TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-34



Namun, sebelum pergi bertemu dengan Detektif tersebut. Asraf bertemu Suzy di tangga, pada saat itu kaki Suzy terpeleset.


"Ahhh..."


Untung saja, Asraf segera menangkap tubuhnya. Hingga akhirnya Suzy selamat. Jantung Suzy berdebar kencang. Ia selamat, namun yg membuat detak jantungnya lebih cepat lagi adalah Asraf yg menatap dirinya tiada henti. Mata hitam itu menatapnya tanpa berkedip. Wajah lelaki itu memang tak setampan Zean maupun Sean. Tapi, Asraf memiliki bentuk wajah yg lumayan manis. Dengan lesung pipit di kedua pipinya.


Lama mereka saling pandang dalam diam. Lalu, akhirnya Asraf melepaskan pelukannya. Dan, ia melihat rona merah di wajah Suzy. Ia tahu, Suzy malu dengannya. Namun, ia pun tak memungkiri jikalau ternyata perasaan itu pun mulai tumbuh secara perlahan-lahan di dalam hatinya.


Asraf : "Hati-hati! Kau sedang hamil. Ah, lain kali kau pindah saja ke kamar tamu di lantai bawah saja. Besok, aku akan membawa pakaianmu turun ke bawah. Oke?" ucap Asraf lembut.


Disini Suzy dapat melihat perbedaan antara Zean dan Asraf. Zean dimatanya adalah seorang lelaki yg sangat kasar dan tak berperasaan. Sedangkan, Asraf adalah seorang lelaki lembut dan baik hati juga pengertian. Tiba-tiba saja, hati Suzy tersentuh. Ia merasa ia sudah mulai menyukai Asraf. Seorang lelaki yg telah menolongnya serta berbaik hati memberinya tempat untuk berteduh atau berlindung. Ia menganggukkan kepalanya ketika ia mendengar kata-kata Asraf yg tampak khawatir sekali padanya.


Asraf : "Baiklah, itu saja yg ingin aku katakan padamu. Oh, ya? Ngomong-ngomong, kamu sangat cantik jika kamu sedang malu-malu begini?" bisik Asraf di telinga Suzy.


Bola mata Suzy membulat, ketika Asraf mengucapkan kata-kata indah itu di telinganya. Ia menatap Asraf dan jantungnya kembali berdebar tak karuan. Ia menyadari bahwa wajahnya menjadi merah padam ketika Asraf berkata-kata demikian mesra padanya. Namun, ia pun menyadari statusnya yg masih istri orang. Dan, tak mungkin ia menerima cinta lelaki lain sebab Zean belum menceraikannya. Oleh sebab itu ia meninggalkan Asraf disana tanpa sepatah kata pun.


Melihat itu, Asraf pun mengerti. Tak mungkin baginya juga memaksa Suzy. Sebab, bagaimana pun status Suzy yg istri sah orang lain. Yang tidak boleh diganggu apalagi dimiliki. Betapa bodoh dirinya mengucapkan kata-kata mesra itu untuk Suzy. Tanpa memperhitungkan tentang perasaan Suzy yg sebenarnya. Asraf pun berlalu pergi, ia berencana untuk menemui sang detektif di tempat yg telah ditentukan.


Sementara itu, Vlara yg menyaksikan semua kejadian itu berlangsung di depan matanya ia jadi sangat geram. Tidak disangka rencananya untuk mencelakai Suzy tidak berhasil. Padahal ia sudah menumpahkan sedikit minyak disana, namun usahanya benar-benar gagal total karena Asraf langsung menolong begitu ia tahu Suzy dalam bahaya.


FLASHBACK ON


Rasa dendam serta rasa cemburu juga iri hati membuat Vlara gelap mata. Ia bertekad menyingkirkan Suzy dengan cara licik. Secara diam-diam ia mengambil botol minyak goreng di dapur. Lalu, ia menumpahkan minyak goreng itu di anak tangga yg selalu di lewati oleh Suzy.


Suzy : "Selesai!" ucapnya dengan rasa gembira.


Suzy : "Kali ini, si perempuan hamil sialan itu bakalan MAMPUS!!!" Berani-beraninya dia merebut perhatian bude Irene dan kak Asraf. Lihat, aja akan aku kirim dia ke neraka!!! Hahaha......, uuuppsss aku harus segera pergi. Aku harus melihat-lihat keadaan." ucapnya sembari melihat ke kiri dan ke kanan.


Tatapan matanya melihat Suzy sedang berjalan ke arahnya. Tepatnya menuju anak tangga.Cepat-cepat Vlara naik ke lantai atas. Sampai di atas ia pun bersembunyi di antara tembok untuk melihat momen paling menyenangkan baginya. Yaitu melihat Suzy celaka bersama bayi yg ada di dalam kandungannya.


Sungguh jahat sekali Vlara. Hanya karena rasa cemburu dan iri hatinya ia sampai tega hendak mencelakai Suzy yg sedang dalam keadaan hamil 7 bulan. Vlara memperhatikan setiap langkah kaki Suzy dengan senyuman liciknya.


Vlara : "Ya, melangkahlah terus! Kali, ini ajal akan menjemputmu perempuan sialan!" ucap Vlara geram bercampur emosi.


Vlara menyaksikan detik-detik Suzy melangkahkan kakinya di atas anak tangga yg sudah ia beri minyak goreng tersebut. Dan, bertepatan dengan itu Asraf juga mau turun ke lantai bawah. Saat, itu ia melihat tubuh Suzy seakan mau jatuh. Suzy terpeleset. Dengan sigap, Asraf menangkap tubuh Suzy. Hingga Suzy dan calon bayinya selamat.


FLASHBACK OFF


Begitulah yg terjadi yg sebenarnya. Vlara gagal mencelakai Suzy. Ia malah adegan mesra antara Asraf dan Suzy yg membuatnya dibakar api cemburu demikian parah.


Vlara : "Kurang ajarr!" ucapnya sambil mengepalkan tangannya dan meninju dinding tembok tempatnya bersembunyi.


Vlara : "Beraninya dia bermesraan dengan kak Asraf. Dasar perempuan tidak tahu diri! Ia berani menggoda kakak! Oke, Suzy! Tidak jadi masalah! Kali ini aku memang gagal. Tapi, lain kali aku akan berhasil untuk melenyapkanmu!!!"


Vlara benar-benar sangat marah pada Suzy. Api kecemburuan dan dendam kesumat menguasai dirinya. Dan, dia benar-benar akan melenyapkan Suzy bagaimanapun caranya.


.


.


.


.


.


.


Coffee Shop Palace.


Coffe Shop Palace adalah tempat dimana para pecinta kopi berkumpul. Di tempat ini, banyak sekali pengunjungnya yg sedang menikmati kopi. Termasuk sang detektif yg sudah sampai duluan di tempat itu. Ia sedang menunggu Asraf yg sedang dalam perjalanan. Sambil menyesapi kopi yg tersaji di hadapannya. Sesekali ia melihat ke kiri dan ke kanan. Kalau-kalau saja Asraf sudah sampai disana.


Dan, memang benar tak lama Asraf pun muncul di sana. Detektif itu melambaikan tangannya.


Detektif : "Tuan Asraf!" teriaknya.


Asraf menoleh.


Detektif : "Disini!" teriaknya lagi.


Asraf segera berjalan menuju tempat dimana detektif itu duduk. Setelah, sampai di hadapan detektif tersebut. Asraf langsung menyalami tangan detektif itu lalu duduk di hadapannya.


Asraf : "Detektif, katakan padaku dimana alamatnya."


Detektif : "Sabar dulu, tuan Asraf? Pesan minuman dulu."


Asraf : "Tidak usah, detektif? Aku sudah minum tadi di rumah."


Detektif : "Baiklah, kalau begitu."


Asraf : "Jadi, katakan detektif? Dimana alamatnya!"


Detektif : "Ada, tuan Asraf? Tenang saja, besok saya akan mengantar tuan kesana."


Asraf : "Baiklah, jam berapa kita berangkat."


Detektif : "Kita berangkat malam saja, tuan? Jam tujuh malam saja. Biar kita cepat sampai di sana."


Asraf : "Oke. Kalau begitu saya pamit dulu, detektif?"


Detektif : "Silahkan, tuan?"


Asraf segera meninggalkan tempat itu. Ia kembali ke rumah. Dalam hati, ia merasa bersyukur. Ia akan segera menemukan saudaranya yg telah lama hilang.


"Aku sudah tak sabar lagi! Jesseline! Tunggu, kakak. Kakak akan datang menjemputmu. Kita akan bersama lagi seperti dulu." ucap hati Asraf.


Bersambung....


TWO HUSBAND


Profil Asraf


Asraf


Wajah Manis


Lembut dan perhatian


Visual