
Mitha tersenyum melihat Bara yg menepuk jidatnya sendiri. Sedangkan, Jimmy ia masih terihat kesal sekali dengan Brenda. Ia masih mengerucutkan bibirnya. Lee, yg berada di sana semakin tidak mengerti dengan keadaan itu. Mitha membuka suara untuk meringankan keadaan yg tampaknya panas tadi.
Mitha : "Jadi, kakek? Inikah, boneka kesayanganmu? Yang kakek ceritakan itu?"
Jimmy kaget.
Jimmy : "Iya, kelinci kecil? Maaf, kakek lupa kalau kau masih ada disini."
Mitha tersenyum manis. Yang membuat Bara tiada henti menatapnya. Ia terpana.
Mitha : "Tidak apa-apa, kakek?"
Jimmy : "Oh, ya? Kenalkan, dulu kelinci kecil ini adalah boneka kesayanganku, Bara. Bonekaku, dan ini adalah kelinci kecilku, Mitha. Ayo...ayo berjabat tangan!"
Bara & Mitha : "Kakek? Kami sudah saling kenal kok?"
Jimmy : "Uwapa? Sudah kenal?"
Bara dan Mitha mengangguk.
Jimmy : "Heh, boneka semprul. Kapan?"
Bara : "Dua hari yg lalu, kakek?"
Jimmy : "Kenapa, tidak bilang kalau kau sudah kenal sama kelinci kecilku? Kenapa, kau diam saja."
Bara : "Kakek? Mana kutahu kalau kakek, akan mengenalnya."
Jimmy : "Huh! Kau membuat orang tua ini berkeliaran sendirian!"
Bara : "Kakek, kan aku sudah pernah bilang sama kakek. Kalau kakek datang. Kakek, bilang padaku. Aku akan suruh orang untuk menjemput kakek."
Jimmy : "Bukan itu! Hu...hiks...kelinci kecil? Kau lihat kan, dia itu memang tidak punya perasaan."
Jimmy mendekati Mitha sambil menangis. Dia mengadukan Bara pada Mitha.
Mitha : "Kakek, tenanglah. Mungkin, bukan begitu maksudnya tuan Bara."
Jimmy : "Huwaaaaa...., boneka kesayanganku jahat. Dia sengaja melakukannya padaku. Dia membuatku berkeliaran sendirian. Dia tidak peduli pada nasib orang tua ini."
Jimmy menangis lebih keras. Membuat Bara tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia diam. Bara memang tidak berkutik jika, kakeknya membuat ulah.
"Oh, ya ampuunnn...? Kenapa, jadi begini?"
Sekali lagi dia memegang kepalanya sendiri.
Mitha : "Kakek, sabar ya? Kakek, harus tenang. Ah, bagaimana kalau kita pergi makan saja. Sedari tadi kan kakek belum makan? Yuk?"
Jimmy : "Makan?"
Mitha : "Iya"
Jimmy : "Baiklah, ayo kelinci kecil?"
Jimmy memainkan sebelah matanya pada Bara seolah mengisyaratkan "Lihatlah ini, bonekaku?"
Bara : "Ah, aku ikut. Lee, kau pulang saja duluan."
Lee : "Baiklah, tuan muda."
"Woo, Ini sangat seru. Bonekaku terpancing. Hehehe..., nanti di resto aku akan pura-pura ke toilet. Lalu, meninggalkan mereka makan berdua. Haha...aku benar-benar jenius. Tak sia-sia aku berakting menangis tadi."
Jimmy senyam-senyum sendiri. Bara melihatnya. Dan, ia merasa kakeknya ini sedang merencanakan sesuatu lagi.
"Apa-apaan, senyumannya itu. Orang tua ini benar-benar."
Bara tahu sifat dan watak kakeknya itu. Jika, kakeknya senyum-senyum dan duduk manis begitu pasti dia sedang menyusun sebuah rencana.
"Aku harus waspada! Entah apa lagi ulah kakek kali ini."
Bara mewaspadai kakeknya. Ia tidak ingin kakeknya itu membuat ulah macam-macam lagi. Sesampainya di resto, mereka duduk di bangku masing-masing. Sesuai rencana Jimmy pura-pura pergi ke toilet. Dia bilang di sudah menahannya sedari tadi. Bara melihat tingkah kakeknya itu dan ia merasakan kakeknya agak aneh. Tapi, ia mengabaikannya saja. Mungkin kakeknya benar-benar ingin ke toilet.
Lima belas menit berlalu Bara dan Mitha menunggu. Tapi, Jimmy tidak muncul juga. Makanan yg mereka pesan pun sudah hampir dingin.
Bara : "Kakek kok lama ya, di toilet?"
Mitha : "Mungkin kakek sakit perut kali, jadi lama ke toiletnya tuan?"
Bara : "Jangan, panggil tuan begitu. Panggil saja, namaku, cintaku atau sayangku juga boleh."
Bara tersenyum.
Mitha : "Apa? Tuan tadi bilang apa. Saya tidak dengar."
Bara memainkan sebelah matanya kepada Mitha.
Mitha : "Ehh???"
Mitha tersipu.
"Hem? Tuan genit ini!"
Ia malu mendengar kata-kata rayuan Bara. Wajahnya jadi merah seketika.
"Uuhh..., lihatlah dia. Dia tersipu malu. Rona merah itu, mengisyaratkan bahwa ia malu padaku. Wanita ini, aku sudah tidak sabar lagi ingin memilikinya."
Bara menatap Mitha. Mitha mengalihkan tatapannya ke arah lain. Mitha semakin malu. Bara tersenyum senang melihat Mitha malu padanya.
Bara : "Ayo, dimakan saja. Tidak usah menunggunya. Kakek mungkin sudah pulang ke rumah dan sedang makan enak di rumah."
Mitha : "Apa! Sudah pulang?"
Mitha kaget sekali.
Bara : "Iya"
Mitha : "Ck, padahal ingin makan bersama kakek!"
Bara : "Ayolah, jangan kecewa begitu. Nanti, kapan-kapan aku akan mengundangmu makan malam di mansionku bersama kakek. Bagaimana?"
Mitha berbinar bahagia. Ia sampai menyentuh jari-jemari Bara.
Mitha : "Benarkah?"
Bara yg merasakan sentuhan disana perlahan hatinya menghangat. Jantungnya berdegup kencang.
"Aduhh...jantungku! Ku tak tahan sama sentuhannya."
Batin Bara menjerit. Sungguh ia merasa sangat senang dengan hal tersebut. Apalagi, pancaran mata Mitha yg berbinar bahagia. Sungguh merupakan pemandangan langka.
Bara : "Iya, benar!"
Mitha tersenyum. Tiba-tiba, ia tersadar bahwa jari jemarinya tanpa sadar menyentuh jari jemari Bara.
Mitha : "Oh, maaf!"
Bara tersenyum.
Bara : "Oh, tidak apa-apa. Aku malah senang. Hehehe..."
Mitha : "Apa?"
Bara : "Tidak apa-apa. Ah, itu makanannya keburu dingin."
Mitha : "Oh, iya."
Mitha menyantap makanannya. Demikian juga Bara. Kebersamaan itu terasa hangat bagi Bara maupun Mitha yg merasakannya. Meskipun, ada rasa bersalah dalam hatinya terhadap Jhon, suaminya. Tapi, ia pun tak ingin terus menerus mendapat penolakan dari suaminya. Hanya karena masalah kesuciannya yg hilang.
Disaat yg sama, Jimmy baru saja tiba di mansion Standford. Will kepala pelayan di mansion tersebut. Menyambutnya dengan raut wajah terkejut.
Will : "Tuan Besar? Anda dari mana saja. Seharian anda keluar dan tak memberi kabar. Saya sampai mengerahkan bodyguard untuk mencari anda. Tapi, tidak ketemu."
Jimmy terkekeh geli melihat reaksi Will, pelayan yg sudah lama mengikutinya.
Jimmy : "Hihihi...., Will kau tak perlu khawatir. Aku tidak pergi kemana-mana kok. Aku hanya pergi sebentar saja."
Will : "Wajah, anda terlihat sangat gembira tuan? Apakah, ada peristiwa menarik hari ini."
Jimmy : "Will, kau memang pelayan luar biasa. Kau tahu saja jika aku sedang senang. Hehehe..., tapi lebih baik kau sembunyikan rasa tahumu itu, ya?"
Will : "Ah, maafkan saya tuan besar?"
Jimmy : "Tidak apa-apa. Hehe...siapkan air hangat Will. Aku mau mandi, sekalian juga siapkan makan malam terenak untukku. Aku sedang bahagia hari ini. Duh, kelinci kecil? Cepatlah kau menikah dengan boneka kesayanganku."
Will menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
"Kelinci kecil? Apa, maksud tuan Besar?"
Will : "Tahu ah, urusan keluarga ini aku tidak mau ikut campur."
Will segera melaksanakan perintah Jimmy. Ia segera menyiapkan apa yg diperintahkan oleh Jimmy tadi. Jimmy sangat senang sekali. Akhirnya, ia sudah menemukan calon menantu untuk cucu kesayangannya, Bara. Will, yang merasa heran melihat tuannya itu. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Ia tidak mau ikut campur urusan keluarga besar yg sudah ia layani selama kurang lebih 30 tahun itu.
Bersambung....
TWO HUSBAND Season 2