TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-17



Entah bagaimana nasib Jhon Leon setelah ia bertemu dengan sang pembunuh bayaran Tian Cheng. Apakah, ia sudah mati atau belum. Tidak ada yg tahu. Sementara itu, Tian Cheng yg setelah selesai menjalankan tugasnya. Langsung menelepon Jason yg saat itu sedang berada di kediamannya.


Percakapan Via Telepon....


Jason : "Tian Cheng! Bagaimana?"


Tian Cheng : "Tuan Jason yg terhormat? Dia sudah tewas!"


Jason yg sedang duduk tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia melonjak gembira.


Jason : "Benarkah, dia sudah tewas?"


Tian Cheng : "Iya, tuan? Dia jatuh masuk ke dalam jurang. Saya, sudah memeriksa mayatnya. Dan, saya sudah pastikan bahwa dia sudah tewas."


Jason tertawa riang.


"Hahaha"


Jason : "Bagus...bagus....! Datanglah, kemari ambil kotak emasmu ini."


Tian Cheng : "Baiklah, tuan?"


"Tut"


Tian Cheng bergegas pergi dari sana. Ia pergi untuk mengambil imbalan yg sudah dijanjikan oleh Jason. Setelah, peristiwa itu Tian Cheng pun tidak pernah lagi bisa dihubungi. Ia memutuskan kembali ke negaranya di China, Beijing. Entah apa, yg ia lakukan disana setelah ia kembali dari negara Indonesia. Melaksanakan tugas dan perintah dari seorang yg iri hati dan sombong seperti Jason. Untuk menghabisi saudara tirinya, Jhon Leon.


Berita tentang kematian Jhon Leon pun tersebar. Dimana-mana, baik di media masa maupun televisi sudah tersebar kabar kematian Jhon. Dan, kabar kematian Jhon pun sampai di telinga Mitha. Saat, ia mendengar kabar tersebut. Mitha kaget dan tidak percaya kalau Jhon sudah tiada. Bara yg mengetahui hal tersebut pun langsung menghibur dirinya. Ia memeluk erat tubuh Mitha sambil mengelus kepalanya penuh sayang.


Mitha : "Sayang? Dia tiada. Aku tidak tahu harus bagaimana. Apakah, aku harus berduka ataukah bahagia atas kematiannya."


Bara : "Ya, aku tahu. Itu semua memang sulit. Terlebih dia suami sahmu. Dan, kau adalah istri sahnya. Aku tahu kau terluka karena dia sudah menyakitimu. Tapi, bagaimana pun kau harus hadir di acara pemakamannya. Maka, itu sudah cukup menyaksikan kepergiannya untuk terakhir kali."


Mitha : "Sayang? Kau memberiku izin?"


Bara : "Ya, aku memberimu izin. Pergilah, atau kau mau aku temani?"


Mitha : "Aku takut orang akan berkata apa jika mereka melihat kita bersama. Terlebih lagi keluarganya, aku tidak akan bisa menegakkan kepalaku di hadapan mereka."


Bara : "Memangnya kenapa dengan kata orang? Apakah, aku peduli. Aku mencintaimu. Dan, kau mencintaiku. Apa pun yg terjadi, aku akan tetap berada di sampingmu. Kau paham, sayang?"


Mitha : "Aku paham."


Bara : "Ayo, kita pergi."


Mitha mengangguk. Tepat, saat itu Jimmy melihat Bara dan Mitha pergi berdua lagi. Jimmy sangat tidak suka jika kedua orang yg sangat penting baginya itu mengabaikannya. Jadi, ia pun mencoba segala macam cara agar bisa pergi bersama Bara dan Mitha.


Jimmy : "Hehe, tunggu!"


Bara & Mitha : "Kakek?"


Jimmy : "Mau kemana, kalian!"


Mitha : "Kami mau pergi melayat kakek?"


Jimmy : "Melayat?"


Mitha menganggukkan kepalanya.


Jimmy : "Siapa, yg meninggal?"


Mitha : "Su...ah...em?"


Bara memotong kata-kata Mitha.


Bara : "Jhon Leon, kakek?"


Jimmy terkejut.


Jimmy : "Apa! Jhon Leon meninggal? Seorang pengusaha muda sukses itu? Orang berada di posisi ke 3 dalam dunia bisnis setelah Sean Frederick?"


Mitha : "Ya, kakek?"


Jimmy : "Wah, kok bisa ya?"


Bara : "Dari berita yg kudengar. Katanya ia jatuh ke dalam jurang."


Jimmy : "Wohh, jatuh ke dalam jurang? Gimana ceritanya?"


Jimmy : "Sayang sekali ya, kalian tidak tahu. Ck...ck...ck...!"


Bara : "Apakah, kakek mencegah kami pergi. Kakek, mau ikut kami juga?"


Jimmy : "Apa? Ikut? Melihat orang meninggal, gitu? No...! Kalian saja yg pergi. Hehe...orang tua ini mau di rumah saja. Boneka kesayanganku, tolong jaga kelinci kecilku dengan hati-hati. Awas, saja jika terjadi sesuatu padanya."


Bara : "Baiklah, kakek? Kami pergi dulu."


Jimmy menganggukkan kepalanya. Di pikirannya berkata "Masa, seorang pengusaha sukses seperti dia kok meninggal begitu saja? Seperti ada yg aneh, gitu?"


"Apa, jangan-jangan dia mati dibunuh?"


Jimmy terus berpikir hal yg seperti itu. Mungkin saja menurutnya Jhon itu dibunuh. Karena, dalam dunia bisnis persaingan sangat ketat. Bahkan, dulu di waktu usia muda Jimmy juga pernah mengalaminya. Ia hampir saja tewas di tangan seorang pembunuh bayaran. Untung saja, kala itu ia berhasil menembak mati pembunuh bayaran tersebut.


Lalu, tak lama setelah kejadian itu ia menambah ketat pengamanan atas dirinya dan keluarganya. Ia juga menyewa seorang yg handal untuk berada di sisinya. Yang akhirnya, orang tersebut jatuh cinta pada putrinya dan menikahinya. Semenjak, itu semakin banyak orang yg mengincar keluarganya. Hingga peristiwa berdarah itu terjadi.


Kedua orang tua Bara meninggal dalam kecelakaan mobil yg terencana. Demi keselamatan Bara, Jimmy hijrah dan pindah ke negara lain. Ia tidak ingin keluarganya menjadi incaran atau sasaran dari para pembunuh bayaran itu. Barulah, keadaan menjadi aman dan tenang. Setidaknya sementara waktu, sampai akhirnya Bara tumbuh dewasa seperti sekarang ini.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain...


Kediaman keluarga Leon.


Jason dan ibunya Heidi tertawa senang dan gembira atas kematian Jhon. Sekarang, mereka bisa sepenuhnya menguasai harta dan perusahaan milik keluarga Leon. Setelah, acara pemakaman selesai. Semenjak, itu Jason menjadi direktur utama perusahaan Leon's Group. Sekaligus dirinya menjadi pewaris utama keluarga Leon.


Heidi : "Akhirnya, anakku. Kau akhirnya menjadi pewaris utama perusahaan keluarga Leon yg selama ini kau idam-idamkan."


Jason : "Tentu saja, ibu. Lihat, sekarang aku sudah memiliki segalanya. Hanya satu saja yg kurang yaitu istri."


Heidi : "Istri?"


Jason : "Ya, istri. Aku butuh istri sekarang untuk melengkapi kebahagiaanku. Aku butuh Mitha."


Heidi : "Mitha?"


Jason menganggukkan kepalanya.


Heidi : "Tapi, nak. Mitha baru saja menjadi janda. Setidaknya, kau harus menunggu. Tentu tidak baik jika kau terburu-buru dalam menaklukkan hati Mitha."


Jason : "Tapi, bu. Aku tidak bisa menunggu. Sebelum dia menjadi milik lelaki lain. Aku harus bertindak cepat."


Heidi : "Baiklah, nak. Lakukanlah. Selama kau senang, ibu akan selalu mendukungmu."


Jason : "Terima kasih, ibu."


Heidi menepuk-nepuk punggung Jason. Sebelum, ia meninggalkan ruangan yg menjadi saksi kemenangan palsu mereka. Kemenangan yg didapat dari hasil menumpahkan darah orang lain. Kemenangan ini benar-benar palsu. Bahkan, kemenangan ini akan menjadi mimpi buruk mereka suatu hari nanti.


Bersambung...


TWO HUSBAND Season 2


Visual



Ini adalah visual tokoh yg bakal hadir selanjutnya di episode-episode selanjutnya. Siapakah dia? Penasaran? Mau tahu? Ikuti terus kisah cinta Bara dan Mitha di Two Husband Season 2 ya?


NB :


Oh, ya sekalian saya informasikan sekali lagi kepada para Author yg singgah di Two Husband. Mohon, untuk tidak menjiplak karya saya. Karena, saya juga tidak mau membuat anda jadi di banned. So, please mari sama-sama kita membuat karya dengan hasil imajinasi kita sendiri.


Trims


Author