
Sean keluar dari kamar mandi saat ia selesai mandi. Ia sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk Disana, di dalam kamar itu ia melihat Lova sedang duduk di sofa sedang melamun. Entah apa, yg sedang dipikirkan oleh Lova.
Sean membuyarkan lamunan Lova dengan bertanya padanya apakah Lova sudah mandi atau belum.
Sean : "Apa kau, sudah mandi?"
Lova terkejut!
Sean : "Apa yg sedang kau pikirkan?"
Lova : "Hm, ti....tidak ada pak?"
Sean menegaskan.
Sean : "Jangan, panggil aku begitu! Panggil aku, Sean saja! Atau panggil, Sayang juga boleh!"
Lova : "Sayang???"
Sean : "Kenapa??? Tidak, mau panggil aku sayang? Kau wanitaku, sekarang! Suka tidak suka, kau harus punya panggilan mesra untukku!"
Lova : "Hah? Wanita anda, pak? Ehh, maksud saya Sean?"
Sean menatap tajam dan bicara dengan nada menekan.
Sean : "Ya, kakakmu si brengsek Juan sudah membayar hutangnya dengan memberikan dirimu padaku!!! Jadi, sekarang kau adalah milikku! Kecuali, jika kakakmu membawa uangnya padaku! Maka, aku akan melepaskanmu!"
Lova tiba-tiba terlonjak gembira.
Lova : "Benarkah? Jadi, bagaimana jika aku saja yg membayar hutang kakakku padamu, Sean?"
Sean berkerut dahi. Ia jadi, menghentikan aksinya yg sedari tadi mengeringkan rambut dengan handuk.
Sean : "Kau? Akan, membayar hutang kakakmu padaku?"
Lova tersenyum.
Lova : "Iya"
Sambil melemparkan handuk ke tempat tidur.
Sean : "Dengan cara, apa kau akan membayar hutang kakakmu! Hm?"
Berjalan perlahan mendekati Lova. Dan, tiba di hadapannya membuat Lova sontak terkejut. Mencoba kabur, namun Sean menangkap tangannya.
Sean : "Katakan padaku! Bagaimana, caramu membayar hutang kakakmu! Jangan, bilang dengan menggunakan tubuhmu! Itu, alasan yg klise!"
Mencoba berontak.
Lova : "Aku tidak tahu, tapi aku akan bekerja dengan keras! Sekarang, bisakah kau melepaskan tanganku? Sakit sekali!"
Memegangnya semakin kuat dan erat. Membuatnya semakin merasa kesakitan.
Sean : "Asal kau tahu saja, ludah yg sudah aku buang, aku tidak akan menjilatnya kembali! Kau milikku! Kau tidak boleh bekerja! Kalau, tidak aku akan melenyapkan kakakmu! Mengerti!!!"
Lova ketakutan.
Lova : "Aku me....mengerti!"
Melepaskan tangannya.
Sean : "Sekarang kau pergilah mandi, aku akan menunggumu di meja makan!"
Lova : "Baiklah!"
Lova pun segera berlalu dari sana. Tapi, Sean mencegahnya.
Sean : "Kau mandi di sini saja. Nanti, pakaian kamu akan di antarkan oleh Lou Chan."
Lova : "Baiklah, Sean!"
Sean : "Hm!"
**********SKIP**********
Meja makan.
Sean sudah duduk menunggu di meja makan. Ia menunggu Lova turun dari lantai atas. Sambil menunggu, ia bertanya kepada Lou Chan apakah Zean sudah pulang atau tidak.
Sean : "Lou Chan!"
Lou Chan tersentak kaget.
Lou Chan : "Sa....saya, tuan?"
Sean : "Apakah, Zean sudah kembali?"
Berkeringat dingin.
Lou Chan : "Belum tuan? Sejak, kemarin malam tuan Zean belum juga kembali!"
Masih dengan pandangan mata yg dingin.
Sean : "Apakah, dia ada meneleponmu?"
Lou Chan : "Ti....tidak ada, tuan?"
Sean menarik nafas lalu menghembuskannya.
Sean : "Ya sudah!"
Lou Chan mengangguk.
"Apakah, Zean marah padaku soal kemarin? Sehingga, ia tidak pulang? Bocah, itu benar-benar membuatku kesal!" ucapnya dalam hati.
Tak lama, Lova pun turun menghampiri Sean di meja makan. Ia memakai gaun warna putih yg panjangnya di atas lutut dan memakai high heels warna abu-abu. Rambutnya digulung ke atas dan rambut yg tak bisa diikat dibiarkan menjuntai ke bawah. Menambah, kesan sexy pada lehernya yg jenjang yg berkulit putih dan mulus.
Sesaat, Sean terpana melihatnya. Ia melihat dari atas sampai bawah lalu balik lagi ke atas. Dan, satu pujian dari Lou Chan menyadarkannya.
Lou Chan : "Nona? Nona Lova, kelihatan cantik sekali malam ini."
Lova tersenyum manis.
Lova : "Terima kasih, Lou Chan."
Sean melirik Lou Chan sambil berdehem.
Sean : "Ehem!"
Lou Chan jadi berkeringat dingin lagi.
Sean : "Lou Chan!"
Lou Chan : "Saya, tuan?"
Menatap tajam.
Sean : "Jika, kau sudah tak berminat untuk bekerja di sini lagi! Kau, bisa mengundurkan diri sekarang! Ku beri waktu untuk berkemas dan pergi 15 menit."
Lou Chan terkejut, ia pun langsung berlutut memohon kepada Sean untuk tidak mengusirnya pergi.
Lou Chan : "Mohon, ampuni saya tuan? Saya, masih mau bekerja di sini, tuan? Saya, janji saya tidak akan berkata macam-macam lagi kepada nona Lova, tuan?"
Dengan senyum smirk mengerikan.
Sean : "Sayang sekali! Kau, masih mau bekerja tapi aku sudah tidak ingin kau bekerja disini! Sekarang, kemasi barangmu dan pergi!!!"
Lou Chan menangis.
Lou Chan : "Hiks....hiks....hiks!"
Lova yg melihat itu jadi tidak tega. Ia pun lalu, meminta Sean untuk tidak memecat Lou Chan.
Lova : "Sean! Aku, mohon bisakah kau memberi paman kesempatan?"
Mengalihkan pandangan dan menatap tajam Lova.
Sean : "Apa, kau sedang bersimpati padanya?"
Lova terdiam dan Sean masih menatapnya.
Sean : "Aku tidak butuh barang cacat di istanaku! Semua, harus sesuai dengan peraturanku! Siapa, yg tidak bisa patuh, maka kalian bisa pergi!!!" tegasnya.
Lova : "Tapi, Sean?"
Sambil menarik tangan Lova keluar dari rumah dan membawanya pergi.
Sean : "Tidak ada kata tapi!"
"Maaf, paman?" ucap hatì Lova.
❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤
💦💦💦TWO HUSBAND💦💦💦