
Perusahaan Keluarga Leon....
Wajah tampan itu tampak gelisah. Masih tercetak jelas pertemuan keluarga kemarin malam. Ibu tirinya menginginkan seorang pewaris secepatnya. Jika, tidak maka ia akan menggantikan posisi Jhon dengan Jason Leon, putranya yg lain dari hasil pernikahan dengan ayah Jhon.
Jhon tak habis pikir mengapa, ibu tirinya demikian sibuk memikirkan seorang pewaris. Sementara, Jhon belum sembuh dari penyakit menyimpang yg ia derita. Heidi mengatakan itu adalah merupakan wasiat ayahnya juga yg harus dilaksanakan mau tidak mau. Memikirkannya saja sudah membuat Jhon naik darah.
Jhon : "Aarrrgghhh....! Sial...! Kenapa, begini."
Jhon mengobrak abrik meja kerjanya. Semua file jatuh berserakan di lantai.
Jhon : "Wanita sialan, itu sangat menyebalkan! Meminta seorang pewaris saja. Padahal aku tidak suka wanita! Aku harus bagaimana!!!"
Pikiran Jhon semakin ruwet saja. Namun, tiba-tiba terlintas dalam benaknya wajah Mitha yg cantik.
"Ah, Mitha! Tentu saja, Mitha. Dia harus hamil. Tapi, bukan dari benihku. Meminjam benih orang lain. Wanita itu sudah tidak suci lagi. Dia tidak akan menolak kan? Hehehe."
Jhon tertawa kecil. Timbul niat jahatnya pada diri Mitha. Ia akan menyuruh Mitha hamil dengan orang lain. Untuk menghasilkan seorang pewaris. Karena, ia tidak mungkin berhubungan dengan Mitha. Jadi, dia memakai cara licik untuk menggunakan Mitha sebagai alat agar ia tetap memegang perusahaan keluarga Leon.
Sungguh licik dan jahat sekali si Jhon ini. Sebagai, seorang suami ia bukannya melindungi Mitha. Malah, semakin menjerumuskan Mitha dan meminta Mitha untuk memenuhi segala keinginannya. Jhon lelaki egois, yg sangat kasar dan tak berperasaan. Sungguh tega ia menyakiti Mitha. Bahkan, berniat jahat pada Mitha.
Tidak butuh waktu lama bagi Jhon agar keinginannya terlaksana. Jhon tidak membicarakan hal tersebut dengan Mitha. Ia membawa Mitha ke suatu tempat yg tidak ia kenal. Mitha bertanya pada Jhon. Kemana, kira-kira Jhon akan membawanya.
Mitha : "Sayang? Kemana kamu akan membawaku pergi?"
Jhon : "Ke tempat yg indah yg pasti kamu suka."
Jhon sengaja berbicara dengan nada lembut pada Mitha. Agar Mitha tidak curiga padanya.
Mitha : "Tapi, sayang? Jalan ini, kan menuju ke tempat yg angker itu? Pabrik tua itu?"
Jhon : "Kamu tenang aja, sayang? Kan ada aku."
"Ck, wanita sialan ini. Kenapa, sih tanya melulu."
Jhon mengumpat Mitha karena kesal. Ia takut Mitha akan curiga dan menyadari niat busuknya. Sedangkan, Mitha ia semakin takut dan curiga dengan Jhon. Gerak gerik Jhon sungguh mencurigakan sekali. Dada Mitha bergemuruh, perasaannya tidak enak seperti mengatakan ia harus kabur.
Di perempatan jalan, mobil Jhon berhenti. Kesempatan itu digunakan Mitha untuk kabur. Ia membuka pintu mobil dan Mitha pun segera kabur. Jhon yg mengetahui hal itu, sangat terkejut. Ia berusaha mengejar Mitha yg kabur. Sementara, itu Mitha sedang berusaha meminta tolong dengan memberhentikan mobil yg lewat. Tapi, sayang tidak ada satu pun mobil yg mau berhenti dan memberinya pertolongan.
Mitha panik. Sementara, itu Jhon semakin mendekat ke arahnya. Untung saja, tiba-tiba ada mobil yg berhenti di depan Mitha. Si empunya mobil membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mitha masuk. Tanpa berpikir lagi Mitha langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
Jhon : "Mitha...! Tunggu Mitha...! Kau mau kemana. Arrrghhh......!!! Dasar, perempuan sialan!!!"
Jhon berteriak memanggil Mitha. Tapi, mobil yg membawa Mitha itu terus saja meluncur. Tak memperdulikan Jhon yg berteriak sampai suaranya serak.
"Fyuuhhh..."
Mitha bersyukur. Mitha mengucapkan terima kasih kepada orang yg sudah menolongnya. Dia adalah Bara Standford yg kebetulan lewat disana.
Mitha : "Um? Terima kasih, sudah menyelamatkan saya."
Bara menoleh dan tersenyum.
Bara : "Sama-sama, nona? Oh, ya? Tadi itu siapa ya yg mengejar nona?"
Mitha : "Oh, itu. Itu suamiku."
"Deg"
"Apa! Suami? Ternyata, dia sudah menikah. Tapi, malam itu...dia...masih perawan. Jadi, bingung."
Bara menjadi kesal sekaligus bingung. Ia pun jadi kepo. Ia mencoba bertanya pada Mitha perihal apa yg terjadi hingga membuat Mitha dikejar-kejar oleh lelaki yg diakui suami oleh Mitha.
Bara : "Suami? Lalu, mengapa dia mengejarmu."
Mitha : "Itu, aku juga tidak tahu."
Bara : ???
"Apa? Dia tidak tahu? Sepertinya, dia tidak mudah terbuka pada orang yg baru dikenal."
Bara mengambil kesimpulan atas kata-kata Mitha tadi. Bahwa, ia tidak mau menceritakan hal yg terjadi pada dirinya pada orang yg baru dikenal.
Bara : "Oh, kita belum berkenalan. Namaku, Bara. Bara Standford. Siapa, namamu?"
"Bara Standford? Sepertinya, aku pernah dengar. Bukankah, itu nama si playboy yg disebut oleh ibu. Orang nomor satu itu?"
Mitha mengeryit dan membatin.
Bara : "Hey, cewe? Kenapa, diam?"
"Hah? Cewe? Apa, itu cara dia merayu wanita?"
Mitha : "Eh, maaf. Namaku Mitha. Tapi, nama asliku Mikayla."
Bara tersenyum.
"Heh! Dia jujur sekali. Dia pasti wanita yg baik. Dia cocok jadi nyonya Standford. Aku sudah punya pilihan. Aku tidak peduli, jika dia sudah punya suami. Lagipula dia adalah wanita milikku!"
Bara sangat bahagia sekali. Ia yakin ia sudah menemukan wanita yg cocok untuk jadi istrinya. Ia sudah menetapkan pilihan hatinya pada Mitha. Bara jatuh cinta pada Mitha. Dan, ia akan mewujudkan keinginan hatinya itu. Meski, ia harus berhadapan dengan suami Mitha tersebut.
Bara : "Nama yg bagus sekali. Aku suka."
Mitha : "Apa?"
Bara : "Cewe? Aku bilang namamu bagus. Dan, aku menyukainya."
Mitha : "Oh."
Wajah Mitha jadi merah karena rayuan gombal Bara. Bara melihatnya.
"Wah, baru kubilang begitu. Wajahnya sudah merah. Wanita ini luar biasa. Luar biasa membuatku sakit jantung karena deg-degan melihat rona wajahnya yg merah itu."
Bara tersenyum menatap Mitha. Mitha tidak sanggup membalas tatapan itu. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Karena, ia merasakan debaran pada jantungnya semakin cepat plus darahnya jadi berdesir ketika Bara terus menerus tersenyum sambil menatapnya.
"Sadar Mitha. Kau wanita bersuami. Jangan, sampai tergoda olehnya."
Hati Mitha mengingatkan akan statusnya sebagai wanita bersuami. Meski, Jhon seorang lelaki yg kasar tapi Jhon adalah suaminya. Dan, Mitha tidak bisa menyangkalnya.
Bersambung...
TWO HUSBAND Season 2