
Almia sangat kesal pada Bara. Ternyata, Bara memanggilnya hanya karena untuk menggunakan dirinya sebagai alat memanasi seorang wanita yg disukai Bara. Wajah cantik Almia tampak cemberut. Temannya, Amanda baru saja tiba di tempat itu. Dan, melihatnya dengan wajah yg cemberut.
Almia dan Amanda adalah sahabat dekat. Mereka janjian untuk bertemu di coffee shop tempat kesukaan Almia biasa hang out. Amanda menepuk punggung Almia kuat.
Amanda : "Woy...!"
Almia kaget.
Almia : "Amanda? Bikin kaget aja."
Amanda : "Hehe...manyun plus cembetut aja. Kenapa?"
Almia : "Huh! Aku kesel nih sama Bara."
Amanda : "Kenapa?"
Almia : "Tadi tuh, dia call aku buat datang ke resto."
Amanda : "Terus? Kamu datang kesana."
Almia : "Iya"
Amanda : "Lalu?"
Almia : "Lalu, aku bertemu sama dia di resto. Dia genggam tangan aku. Duh, pokonya mesra deh. Dia baik-baikin aku dan tersenyum mesra sama aku."
Amanda : "Hm?"
Almia : "Tapi, gak tahunya di buat gitu ke aku cuma buat manas-manasi cewe yg dia suka, Manda? Hu...Manda aku benci banget sama dia."
Amanda menghela nafas lelah.
Amanda : "Kan aku udah bilang ke kamu. Kalau si Bara itu cowo gak jelas. Pacarnya banyak. Ehh, kamunya gak mau denger apa yg aku bilang. Malah kamu heeh aja di ajak pacaran sama dia."
Almia : "Hu...hiks...Manda aku nyesel."
Amanda : "Udah jangan nangis. Daripada, kamu nangis mendingan kita shopping aja. Gimana?"
Almia menganggukkan kepalanya. Amanda segera mengajak Almia pergi dari coffee shop tersebut. Almia setuju mengikuti keinginan Amanda untuk shopping bersama.
Sementara Almia dan Amanda berbelanja bersama. Di sisi lain, Bara sangat bahagia dengan pernikahannya dengan Mitha. Bara membawa Mitha pulang ke mansionnya. Saat itu, kebetulan Jimmy di sana dan tak pergi kemana-mana. Ia kaget melihat cucunya pulang bersama Mitha. Tapi, kemudian ia tersenyum bahagia melihat Mitha.
Jimmy : "Oww...kelinci kecilku. Kau datang?"
Mitha : "Iya, kakek?"
Jimmy : "Wah, orang tua ini sangat senang sekali kau datang. Mari, duduk sini bersamaku. Ada banyak hal yg ingin aku ceritakan padamu."
Jimmy langsung menarik tangan Mitha, ia sengaja menepis tangan Bara. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Bara ketika melihat Mitha di sentuh lelaki lain. Benar saja dugaannya, Bara tampak tidak suka padahal ia adalah kakeknya sendiri.
Bara : "Kakek? Nanti saja ya bicaranya. Kami lelah, kami mau istirahat dulu di kamar."
Jimmy terkejut ketika ia mendengar kata-kata Bara barusan.
Jimmy : "Apa!!! What the hell are you! Hei, boneka semprull. Jangan, berani-beraninya kau membawa anak gadis orang ke kamarmu. Apa, kau ini sudah gila? Aku tidak pernah mengajarkanmu bersikap kurang ajar pada anak gadis orang!"
Mitha tersenyum saja melihat Jimmy yg mencoba menyelamatkannya dari Bara.
Mitha : "Kakek? Kakek tenang saja!"
Jimmy : "Tenang...tenang apanya. Kelinci kecil? Hu...hiks...bagaimana orang tua ini bisa tenang. Si iblis bonekaku ini mau memangsamu."
Jimmy pura-pura menangis.
"Hm? Mulai lagi deh, kakek. Sifat ngelesnya itu bener-bener deh."
Jimmy : "Huwaaa...., apa yg harus aku katakan nanti pada kedua orang tuamu? Orang tua ini gagal mendidik boneka kecil kesayangan mereka. Hu...hiks."
Jimmy berbisik di telinga Bara.
"Dasar, boneka semprull. Kau jangan coba-coba menyentuh kelinci kecilku sebelum menikah. Awas, saja kalau kau berani. Akan kuhajar kau pakai tongkat saktiku ini. Huh!"
Bara terkekeh geli mendengar kata-kata ancaman dari kakeknya. Lalu, ia pun berbisik juga di telinga Jimmy.
"Kakek, tenang saja? Kami sudah menikah."
Jimmy sangat terkejut mendengar bisikan tersebut.
Jimmy : "Uwaapaaa!!! Jadi, kaget orang tua ini. Benarkah? Kalian sudah menikah."
Mitha : "Benar kakek?"
Jimmy memeluk Mitha.
Jimmy : "Wahh, aku bahagia sekali kelinci kecil?"
Bara : "Kakek? Apa, kakek tidak ingin memelukku?"
Bara : "Kakek? Kami sengaja tidak membuat pesta untuk pernikahan ini. Kakek tahu kan, jika kami membuat pesta. Kami takut mantan-mantan pacarku itu nanti akan membuat ulah. Jadi, kami sepakat tidak mengadakan pestanya. Bukan, begitu sayang?"
Mitha : "Iya, benar sekali sayang. Kakek? Maaf sekali, kami benar-benar tidak bisa menyelenggarakan pestanya untuk saat ini. Kami mohon kakek mengerti."
Jimmy : "Ah, baik. Baiklah. Aku mengerti. Sudah, kalian naiklah beristirahat di atas saja. Ohh, orang tua ini benar-benar sangat bahagia sekali."
"Prok...prok...prok."
Jimmy bertepuk tangan sendiri. Dia sangat bahagia sekali. Dalam pikirannya ia ingin sekali Bara dan Mitha cepat-cepat memberinya seorang cicit. Tak lama, Bara dan Mitha naik ke atas ke kamar mereka. Jimmy pun ikut naik ke atas. Ia ingin menguping kegiatan malam pertama Bara dan Mitha. Jimmy tidak tahu bahwa Mitha sudah bersuamikan Jhon. Bara sengaja tidak memberitahunya dan tentang malam pertama Bara dengan Mitha juga ia tidak tahu. Kalau Baralah yg sudah mengambil kesucian Mitha tentu saja saat dibawah pengaruh obat yg diberi oleh Marco.
Kakek tua satu ini benar-benar rada aneh dan sedikit heboh. Sebab, dia selalu saja ingin tahu apa yg dilakukan oleh kedua pasangan berlainan jenis ini di dalam kamar pribadi mereka. Jimmy sudah sampai di depan pintu kamar pribadi Bara. Dia mendekatkan telinganya disana untuk menguping. Tapi, dia tidak mendengar suara apa pun dari dalam.
"Ah, tidak kedengaran. Apa, belum mulai ya? Hihihi....!"
Jimmy membatin, lalu ia pun mendekatkan telinganya lebih rapat lagi di pintu kamar Bara tersebut. Tingkahnya yang rada heboh, ketahuan oleh Lee yg sedang naik ke lantai atas yg ingin memberikan file milik Bara yg ketinggalan di dalam mobil. Lee terkejut bukan main melihat kakek nyentrik satu itu.
Lee : "Astoge, tuan besar!!!"
Jimmy terkejut melihat Lee memergokinya. Jimmy menyuruh Lee untuk diam.
Jimmy : "Sstt, diam!"
Lee : "Tuan Besar, apa yg anda lakukan disini?"
Jimmy : "Ssttt, bukan urusanmu! Boneka kecil sepertimu tidak usah ikut campur."
Lee : "Tapi, tuan besar ini kan tidak boleh. Masa anda menguping kegiatan percintaan tuan muda sih?"
Jimmy : "Huh! Kau menyebalkan! Kau menggangguku saja. Ya sudah, bagaimana kalau kau temani aku bermain saja."
Lee : "Bermain? Bermain apa, tuan besar? Bermain catur?"
Jimmy : "Catur? Permainan apa itu? Tidak seru."
Lee : "Jadi, tuan ingin bermain apa?"
Jimmy : "Ular tangga!"
Lee kaget ketika menyebutkan salah satu permainan anak-anak.
Lee : "Apa! Ular tangga?"
Jimmy : "Ya, Ular tangga. Apa kau takut? Kau hanya menemani orang tua ini bermain saja. Masa begitu saja kau sudah takut."
Lee : "Ti...tidak tuan besar? Saya tidak takut. Hanya saja bukankah itu permainan anak-anak?"
Jimmy : "Hehe..., Lee semprulll kau ini terlalu banyak bicara. Ayo, kau harus menemani orang tua ini."
Jimmy menarik tangan Lee langsung turun ke bawah. Jimmy menemukan orang yg asyik untuk ia ajak bermain permainan ular tangga yg sangat digemarinya itu.
Lee : "Tuan? Bolehkah, saya pulang. Istri dan anak saya sedang menunggu saya."
Jimmy : "Diam!!! Kau boleh pulang jika kau aku sudah kalah."
Lee : "Baiklah, tuan? Saya akan menemani, anda bermain."
Jimmy : "Bagus...bagus...! Oh, ya tunggu sebentar! Aku panggil Will."
Jimmy memanggil Will. Will datang dengan tergesa-gesa.
Will : "Ya, tuan? Ada apa, tuan besar memanggil saya."
Jimmy cengengesan. Will melihat papan permainan ular tangga di sana. Sekaligus ia juga melihat Lee disana. Will menarik nafas. Dalam hatinya berkata.
"Mampus kau Lee. Hari ini kau akan tamat. Tuan Besar sangat mengerikan jika ia sudah marah dan tersinggung. Pasti ia tidak akan melepaskanmu sampai esok hari."
Jimmy : "Will, tolong kau buatkan aku susu putih sebanyak 3 gelas. Hehe..."
Will : "Oh, baik tuan."
Lee jadi heran untuk apa Jimmy menyuruh Will menyiapkan susu putih sebanyak 3 gelas.
Lee : "Tuan? Untuk apa susu sebanyak 3 gelas itu?"
Jimmy : "Tentu saja, untuk hukuman bagi yg kalah."
Lee : "Apa!!!"
"Glek"
"*Tuan muda, tolonglah saya. Tuan besar ingin menyakiti saya. Hu...hiks..."
Bersambung*....
TWO HUSBAND Season 2