
Brenda pergi dengan raut wajah kesal. Ia sangat marah atas perlakuan kasar yg ia terima dari Mitha. Mitha sudah menamparnya dan menyiram wajahnya dengan air. Baginya, itu sungguh memalukan. Bisa-bisanya ia dipermalukan oleh Mitha seorang wanita dari kalangan biasa. Tidak sepertinya yg merupakan anak seorang Walikota ternama di daerah itu. Namun, hari ini ia mendapat penghinaan dari seorang wanita biasa seperti Mitha.
Itu berarti tamparan keras yg ia terima hari ini harus ia balas dua kali lipat. Ia menemui kekasihnya yg bekerja di perusahaan Standford Group. Sebenarnya ia tidak boleh masuk sebab kekasihnya itu sudah menyampaikan pesan bahwa ia sudah tidak mau lagi bermain wanita. Karena, ia sudah jatuh cinta dengan seseorang yg menurutnya sangat menarik perhatiannya.
Tapi, meskipun begitu Brenda tetap nekat untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut untuk mengadu. Brenda membuka pintu kasar saat ia tiba di depan ruang kerja pribadi Bara.
"Braakkk"
Bara dan asistennya yg berada dalam ruangan itu pun terkejut. Brenda langsung berlari menghampiri Bara dan Lee siap-siap menerima amukan dari bosnya itu.
Brenda : "Hu...hu...hu..., sayang?"
Brenda langsung memeluk Bara dan duduk di pangkuan Bara. Bara menatap tajam Lee seakan berkata...
"Apa ini, Lee!!!"
"Glek"
Lee menelan ludahnya, ketika ia melihat tatapan tajam mata Bara.
Bara : "Cewe? Apa, yg kamu lakukan disini? Kenapa, kau datang dengan kondisi baju kotor begini?"
Brenda : "Hu...hiks...sayang? Itu tadi ada kejadian memalukan di resto favorit kita."
Bara : "Kejadian memalukan?"
Brenda : "Iya"
Bara : "Cewe? Kejadian memalukan apa???"
Brenda : "Tadi ada seorang kakek tua dan wanita menyerangku serta mempermalukanku. Mereka bekerjasama membuat aku malu. Kakek tua itu menyuruh wanita itu menamparku dan menyiramku."
Bara : "Oh, ya? Kakek tua dan wanita?"
Brenda : "Iya, sayang kau harus membantuku. Mereka sudah membuatku malu juga sudah mengotori pakaian yg kau berikan."
"Wahh, dia mengkhawatirkan pakaian mahal yg kuberikan. Wanita ini benar-benar suka barang mahal , ya? Membosankan sekali. Ingin mendepaknya keluar dan jatuh dari pangkuanku. Menjijikkan!"
"Hu...hiks."
Brenda pura-pura menangis. Dan, di saat yg bersamaan. Jimmy dan Mitha sudah sampai di lobby perusahaan Standford. Beberapa, orang bodyguard mendekatinya. Tapi, ia memberi kode kepada para bodyguard itu untuk diam dan menjauh dari dirinya. Ia tidak ingin menunjukkan jati dirinya yg sebenarnya kepada Mitha.
"Perusahaan Standford? Perusahaan laki-laki itu yg waktu itu menolongku. Apakah, aku akan bertemu lagi dengannya?"
Mitha merasa penasaran sekaligus hatinya berdetak gembira. Ia merasakan getaran yg dahulu ia rasakan saat masih pacaran dengan Jhon. Tapi, ia harus menenangkan hatinya. Ia harus tetap mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia wanita bersuami. Ia tidak boleh memikirkan laki-laki lain selain suaminya. Tapi, pesona lelaki tampan nan sempurna seperti Bara cukup membuat dirinya tampak seperti orang gila.
Mitha : "Kakek? Apa, cucumu bekerja di sini?"
Jimmy : "Iya, kelinci kecil?"
Mitha : "Oh, kalau boleh tahu siapa namanya kakek?"
Jimmy : "Namanya, boneka kesayanganku."
Mitha : "Bukan itu kakek? Nama? Nama cucu kakek?"
Jimmy : "Oh, nama?"
Mitha mengangguk.
Jimmy : "Namanya? R A H A S I A"
Jimmy tertawa.
"Hahaha"
Jimmy : "Kelinci kecil, kau tidak perlu takut? Cucuku itu adalah tipe lelaki yg suka menyayangi wanita."
"Apa? Tipe laki-laki penyayang wanita."
Mitha bingung dengan kata-kata Jimmy. Kata-kata Jimmy seperti merujuk kepada seseorang. Namun, ia tidak peduli sekarang. Yg ia peduli adalah ia mengantar Jimmy bertemu dengan cucunya.
"Braakkk"
Semua yg ada di ruangan Bara terkejut, termasuk Mitha. Ternyata benar, apa yg ada dalam pikirannya tadi. Ia melihat seorang lelaki tampan sedang memangku seorang wanita di pangkuannya. Jimmy kaget melihat wanita yg ada di pangkuan Bara. Seketika, emosinya naik ke ubun-ubun. Ia berjalan cepat mendekati Bara sambil menangis.
"Hu...hu...hiks...hiks."
Jimmy : "Huwaaaaa, boneka kesayanganku...!!!"
Setelah, Jimmy berada di dekat Bara langsung saja ia mendorong Brenda dari pangkuan Bara. Brenda terjatuh dan ia mengaduh kesakitan.
Brenda : "Aduuhhh...."
Bara kaget melihat Jimmy mendorong jatuh Brenda sambil menangis sedih. Lebih kaget lagi ketika ia mendengar Jimmy berbisik mengncamnya.
"Boneka sempruulll, awas saja jika kau berani membela wanita siluman itu. Aku akan memasukkan biji popcorn ke dalam lubang hidungmu itu. Huh!"
Jimmy : "Hu...hiks...hiks...bonekaku yg lucu. Kau harus membela kakekmu ini."
Jimmy berteriak nyaring. Membuat semua yg ada di sana jadi heran sekaligus tertawa kecil. Tapi, tidak bagi Brenda karenanya ia terkejut saat ia tahu siapa kakek tua tadi yg telah ia dorong di restoran tadi. Brenda menyesal karena telah memperlakukan kasar orang nomor satu di keluarga Standford. Mitha juga terkejut. Ia baru tahu kalau Jimmy adalah kakeknya Bara.
Bara : "Kakek? Ada, apa ini? Kenapa, kakek menangis begini?"
Jimmy : "Hu..., bonekaku? Apa, kau tahu. Siluman itu dia sudah membuat pinggangku sakit?"
Jimmy menunjuk Brenda. Brenda kaget.
Brenda : "Apa! Bu...bukan begitu. Kakek? Mohon maafkan aku ya? Aku tidak tahu tadi kakek siapa. Kalau aku tahu aku tidak akan bersikap kasar kepada kakek."
Jimmy melipat tangan di dada dan mengerucutkan bibirnya.
Jimmy : "Huh"
Brenda mendekati Bara. Ia merayu Bara di depan semuanya.
Brenda : "Sayang? Percayalah padaku, aku tidak bermaksud begitu?"
Jimmy menarik Bara agar lepas dari Brenda yg memeluknya dan merayunya.
Jimmy : "Cih! Menjijikkan, jangan merayu boneka kesayanganku! Sana, pergi kau!!!"
Jimmy sangat marah pada Brenda karena secara terang-terangan menggoda dan merayu Bara di depan dirinya dan Mitha. Sungguh ia benci kepada tipe wanita yg suka menghalalkan segala cara hanya demi mendapatkan semua keinginannya. Jimmy tidak suka itu. Karena, itu sangat menganggunya.
Ia lebih suka wanita yg biasa saja seperti Mitha. Seorang wanita yg sanggup menghadapi sikap manjanya yg berlebihan seperti anak kecil. Seorang calon istri bagi Bara yg sanggup memberi Bara kasih sayang dan cinta yg tak berdasarkan materi dan kekuasaan. Seseorang yg memiliki kelembutan hati. Dan, dapat membedakan mana yg benar dan salah. Terlebih lagi, dia menyukai pribadi Mitha yg suka menyenangkan hati orang lain dan membela orang lain.
Brenda : "Tapi, kek?"
Jimmy : "Diam! Sana, pergi! Jangan, coba-coba kau merayu bonekaku lagi. Huh!"
Brenda : "Bara???"
Brenda meminta tolong pada Bara. Jimmy menatap tajam Bara yg mengartikan "Awas, saja kalau kau membelanya."
Bara : "Brenda! Apa, kau tidak dengar apa kata kakekku? Pergilah dari sini."
Brenda : "Sayang? Kau mengusirku?"
Bara : "Pergiiii...!!! Aku benci wanita penjilat sepertimu! Cepat pergi, atau ku tarik paksa kau keluar dari sini!"
Brenda : "Ba...baiklah!"
Brenda segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia menyesal karena ia sudah menyinggung orang nomor satu di keluarga Standford. Ia juga sudah menyesal sudah mendorong jatuh kakeknya Bara. Sekarang, ia tidak bisa memenangkan hati siapa pun lagi di keluarga Standford. Ia menyesal.
Sedangkan, Mitha yg menyaksikan semua pemandangan itu ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia diam saja. Setelah, kepergian Brenda dari sana barulah Bara tahu kalau ternyata ada wanita pujaannya disana yg sedari tadi hanya diam menonton semua yg terjadi disana. Dalam hati ia menyesal Mitha melihat semuanya. Bara menepuk jidatnya sendiri.
"Aduh! Malunya aku..."
Bersambung...
TWO HUSBAND Season 2