. Tentunya akan menjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga. Tapi, tampaknya kehidupan rumah tangga antara Sean dan Lova baik-baik saja. Semoga.


Bersambung...


TWO HUSBAND