TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-48



Ruang Kantor Pribadi Asraf.


Asraf saat ini sedang berbincang-bincang dengan detektif. Asraf mengatakan kepada detektif bahwa ia sudah menemukan Mikayla. Kini, ia hanya tinggal menemukan Jesseline.


Detektif : "Apa? Anda sudah menemukan Mikayla? Tapi, bukankah anda tidak percaya kalau Mikayla masih hidup?"


Aaraf : "Ya, detektif. Awalnya, memang begitu. Namun, setelah mendengar suaranya saat meneleponku dan bertemu langsung. Akhirnya, aku sadar bahwa dia masih hidup."


Detektif : "Wah, kalau begitu selamat ya tuan?"


Asraf : "Terima kasih, detektif?"


Detektif : "Jadi, sekarang kita tinggal mencari dimana Jesseline bukan?"


Asraf : "Ya"


Detektif : "Baiklah, kalau begitu aku akan membantu anda untuk menemukannya."


Asraf : "Terima kasih, detektif."


Detektif : "Aku akan segera menghubungi anda jika saya menemukan sesuatu tentang Jesseline."


Asraf : "Oke, detektif!"


Detektif : "Kalau begitu, saya permisi dulu tuan?"


Asraf : "Silahkan."


Kemudian, detektif itu undur diri dari ruangan itu. Detektif tersebut berpapasan dengan seorang wanita cantik. Dialah Mikayla. Namun, kesannya wanita ini sangat tomboy. Detektif itu memperhatikannya dengan seksama. Setelahnya ia pun segera pergi dari sana.


Mitha sengaja datang ke kantor Asraf karena ia sangat bosan di rumah. Ia ingin sekali menghabiskan waktu bersama kakaknya. Asraf mengerti hal itu, namun ia sedang bekerja. Jadi, ia menyuruh Mitha menunggunya sambil membaca buku yg ada di rak di sebelah meja kerja di ruangan pribadi Asraf.


Asraf : "Aiyo, adikku. Kakak sedang sibuk sekali. Kakak banyak pekerjaan. Bagaimana, kalau kamu duduk disana dan baca buku dulu saja. Lihat, disana ada banyak buku bagus yg bisa kamu baca."


Mitha menghembuskan nafas lelah.


Mitha : "Baiklah."


Mitha menjatuhkan pantatnya di sofa yg ada di ruangan tersebut. Dan, ia mencari buku yg ia suka untuk ia baca. Sejenak, Mitha tenggelam dalam buku yg ia baca. Dan, ia tertidur karena ia lelah membaca. Asraf melihatnya. Dan, ia hanya tersenyum.


Asraf : "Dasar, Mikayla! Baru kutinggal sebentar. Karena, aku sangat sibuk. Ehh, ia malah ketiduran setelah asyik membaca buku." gumamnya.


Asraf mau membangunkan Mikayla. Tapi, ia urung melakukannya. Karena, ia melihat Mikayla tertidur sangat pulas.


"Sebaiknya tidak usah kubangunkan. Biarkan saja ia tertidur disini. Em? Sebaiknya, aku keluar untuk membeli makan siang di luar. Sekalian untuknya juga." batin Asraf.


Kemudian, Asraf segera melangkahkan kakinya. Ia pergi keluar dari ruang kantor itu. Ia menuju ke sebuah tempat yg banyak menjual makanan enak di seberang kantornya. Sementara, itu Lova juga ada di sekitar tempat itu. Lova sedang bersama Sean. Mereka sedang mengunjungi toko pakaian bayi yg terletak di sebelah tempat yg menjual makanan enak itu.


Tatapan mata Lova tampak berbinar-binar ketika ia melihat banyak sekali pakaian bayi yg di pajang di toko itu. Ada banyak model dan macamnya. Sean yg menemaninya juga sangat senang melihatnya.


Lova : "Ah, aku mau yg ini. Yg itu juga cantik." ucapnya dengan wajah berseri-seri.


Sean : "Sayang? Kalau, kau suka semuanya. Beli saja. Soal uang tidak perlu khawatir. Aku punya banyak uang. Bila perlu tokonya juga aku akan membelinya untukmu. Bagaimana?"


Lova : "Apa??? Kau akan membeli tokonya?"


Sean : "Iya, sayang?"


Lova : "Jangan, sayang? Itu tidak perlu. Aku kan hanya melihat-lihat dulu. Toh, kita juga belum tahu jenis kelamin anak kita."


Sean : "Iya, juga ya? Ya sudah, apa kau lapar?"


Lova : "Umm? Sayang, aku lapar. Tapi, aku tidak mau makan nasi. Aku mau makan asinan."


Sean : "Apa? Asinan? Makanan apa itu?"


Sean : "Oh, ya? Dimana, bisa mendapatkannya?"


Lova : "Aku juga kurang tahu. Mungkin di toko yg khusus menjualnya."


Sean menarik nafas lelah. Karena, sudah pasti ia akan dibuat repot oleh Lova selama masa ngidamnya.


Sean : "Haah..., ya sudahlah. Ayo, kita cari asinannya. Nanti, kamu ngences lagi gak dapat asinan." ucap Sean sambil menarik tangan Lova pergi dari tempat itu.


Lova tersenyum dan ia menuruti Sean. Mereka keluar menuju mobil mereka di parkirkan. Saat yg bersamaan Asraf juga baru keluar dari tempat ia membeli makanan untuk dirinya dan Mikayla. Asraf merasa terkejut melihat seseorang yg mirip dengan Mikayla.


"Mikayla? Loh, bukannya dia sedang tidur?" batinnya.


Asraf merasa ada yg tidak beres.


"Tunggu dulu! Itu, tidak mungkin Mikayla. Pakaiannya juga beda. Apa mungkin? Jesseline? Ahh, itu pasti Jesseline." batin Asraf lagi.


Asraf mencoba memanggil Lova dengan nama Jesseline sambil berlari. Namun, tidak keburu karena Lova dan Sean sudah terlanjur masuk ke dalam mobil mereka.


Asraf : "Jesseline...!!! Jesseline...!!!"


"Bruum...bruuummmm...."


Lova tidak mendengar ketika Asraf memanggilnya. Asraf merasa kesal karena ia gagal tak bisa berbicara dengan Lova.


"Ughh...sial." batinnya lagi.


Akhirnya, ia pun kembali ke kantor dengan wajah lesu. Saat, ia kembali ternyata Mikayla sudah bangun dari tidurnya.


Mitha : "Kakak? Kau kembali? Uhh, kau meninggalkanku sendirian disini." rengeknya.


Asraf diam dan ia tak menggubris ucapan Mikayla. Mikayla heran.


"Ehh??? Kenapa, dengan kakak? Kok, lesu begitu mukanya." batin Mitha.


Asraf meletakkan makanan yg baru ia beli tadi di atas meja dekat sofa. Lalu, ia menjatuhkan pantatnya di kursi.


Mitha : "Kak? Ada apa? Kok, kakak diam saja?"


Asraf : "Tadi aku melihatnya!"


Mitha : "Melihat siapa?"


Asraf : "Saudara kembarmu, Jesseline!"


Mitha : "Apa!!! Kakak melihatnya? Kapan? Dimana?"


Asraf : "Tadi, sewaktu membeli makanan untuk kita. Di dekat toko pakaian bayi."


Mitha : "Ha? Kakak bertemu dengannya. Trus, kenapa kakak tidak memanggilnya?"


Asraf : "Sudah. Kakak sudah memanggilnya. Tapi, ia tidak mendengar saat aku memanggilnya."


Mitha pun jadi lesu ketika ia mendengar penjelasan Asraf. Asraf melihat perubahan itu di wajah Mikayla. Lalu, ia pun menghibur Mikayla.


Asraf : "Tenanglah. Kita pasti akan menemukannya." ucapnya lembut menenangkan Mitha. Dan, Mitha hanya diam saja tak berbicara sepatah kata.


"Karena, aku ingat Bk mobil yg ditumpanginya." ucap Asraf dalam hati.


Bersambung...


TWO HUSBAND