TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-44



Kinanti tersenyum dan Mitha mengetik nomor ponsel Asraf lalu meneleponnya. Tak lama terdengar suara Asraf dari sana.


Asraf : "Halo? Siapa ini?"


Mitha : "Adikmu, Mikayla."


"Deg!"


Terdengar suara berat dan tak percaya dari seberang sana.


Asraf : "Jangan mengada-ada kamu. Adikku, Mikayla dia sudah meninggal dan sudah lama dimakamkan. Kamu jangan sembarangan bicara!"


Mitha memandang Kinanti karena Asraf tidak mempercayai dirinya masih hidup.


Mitha : "Aku tidak bohong. Aku masih hidup. Nama pemberian orang tua yg mengasuhku adalah Mitha. Dan, nama pemberian orang tua kandungku adalah Mikayla. Kalau kamu tidak percaya, ayo bertemu!"


Asraf : "Apa??? Tidak mungkin. Kamu jangan bercanda!"


Mitha : "Bercanda? Aku tidak bercanda. Mari bertemu."


Asraf terdiam sejenak di seberang sana.


Asraf : "Baiklah. Katakan, dimana kita akan bertemu."


Mitha : "Saat ini aku sedang berada di daerah S. Bagaimana, jika kau....eh...maaf....kakak datang ke sini saja."


Asraf : "Baiklah, aku akan datang kesana. Katakan saja dimana alamatnya."


Mitha : "Nanti, alamatnya aku kirim via sms. Oke?"


Asraf : "Oke!"


Mitha : "Bye."


"Tut"


Kinanti : "Bagaimana?"


Mitha : "Yes, berhasil! Ia mau bertemu denganku." ucap Mitha sambil mengetik alamat rumah Kinanti dan mengirimnya via sms.


Kinanti : "Bagus! Jadi, kapan dia akan datang."


Mitha : "Aku tidak tahu."


Kinanti : "Lohh, kok tidak tahu?"


Mitha : "Jangan khawatir! Dia pasti akan datang kok! Tenang aja."


Kinanti : "Ya sudah, aku ada acara makan malam dengan Bagas! Apa, kau mau ikut?"


Mitha : "Tidak! Kau pergi berdua saja dengannya. Aku lelah sekali, mau istirahat."


Kinanti : "Oke, kalau begitu. Kalau kau lapar, makanan sudah ada di meja. Kau tinggal makan saja."


Mitha : "Terima kasih, Kinanti!"


Kinanti : "Sama-sama!"


Kinanti segera berlalu dari sana. Ia akan pergi dengan Bagas, calon suaminya. Sedang Mitha, ia kelelahan setelah mengalami perjalanan jauh tadi. Ia pergi mandi lalu makan setelahnya ia akan beristirahat.


Sementara itu di kediaman Irene....


Asraf tampak terdiam setelah ia menerima telepon dari orang yg mengaku adiknya, Mikayla. Sungguh ia tak habis pikir dengan semua kejadian itu. Menurutnya tidak mungkin adiknya yg sudah mati itu hidup kembali. Tapi, hati kecilnya berkata bahwa itu mungkin saja Mikayla. Dia masih hidup.


Asraf masih memandangi alamat yg baru saja masuk ke ponselnya. Itu adalah alamat yg dikirimkan oleh orang itu juga. Asraf bimbang dan ragu. Namun, akhirnya ia pun mengambil keputusan.


"Ck, terserahlah. Lihat saja dulu. Mungkin itu benar, Mikayla masih hidup! Ibu pasti senang dengan berita ini. Nanti saja, aku beritahu ibu. Sekarang, sebaiknya aku pastikan saja dulu. Dia benar Mikayla atau tidak!" ucap hatinya.


Ia tak mau berlarut-larut dalam pencarian adiknya yg hilang karena ulah Ningsih yg dendam dan sakit hati. Yang telah menculik adiknya yg masih bayi pada saat itu hanya demi memuaskan rasa dendamnya yg tak terhingga pada ibunya, Irene. Asraf ingin secepatnya menemukan adiknya dan berkumpul bersama kembali selamanya dan tak terpisahkan lagi.


"Semoga saja, aku bisa segera menemukanmu adikku?" ucapnya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain setelah Bagas kembali ke rumah....


Bagas dan Zean sedang berbincang berdua di taman. Zean mengutarakan niatnya untuk pindah dari rumah Bagas dan mencari kos-kosan. Zean tidak ingin bergantung pada Bagas dan ibunya. Ia ingin mandiri. Untuk itu, ia akan tinggal di rumah kos sekalian mencoba mencari pekerjaan.


Bagas : "Apa keinginanmu itu sudah kau pikirkan?"


Zean : "Sudah, Bagas?"


Bagas menarik nafas lelah.


Bagas : "Sebenarnya aku sangat senang kau tinggal di sini. Selain sebagai teman ngobrol dan bertukar pikiran. Kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, Zean?"


Zean : "Terima kasih, atas kebaikanmu selama ini padaku Bagas! Aku juga begitu. Aku juga sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri."


Bagas : "Untuk itu, bisakah kau tinggal disini saja? Bersamaku dan ibuku?"


Zean : "Sebenarnya aku ingin, tinggal disini lebih lama lagi. Akan tetapi, aku benar-benar ingin mandiri dan mencari pekerjaan baru. Aku ingin menata kembali hidupku."


Bagas : "Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Semoga kau berhasil."


Zean : "Terima kasih, Bagas."


Bagas : "Ya, sama-sama! Emm? Kapan, rencananya kamu akan pergi?"


Zean : "Besok!"


Bagas mengangguk dan menepuk-nepuk punggung Zean.


Bagas : "Kalau begitu, temani aku bermain game malam ini."


Zean : "Ciyuss? Kau mengajakku bermain game? Ayolah, Bagas. Kau sering kukalahkan. Apa kau tidak takut kukalahkan lagi?"


Bagas : "Diamlah, Zean. Jangan, anggap remeh diriku. Aku pasti akan berusaha dan mengalahkanmu!"


Zean tertawa lebar.


"Hahaha."


Zean : "Baiklah, ayo. Kau terlihat semangat sekali."


Lalu, Zean dan Bagas masuk ke dalam rumah. Mereka bermain game sampai malam. Lalu, akhirnya mereka tertidur karena kelelahan. Dengan posisi tv masih menyala. Ibu Bagas terbangun di tengah malam dan melihat mereka berdua sedang terlelap. Ia tersenyum melihatnya. Ia juga melihat tv yg masih menyala tersebut lalu mematikannya.


"Dasar, anak muda!" gumamnya sambil geleng-geleng kepala.


Kemudian ia beranjak menuju kamar tidurnya untuk melanjutkan kembali tidurnya. Ibu Bagas terbangun hanya untuk melihat Bagas dan Zean yg tadi sewaktu ia pergi tidur ia melihat Zean dan Bagas masih bertanding main game sampai ada yg kalah. Begitulah, kebiasaan Bagas dan Zean kalau sudah bertemu. Pasti mereka akan meluangkan waktu untuk bermain game bersama-sama. Namun, kali ini Bagas yg mengajak Zean untuk bertanding main game. Karena, Zean akan segera pergi dari rumahnya dan tinggal di rumah kos.


Bersambung...


TWO HUSBAND