TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-18



Senja hari...


Mitha berdiri di dekat jendela kamarnya. Tatapan matanya jauh menerawang entah kemana. Entah apa yg sedang dipikirkannya. Rambut hitamnya tergerai bergerak-gerak ditiup angin. Wajahnya terlihat sendu dan ada rasa sedih di air mukanya. Dan, pemandangan tersebut sangat mengusik hati Bara. Ia menghampirinya dan memeluknya erat.


Bara : "Apa, yg sedang kau pikirkan? Mengapa, kau terlihat sedih?"


Mitha terkesiap, tiba-tiba saja Bara masuk dan memeluknya.


Mitha : "Tidak? Aku tidak sedih kok?"


Bara : "Sayang? Kau tidak perlu bersikap begitu. Seolah-olah, aku tidak tahu apa pun tentang dirimu."


Mitha terdiam.


Bara : "Katakan padaku. Semua keluh kesahmu. Dan, biarkan aku membantumu."


Mitha berbalik badan. Kini mereka berhadapan.


Mitha : "Apakah, jika aku mengatakannya tidakkah itu akan membuatmu terluka."


Bara : "Apakah, itu tentang dia?"


Mitha mengangguk. Bara tersenyum kecut. Ada rasa cemburu di hatinya. Namun, ia mencoba untuk bersikap bijaksana.


Bara : "Itu sudah resiko. Karena, aku mengambil miliknya. Wajar saja jika kau memikirkannya, bukan? Meski, dia sudah tiada."


Mitha menaruh kedua telapak tangannya di kedua pipi Bara. Menatap matanya lalu berkata...


"Maafkan aku yg tak bisa mencintaimu sepenuhnya. Sesungguhnya, kalian berdua adalah suami yg paling aku sayang. Hanya saja aku merasa semua ini tidak adil baginya. Aku hanya berpikir seandainya dia bisa berubah tentu itu akan lebih baik bagi dirinya, bukan? Dan, kau juga lelaki yg paling aku cinta. Mana mungkin aku juga tak memikirkanmu dan pernikahan kita. Meski hanya pernikahan sebatas kontrak. Aku merasa senang bisa berada di sisimu. Aku senang bisa bersamamu dalam suka maupun duka. I Love You, my husband."


Seketika Bara menarik Mitha erat dalam pelukannya. Airmatanya menetes. Sungguh ia terharu mendengar kata-kata Mitha.


"Dan, aku akan berusaha menjadi suami yg baik. Seorang suami yg bisa diandalkan dalam keadaan apa pun. Berusaha mewujudkan keinginanmu yg tak pernah bisa ia wujudkan. Aku akan menggantikan dia yg tak bisa memberimu rasa aman. Yang kerap menyakitimu dan tak memedulikan perasaanmu. Sayang? Aku juga mencintaimu, my wife?"


(Author sedih 😭😭😭)


Mereka berpelukan demikian eratnya. Seakan tidak ingin terpisahkan lagi untuk selamanya. Senja itu menjadi saksi akan ketulusan cinta yg terjalin antara Mitha dan Bara. Sebuah ketulusan yg terikat dalam hubungan erat suami dan istri. Yang, mengesampingkan ego akan rasa cemburu dan mengubahnya menjadi rasa sayang di antara mereka.


Memang mengarungi biduk rumah tangga tidaklah mudah. Apalagi jika kau memiliki dua suami. Dan, kau mengalami dilema karenanya. Yang mana kau harus menghadapi dua suamimu yg memiiki hak penuh atas dirimu. Untuk selalu bersamamu tanpa ada orang ketiga. Untuk selalu mencintaimu tanpa rasa curiga akan hadirnya cinta yg lain dalam rumah tangga yg kau jalani bersamanya. Intinya, menjalani kehidupan poliandri itu tidaklah mudah. Apalagi, poliandri itu sangat dilarang. Namun, pada kenyatannya poliandri itu ada dalam kehidupan bermasyarakat kita dan tak pernah terekspos oleh media.


.


.


.


.


.


.


Kita tinggalkan dulu kisah Mitha dan Bara. Kita beralih pada kehidupan lain yg sangat bahagia serta harmonis antara Zean dan Suzy. Yang sudah dikaruniai satu anak perempuan. Dan, sebentar lagi kebahagiaan mereka akan bertambah dengan hadirnya satu momongan yg akan segera lahir.


Yah, Suzy sedang mengandung 9 bulan. Sebentar lagi calon bayi keduanya ini akan lahir ke dunia fana ini. Suzy dan Zean sangat bahagia sekali. Apalagi, kehidupan ekonomi mereka juga sudah membaik. Zean mempunyai satu toko yg menjual sembako dan juga kebutuhan lainnya. Suzy sering membantunya berjualan. Meski sedang hamil besar, Suzy tidak pernah malas untuk bekerja membantu Zean.


Zean : "Sayang? Kamu terlihat lelah. Istirahatlah dahulu."


Suzy : "Em? Aku tidak apa-apa, kok?"


Zean : "Iya, kamunya gak apa-apa. Tapi, kasian kan si dede kecil kita."


Zean mengelus perut Suzy lembut.


Suzy : "Iya...iya...bawel. Huh!"


Suzy : "Huuuu...."


Suzy mengerucutkan bibirnya. Zean hanya tertawa saja melihatnya.


Zean : "Haha..., sudah kamu lihat aja Laura di dalam. Lagi, ngapain dia sama bibi pengasuh."


Suzy : "Baiklah, sayang?"


Suzy segera masuk ke dalam rumah. Memang toko milik mereka bersatu dengan rumah mereka. Suzy dan Zean sepakat membuka toko sembako dekat dengan rumah mereka. Sembari mereka menyaksikan pertumbuhan Laura secara langsung di hadapan mereka. Meski Suzy dan Zean menyewa seorang pengasuh untuk merawat Laura putri pertama mereka. Tapi, mereka juga tak ingin ketinggalan melihat perkembangan Laura yg kini sudah mencapai 2,5 tahun itu.


Suzy dan Zean saling bahu membahu demi keharmonisan rumah tangga mereka. Mereka tak ingin bertengkar hanya karena masalah sepele saja. Mereka berusaha meski pun nanti ada pertengkaran. Mereka akan berusaha untuk meredamnya. Karena, pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa. Itu adalah bumbunya dalam rumah tangga. Akan sangat heran bila dalam rumah tangga tidak ada pertengkaran sedikit pun.


Sementara, Suzy dan Zean sedang menjalani harmonisnya rumah tangga. Lain halnya dengan Jimmy si kakek nyentrik dan jadul ini. Hari ini ia keluar rumah lagi karena bosan. Sebab, di rumah pun tidak ada siapa pun. Bara dan Mitha sedang asyik dengan masa kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami dan istri. Ia sebagai orang tua harus maklum dengan keadaan itu. Jadi, ia keluar rumah sendirian. Tanpa ditemani seorang pun bodyguard.


Si kakek nyentrik bin jadul ini, hanya berjalan-jalan saja di sekitar mall. Ia cuci mata sendirian. Sambil sesekali ia bergumam "Aduh malangnya nasib orang tua ini. Selalu saja disisihkan seperti kain lapuk saja." Hufft...!"


Ketika ia sedang bergumam sendiri tanpa sadar ia menjatuhkan sapu tangan miliknya. Tiba-tiba ada yg menepuk bahunya dari belakang. Ternyata, yang menepuk bahunya adalah Lova kembaran Mitha. Jimmy sedikit kaget ketika ada orang yg menepuk bahunya.


Lova tersenyum manis padanya. Jimmy sangat kaget sekaligus senang. Tapi, ia heran mengapa Lova yg ia kira Mitha menggendong seorang anak kecil bersamanya.


Lova : "Kakek? Ini sapu tangan anda terjatuh."


Jimmy : "Ohh, kelinci kecilku? Kau disini? Lalu, siapa anak kecil ini?"


Lova : ???


Jimmy : "Hehe, kelinci kecil. Terima kasih, kau menemukan sapu tangan orang tua ini."


Lova : "Sama-sama, kakek?"


Jimmy : "Oh, ya kelinci kecil? Itu anak siapa yg kau gendong?"


Lova : "Ini anak saya, kakek? Namaya Zidan."


Jimmy terkejut.


"What The Hell! Anak katanya? Bara, boneka semprull sialan. Ternyata ia sudah punya anak dengan kelinci kecilku. Huuh...aku jadi marah sekaligus emosi. Kenapa dia tidak memberitahuku?"


Jimmy sangat kesal. Ia mengira anak Lova adalah anak Mitha bersama Bara. Padahal, bukan. Zidan adalah anak Sean dan Lova. Bayi tampan berusia setahun lebih itu memang sangat menggemaskan. Membuat Jimmy jadi ingin menggendongnya.


Jimmy : "Kelinci kecil? Siapa nama, beruang kecilku ini?"


"Beruang kecil?"


Lova : "Ah, namanya Zidan kakek?"


Jimmy : "Zidan? Nama yg bagus. Hohoho...orang tua ini sangat senang. Dia tampan seperti boneka kesayanganku. Bolehkah, aku menggendongnya?"


Lova : "Oh, boleh saja kakek. Nah, silahkan kakek gendong?"


Jimmy : "Sini-sini, oh beruang kecilku. Kau sangat imut sekali. Orang tua ini sangat menyukaimu. Hehe..., ingat! Kau jangan ngompol ya? Maaf, saja orang tua ini tidak membawa pakaian ganti dari rumah."


Lova : "Kakek, tenang saja. Zidan tidak akan mengompol. Dia sudah aku pakaikan pampers."


Jimmy : "Wah...wah...Mitha kelinci kecilku. Kau memang perhatian dengan cucuku."


Lova : ???


Bersambung...


Two Husband Season 2