TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-20



Sean tersenyum dan ia mengecup lembut kening Lova lalu selnjutnya ia mengajak Lova pulang. Meninggalkan mall itu. Sementara itu, Jimmy sedang naik taksi. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Ia benar-benar marah dan akan meluapkan api kemarahannya pada Bara, cucunya. Ia mengira kalau Bara sudah mengkhianati Mitha. Padahal, Bara dan Mitha sedang sibuk sayang-sayangan di dalam kamar pribadi ruangan kantor Bara.


 


***Two Husband S2 Eps\-20***


 



Di dalam kamar pribadi ruangan kantor Bara. Sepasang pasutri itu sedang asyik menikmati masa indah mereka di atas ranjang empuk king size milik mereka. Tak jarang terdengar teriakan lembut serta erangan seorang wanita yg sedang dimabuk asmara itu. Hari menjelang sore itu benar-benar menguras tenaga Bara yg sedang sibuk merayu Mitha, istrinya.


Sampai akhirnya...


"Duakkhh"


Bara dan Mitha sangat kaget begitu mereka mendengar suara pintu kamar mereka di tendang dari luar oleh Jimmy. Jimmy kaget melihat pemandangan itu. Terlebih lagi Bara dan Mitha. Mitha terkejut dan ia berteriak kencang.


Mitha : "Arrrggghhh...!!! Kakek!!!"


Sambil menyelimuti tubuh Mitha dan dirinya.


Bara : "Kakek???"


Jimmy : "Asdgfghijkl."


Jimmy malu sekali.


Jimmy : "Maaf...maaf. Silakan dilanjutkan lagi."


Jimmy menutup pintu dengan raut muka merah. Ia menahan malu. Jika, dipikir-pikir ia sudah keterlaluan. Ia tidak menyangka kalau Bara dan Mitha sedang bersenang-senang dengan kebersamaan mereka. Sedangkan, Bara segera keluar dari dalam kamar pribadinya tanpa Mitha. Karena, Mitha sangat malu atas peristiwa barusan.


Bara : "Kakek? Ada, apa sampai kakek menendang pintu segala. Kan, kami jadi malu."


Jimmy : "Um? Tadinya, orang tua ini mau marah-marah padamu. Tapi, setelah melihat kebersamaan kalian. Orang tua ini jadi malu."


Bara : "Marah-marah? Apa, maksudmu kakek?"


Jimmy : "Maksud orang tua ini adalah apa kau yg semprull ini punya snack cadangan selain kelinciku?"


Bara sangat terkejut ketika mendengar kata-kata kakeknya. Bara memijat pelipisnya.


Bara : "Aduhh, kakek? Bagaimana, kakek bisa berkata begitu. Kalau, Mitha mendengarnya. Dia bisa salah paham. Aku bisa jadi duda sebelum memberikanmu beruang kecil yg lucu."


Jimmy menunjuk-nunjuk dada Bara.


Jimmy : "Justru itu, jelaskan padaku. Tentang snack itu. Cepat!"


Bara : "Kakek? Aku benar-benar tidak punya snack? Aku benar-benar sudah memusnahkan mereka semua. Kakek, sungguh. Hanya ada Mitha di hatiku."


Jimmy : "Akh, bohong?"


Bara : "Aku tidak bohong, kakek?"


Tiba-tiba, Mitha nyeletuk. Mitha yg sedari tadi ikut mendengarkan percakapan mereka secara diam-diam.


Mitha : "Apa! Bohong? Bohong apa. Jelaskan padaku. Cepat!"


Mitha menatap Bara marah.


Bara : "Sayang?"


Mitha : "Huh!"


Mitha melipat tangan di dada sambil membuang muka.


Jimmy : "Ah, kelinci kecilku? Begini, kau tidak usah mendengar kata-katanya. Dia ini punya snack di luar."


Mitha : "Snack?"


Mitha mengalihkan tatapannya lagi. Ia menatap Bara tajam.


Mitha : "Sayang? Snack? Apa, itu snack. Jajan, maksudnya."


Jimmy : "Kelinci kecilku, hehe...itu adalah jajan. Tapi, maksudnya adalah..."


Tiba-tiba saja Bara membekap mulut kakeknya sembari berbisik.


"Kakek? Jangan, bilang yg bukan-bukan. Aku sama sekali tidak punya snack yg kau maksud itu."


Jimmy jadi semakin marah melihat tindakan Bara yg tiba-tiba saja membekap mulutnya. Ia pun kemudian melakukan serangan telak pada Bara. Ia menggigit telapak tangan Bara yg membekap mulutnya.


"Aarrgghhhh..."


Bara menjerit keras.


Bara : "Kakek, kenapa menggigitku?"


Jimmy : "Diam! Dasar, boneka semprull. Kelinci kecil, dia punya wanita lain di belakangmu."


Mitha sangat terkejut sekali ketika ia mendengar dari Jimmy bahwa Bara punya selingan. Mitha menatap tajam Bara.


Mitha : "Apa! Sayang, benarkah apa yg dikatakan oleh kakek? Kau punya selingan."


Bara : "Apa! Tidak?"


Bara : "Aku tidak bohong, sayang? Percayalah padaku. Bukankah, selama ini kita selalu bersama. Bagaimana mungkin aku bersama wanita lain. Jika, aku selama ini aku selalu bersamamu."


Mitha : "Benar juga ya? Kakek, apakah kakek tidak merasa bahwa ada sesuatu yg salah dibalik ini semua. Coba, pikirkan lagi. Tidak mungkin Bara bersama wanita lain selain aku. Kami selalu bersama-sama semenjak kami menikah. Bukankah, begitu sayang?"


Jimmy berpikir lagi. Ia mengingat kejadian tadi. Ia bertemu dengan wanita yg mirip dengan Mitha. Ia meninggalkan wanita itu di depan pintu mall. Jika, wanita itu ada disana. Lalu, bagaiman bisa wanita itu juga ada disini saat ini. Apakah, yg ditemuinya tadi bukan Mitha? Tapi, kembarannya?


Jimmy : "Aha, aku ingat! Kelinci kecil, tadi aku bertemu dengan seorang wanita yg mirip sekali denganmu di mall."


Mitha : "Wanita yg mirip denganku? Apakah, kakek bertemu dengan Lova. Saudara kembarku?"


Jimmy : "Eh? Kembar? Jadi, kelinci kecil tadi itu kembaranmu. Kau punya kembaran, kelinci?


Bara : "Benar, kakek?"


Berkata ketus pada Bara.


Jimmy : "Huh! Aku tidak bertanya padamu."


Bara : "Aku hanya beritahu saja."


Jimmy : "Huh! Jangan, bicara lagi denganku."


Bara dan Mitha tersenyum melihat tingkah orang tua yg sudah memasuki usia uzur tersebut.


Mitha : "Kakek, aku memiliki saudara kembar. Namanya Lova, dia adikku. Dia sudah memiliki satu anak. Namanya Zidan."


Jimmy : "Ah, iya. Dia tadi menggendong seorang anak kecil. Kalau tidak salah ya Zidan itu namanya."


Mitha : "Oh, tidak salah lagi dia Lova kakek."


Jimmy : "Oh, benarkah? Dia saudara kembarmu?"


Mitha : "Iya."


Jimmy : "Wah, dia punya bayi yg lucu. Hei, boneka kesayanganku dan kelinci kecilku. Kapan, kalian akan memberiku beruang kecil? Orang tua ini sudah tidak sabar tahu? Ingin gendong beruang kecil yg menggemaskan dan lucu. Ayolah, buat lagi sana. Maafkan, orang tua ini yg tidak tahu aturan karena emosi."


Jimmy mendorong Bara dan Mitha kembali masuk ke dalam kamar pribadi di ruang kantor itu.


Bara & Mitha : "Kakek? Apa-apaan ini? Jangan, mendorong kami begini."


Jimmy : "Sudah...sudah...ayo cepat. Jangan, kalian pikirkan orang tua ini."


Jimmy menutup pintu kamar.


Jimmy : "Bye...bye...hehehe."


Setelah itu, ia pergi kembali ke mansion Standford. Ia meninggalkan Bara dan Mitha berdua saja di dalam ruangan kamar itu yg tampak bingung dengan apa yg dilakukan oleh Jimmy. Bara dan Mitha saling berpandangan.


Mitha : "Sekarang harus bagaimana."


Bara : "Aku tidak tahu. Tapi, aku lebih suka begini bersamamu."


Bara memeluk Mitha erat. Dan, satu ciuman lolos dari bibir Bara menyapu kening licin Mitha.


Mitha : "Kau tahu, aku sangat terkejut tadi karena ulah kakek. Aku tak bisa melakukannya lagi."


Bara : "Aku tahu."


Mitha : "Bagaimana, kalau kita pulang saja."


Bara : "Ide yg bagus. Ayo."


Lalu, Bara dan Mitha mulai melangkah pergi dari sana. Namun, saat mereka mau membuka pintu. Ternyata, pintu tersebut terkunci dari luar. Bara dan Mitha saling pandang.


Bara & Mitha : "Pintunya terkunci."


Bara : "Pasti ulah kakek."


Mitha : "Jadi, bagaimana dong?"


Bara : "Tunggu aku telepon security."


Bara meraba-raba saku jasnya mencari ponselnya. Ternyata, ponselnya tidak ada di sakunya. Mitha memperhatikannya.


Mitha : "Kenapa?"


Bara : "Ponselnya tidak ada. Akh, aku lupa sayang? Ponselnya aku taruh di luar di meja kerjaku."


Mitha : "Apa!"


Bara : "Ponselmu?"


Mitha : "Sama ada di luar juga."


Bara menepuk jidatnya sendiri.


Bara : "Aduh, ya Tuhan? Kakek! Buka pintunya!!!"


Hening dan sepi. Tidak ada orang di luar. Akhirnya, Bara dan Mitha tidak bisa pulang ke mansion. Mereka berdua menginap di dalam ruangan kamar itu sampai pagi. Sementara itu, si nyentrik bin jadul itu ia tampak senang dan bersiul kecil.


Bersambung...


TWO HUSBAND Season 2