
Asraf dan Suzy serta detektif sudah tiba di depan rumah Ningsih. Mereka mengetuk pintu rumah wanita itu berulangkali. Sepi. Tidak ad jawaban. Mereka mengetuknya lagi. Kali ini ada suara yg terdengar dari dalam rumah tersebut.
Ningsih : "Ya, sebentar!"
Tak lama, pintu terbuka lebar. Tampak di hadapan mereka berdiri seorang wanita berusia 60 tahun sedang menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.
Ningsih : "Cari siapa, ya?" tanyanya.
Detektif : "Begini bu, saya Denis saya seorang detektif. Saya sedang mencari ibu Ningsih. Apakah ada?"
"Detektif?" ucap hatinya.
Ningsih : "Saya sendiri, saya Ningsih."
Asraf terkejut dan Asraf langsung bertanya tentang Jesseline pada Ningsih dengan mengguncang tubuhnya.
Asraf : "Ibu Ningsih, katakan dimana adikku berada?"
Ningsih : ???
Detektif menengahi.
Detektif : "Tuan Asraf, sabar! Jangan, tersulut emosi. Kita masih bisa bicara baik-baik dengannya. Tenanglah!"
Berbicara dengan Ningsih.
Detektif : "Bu, bolehkah kami masuk ke dalam? Kami ingin membicarakan hal ini baik-baik dengan ibu."
Ningsih terlihat kebingungan.
Ningsih : "Ah, iya. Boleh. Masuklah." ucapnya dengan nada bingung.
Asraf dan yg lainnya pun masuk ke dalam rumah itu. Mereka duduk di kursi kayu yg tersedia di ruang tamu tersebut. Detektif itu menjelaskan maksud kedatangan mereka ke rumah Ningsih. Betapa, kagetnya Ningsih ketika sang detektif menjelaskan maksud mereka semua. Awalnya, ia menolak untuk memberitahu dimana Jesseline berada. Tapi, ketika Asraf meminta maaf untuk kesalahan ibunya. Hati Ningsih melunak. Ia memberi tahu dimana keberadan Jesseline adiknya.
Sekaligus, ia juga memberitahukan bahwa kembaran Jesseline masih hidup. Ia mengaku bersalah sudah memisahkan ibu dan anak selama bertahun-tahun. Ketika, mereka mendengarnya mereka semua terkejut. Tapi, yg paling terkejut menerima kenyataan itu adalah Asraf. Ia tak menyangka jika ternyata kembaran Jesseline masih hidup. Ia tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak. Setelah, bertahun dilanda kesedihan. Akhirnya, hari ini ia baru merasa gembira.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Ningsih yg telah memberitahukan segalanya kepadanya. Asraf lega Suzy pun ikut lega. Ia sangat senang, akhirnya Asraf akan berkumpul lagi dengan kedua adiknya. Tapi, mereka masih harus mencari Jesseline dan Mikayla. Mencari Jesseline sangat mudah karena Ningsih sudah memberitahu dimana keberadaan Jesseline terakhir kali.
Sedangkan, untuk mencari Mikayla mereka harus mencari pasutri Robert dan Julia yg waktu itu membawa Mikayla pergi bersama mereka. Namun, untuk mencari pasangan pasutri itu tidak mudah karena Ningsih tidak tahu dimana alamat rumah mereka tinggal. Ningsih tidak sempat bertanya dimana mereka tinggal. Hal inilah yg akan menjadi kendala bagi Asraf dalam mencari dan menemukan Mikayla. Tapi, ia tidak akan putus asa. Ia akan mencari kedua adiknya sampai ketemu.
Asraf : "Kalau begitu, kami mohon diri bu Ningsih?"
Ningsih : "Iya, nak Asraf? Pulanglah. Nanti, jika saya mendapatkan kabar tentang Mikayla. Saya akan segera menghubungimu."
Asraf : "Baiklah, bu. Saya ucapkan terima kasih atas kesediaan ibu Ningsih untuk membantu saya dan keluarga saya."
Ningsih : "Ya, sama-sama nak Asraf. Saya juga, sekalian menebus semua kesalahan saya pada ibumu dan keluargamu. Tidak, seharusnya saya mengikuti dendam demi membalas kesalahan yg telah ayahmu lakukan."
Asraf mengangguk. Lalu, ia dan Suzy beserta detektif segera pergi dari sana. Asraf berharap dapat segera menemukan jejak Mikayla. Sedangkan, jejak Jesseline ia sudah menemukannya. Ningsih sudah memberikan alamat dimana ia meninggalkan Jesseline di depan pintu rumah salah seorang warga. Setelahnya, ia tak pernah kembali dan menghilang begitu saja.
Sementara, Asraf sedang sibuk mencari kedua saudara kembarnya. Di saat yg sama, Mitha sedang menumpang bus menuju daerah S. Ia sedang tertidur di salah satu tempat duduk penumpang. Dan, tepat di sebelahnya Zean juga sedang duduk di bangku penumpang. Mitha dan Zean duduk di satu bangku penumpang yg sama. Zean merasa risih dengan Mitha yg tidur dengan mendengkur dan wajahnya di tutupi topi hitam kesayangannya. Mitha memang tak suka cahaya terang yg menyilaukan matanya saat ia tidur. Jadi, ia menggunakan topi hitam kesayangannya sebagai penutup matanya.
Zean sungguh merasa kesal dengan keadaan itu. Andai saja ia tak butuh uang banyak. Pasti ia tak akan susah seperti ini. Ia menjual sepeda motornya untuk pergi ke daerah S. Menemui sang teman lama, yg dahulu pernah satu sekolah dengannya. Apesnya, ia malah duduk satu bangku dengan penumpang wanita yg gayanya mirip kaya cowo. Tomboy abis. Jika diperhatikan sekarang penampilan Mitha memang berbeda jauh jika dibandingkan dengan Lova.
Mitha terkesan lebih mirip tukang pukul wanita. Gayanya yg serampangan. Dan, sesuka hatinya benar-benar membuat Zean sangat kesal. Karena, tiba-tiba saja Mitha merubah posisi tidurnya. Ia tidur sambil berbalik memeluk lengan Zean. Zean kaget. Ia berusaha untuk melepas pelukan tangan Mitha yg merangkul lengannya sambil mengumpat.
Zean : "Ck..., wanita ini benar-benar menyebalkan. Sudah ia tidur mendengkur. Sungguh berisik sekali. Aku mau pindah tempat duduk saja." ucapnya kesal.
Zean lalu memanggil seorang kondektur. Ia meminta pindah tempat duduk.
Zean : "Pak, apakah masih ada tempat duduk kosong?"
Kondektur Bus : "Maaf, tuan. Tidak ada lagi bangku kosong."
Zean : "Oh, ya sudah."
Kondektur itu kemudian kembali ke tempatnya. Zean semakin bertambah kesal.
Zean : "Ck, sial. Perempuan ini juga. Heran dehh, emang dia pikir aku guling apa!" ucapnya kesal.
Akhirnya, mau tak mau Zean harus menjadi guling sementara bagi Mitha. Sedangkan, Mitha semakin tenggelam dalam mimpi indahnya. Mimpi bahwa ia akan bertemu dengan orang tua kandungnya sebentar lagi.
Bersambung.....
TWO HUSBAND