TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two husband S2-24



Bara tidak menggubris kata-kata nasehat yg diucapkan Lee. Padahal, nasehat itu benar adanya. Jika, menuruti emosi maka yg ada hanya diri sendirilah yg benar. Padahal, pihak yg salah belum tentu sepenuhnya salah. Bisa saja pihak yg salah itu hanya terpaksa melakukan hal tersebut. Dan, Bara tidak mau mendengarkannya. Ia merasa dirinyalah yg benar. Dan, Mitha yg salah. Duhh, laki-laki sekarang benar-benar egois.


**Two Husband S2 Eps 24**


Jason baru kembali ke rumah. Ia mengamuk sejadi-jadinya. Ia menghancurkan semuanya. Heidi yg mendengar suara amukannya jadi datang ke arah suara keributan yg ditimbulkan oleh Jason. Ia menghampirinya.


Heidi : "Anakku, Jason! Ada apa denganmu. Kenapa, kau membuat rumah ini jadi kacau?"


Jason : "Ibu, Mitha menolakku. Dia menolak lamaranku. Katanya, dia sudah menikah ibu. Hu...anakmu jadi kacau ibu."


Heidi menarik nafas.


Heidi : "Sini, kemarilah Jason."


Heidi memanggil Jason untuk mendekat. Jason datang dan mendekati ibunya. Heidi memeluk Jason erat.


Heidi : "Ibu, kan sudah bilang padamu. Tapi, kau tidak mau dengar. Sudahlah, nak. Lupakan dia."


Jason : "Tidak, bu. Mitha harus jadi milikku."


Heidi : "Dia sudah menikah lagi. Sudah punya suami. Untuk apa kamu terus menginginkannya."


Jason : "Aku tidak peduli, bu. Pokonya aku mau dia."


Heidi : "Jason! Masih banyak wanita di luar sana. Jika, Mitha tak bisa kau miliki. Maka, carilah penggantinya. Jangan, buat ibu repot. Ingat! Meskipun, sekarang Jhon sudah mati. Mitha tetaplah kakak iparmu. Jadi, jangan bermimpi."


Heidi pergi meninggalkan Jason. Hati Jason seakan penuh sesak dengan nasibnya sendiri. Berharap terlalu tinggi dan menginginkan lebih. Namun, ternyata ia tetap tidak bisa menggapainya. Ia menderita. Memang, ia memiliki banyak harta tapi itu pun merampasnya dengan darahnya kakak tirinya sendiri. Ia menginginkan Mitha tapi tetap ia tak bisa mendapatkannya. Memang sial betul nasibnya Jason. Sungguh, ia bagaikan pungguk yg merindukan bulan.


.


.


.


.


.


.


China, Beijing.


Fang Yi datang ke rumah Tian Cheng untuk menemui Zhang Jie Luo. Tapi, ternyata Fang Yi tak menemukan Zhang Jie Luo. Ia bertanya pada Tian Cheng. Tian Cheng gelagapan menjawab pertanyaan Fang Yi. Ia tidak bisa bilang bahwa mereka habis bertengkar tadi malam. Dan, sekarang tidak diketahui dimana Zhang Jie Luo berada. Tadi malam ia pergi dengan membawa mobil Tian Cheng.


Tian Cheng : "Aku tidak tahu, Fang Yi. Tadi aku masih tertidur. Setelah aku bangun, aku tidak menemukan dia."


Fang Yi : "Kakak Tian, kira-kira kemana kakak Zhang pergi?"


Tian Cheng : "Adik Fang. Kau bertanya padaku? Aku saja tidak tahu kemana dia pergi."


Fang Yi : "Ya sudahlah, kalau begitu aku pulang dulu."


Tian Cheng : "Ya"


"Malang sekali nasibmu adik Fang. Kau mencintai seseorang yg sebenarnya tidak menaruh hati padamu. Kau tidak tahu siapa dia. Kau hanya beberapa kali bertemu dengannya. Dan, kau sudah mencintainya sedemikian rupa. Hah😥"


Tian Cheng mengambil ponsel di saku celananya. Ia mau menghubungi Zhang Jie Luo yg saat ini sedang berada dalam pelukan seorang wanita cantik Eva Yang. Tak lama, suara berisik dari ponsel Zhang Jie Luo mengganggu tidur nyenyak Eva. Ia terbangun dan mengambil ponsel yg menjadi biang keladi dari kebisingan yg tadi sempat mengganggunya.


Eva Yang membangunkan Zhang Jie Luo karena ponselnya yg berdering nyaring sedari tadi.


Eva Yang : "Bos tampan? Bos ponselmu bunyi nih."


Zhang Jie Luo terbangun dan mengucek matanya.


Zhang Jie Luo : "Emh? Siapa yg telepon?"


Eva Yang : "Tian Cheng."


Zhang Jie Luo : "Oh, matiin aja callnya. Aku gak mau pulang. Aku masih mau sama kamu, cantik?"


Eva Yang : "Ihhh..., bos tampan. Eva sih mau aja. Tapi, bayarnya dobel ya?"


Zhang Jie Luo : "Iya, cantik. Yuk, sekali lagi."


Eva Yang tersenyum manis. Ia menuruti perintah Zhang Jie Luo yg masih bersemangat karena efek pertama kali merasakan wanita. Namun, tak berapa lama ponselnya berbunyi lagi.


Zhang Jie Luo : "Ck, telepon sialan! Menyebalkan."


Mau tak mau ia harus mengangkat telepon daei Tian Cheng tersebut. Di seberang sana terdengar suara Tian Cheng.


Zhang Jie Luo : "Halo."


Tian Cheng : "Zhang-Zhang, sialan. Dari tadi aku meneleponmu tidak kau angkat. Kau dimana sekarang."


Zhang Jie Luo : "Hotel."


Zhang Jie Luo : "Ya, sama cewe lah. Masa sama cowo?"


Tian Cheng : "Heh! Aku kira kau masih doyan sama laki-laki."


Zhang Jie Luo : "Apa kau pikir aku masih sama seperti dulu? Aku sudah berubah sekarang."


Tian Cheng : "Baguslah, kalau begitu. Sepertinya, kau tidak perlu check up."


Zhang Jie Luo : "Ya, batalkan saja check upnya."


Tian Cheng : "Oke, segeralah kembali. Jika urusanmu disana sudah selesai. Kita harus segera siap-siap pergi ke Macau."


Zhang Jie Luo : "Oke, tapi selesai aku sarapan dengan wanita ini. Aku akan segera kembali."


Tian Cheng : "Baiklah."


"Tut"


"*Akhirnya, Zhang-Zhang si mantan G*y sudah kembali ke kodratnya*."


Tian Cheng tersenyum. Zhang Jie Luo sang lelaki yg tidak jadi ia bunuh malah, ia selamatkan sudah kembali ke kodratnya semula. Akhirnya, usahanya berhasil. Tak sia-sia ia menolong lelaki yg notabenenya dulunya adalah seorang pengidap penyakit menyimpang.


Sekarang rencana berikutnya adalah Macau. Dia berjanji akan membantu Zhang Jie Luo mendapatkan kembali apa yg seharusnya menjadi miliknya. Dan, sekarang ia sedang menunggu Zhang Jie Luo kembali dari hotel. Karena, saat ini Zhang Jie Luo sedang menikmati 'santapan' paginya bersama seorang wanita malam Eva Yang.


Disaat Tian Cheng sedang sibuk membantu Zhang Jie Luo. Untuk mendapatkan kembali apa yg menjadi miliknya. Lain halnya dengan Asraf. Saat ini Asraf sedang mengantarkan ibunya belanja di pasar. Asraf menunggu di dekat parkiran. Secara tak sengaja ia bertemu kembali dengan wanita yg kemarin itu hampir ia tabrak dan ia antar pulang. Saat itu wanita itu sedang bersama kakaknya Brian sedang berbelanja kebutuhan dapur bersama. Asraf menyapanya.


Asraf : "Amanda?"


Amanda : "Asraf? Kau disini."


Asraf : "Iya, kau sedang berbelanja juga. Dia siapa?"


Asraf bertanya perihal lelaki yg bersama dengan Amanda.


Amanda : "Iya. Oh, dia kenalkan dia kakakku. Brian."


Amanda memperkenalkan Asraf kepada Brian, kakaknya. Mereka berjabat tangan. Brian menatap Asraf dari atas sampai bawah. Tatapan mata itu begitu intens. Brian sampai berkata dalam hati.


"Wah, dia manis juga. Badannya juga oke. Pasti dia juga kuat dalam permainan panas. Aku kagum sama cowo ini. Tapi, tunggu dulu. Apakah, dia pacar adikku?"


Asraf : "Oh, kakaknya Amanda ya? Kenalkan, aku Asraf temannya Amanda."


"Oh, temannya Manda. Bagus sekali."


Brian : "Iya, aku Brian kakaknya Amanda. Hei, sister kau tidak bilang kalau kau punya teman lelaki semanis ini."


Amanda : "Maaf, kak. Soalnya, aku juga baru mengenalnya."


Brian : "Oh, ya? Kapan?"


Amanda : "Kakak ingat waktu aku pulang telat."


Brian : "Ah, yang waktu itu."


Amanda : "Iya, yg waktu pulang telat. Dia hampir menabrakku. Terus, karena sudah malam dia mengantarku pulang."


Brian : "Oh, jadi dia yg mengantarmu?"


Amanda : "Iya, kak."


Brian : "Terima kasih, waktu itu kau sudah mengantarkan adikku pulang. Lain kali, mainlah ke rumah kami. Dengan senang hati, kami akan menjamumu dengan baik."


"Yah, menjamu dengan baik alias menjeratmu dalam pesonaku yg tak terkalahkan ini. Hehehe...!"


Asraf : "Terima kasih atas undanganmu, nanti kalau aku datang aku akan beri kabar."


Brian : "Baiklah. Manda, ayo bukankah kau masih ingin berbelanja?"


Amanda : "Ah, iya. Asraf, maaf ya aku mau belanja dulu."


Asraf : "Ah, tidak apa-apa. Pergilah."


Amanda : "Um? Permisi. Ayo kak."


Brian : "Ayo"


Tatapan mata Brian masih tak lepas menatap wajah manis Asraf. Sungguh ia punya minat terhadap laki-laki ini. Sedangkan, Asraf ia merasa aneh dengan kakaknya Amanda. Selalu menatapnya dengan intens seperti ingin menerkam dirinya. Asraf sampai merinding tingkat dewa merasakannya.


Bersambung...


TWO HUSBAND Season 2