TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-30



Setelah, selesai memeriksakan keadaan dirinya. Dan, setelah ia mengetahui tentang kehamilannya. Mitha sangat bahagia sekali. Ia berencana akan memberitahu berita kehamilannya pada Bara.


Two Husband S2 Eps 30


Mitha memberitahukan berita kehamilannya pada Bara dan Jimmy. Terlihat, Bara dan Jimmy sangat bahagia sekali. Mereka melonjak kegirangan.


Bara : "Aku sangat bahagia sekali, sayang?"


Bara memeluk Mitha erat dan mengecup keningnya lembut. Mitha tersenyum mendapatkan kehangatan cinta dari Bara. Melihat keduanya tenggelam dalam kebahagiaan Jimmy pun larut dalam kebahagiaan yg sama. Airmatanya jatuh menetes. Sebagai orang tua ia sungguh sangat berbahagia sekali. Sudah membesarkan Bara dengan baik. Meski, ketiadaan anak serta menantunya menggoreskan luka yg dalam di hatinya.


Jimmy : "Hei...sudah...sudah. Orang tua ini sangat terhura sekali eh...salah...sangat terharu sekali. Aku benar-benar menangis karena bahagia hari ini. Semoga kelian langgeng selamanya sampai anak cucu. Ah, orang tua saking bahagianya sampai ingin bermain. Bara, boneka kesayanganku. Kau jaga kelinci kecilku dengan baik. Awas, saja jika terjadi sesuatu dengannya. Aku akan menendangmu keluar dari rumah ini."


Bara : "Iya, kakek. Itu sudah pasti. Aku akan menjaga Mitha dan calon bayi kami dengan baik. "


Jimmy : "Hu...hiks...orang tua ini sangat senang mendengarnya. Will....!"


Jimmy memanggi kepala pelayan rumah. Will datang dengan tergesa-gesa.


Will : "Anda, memanggil saya tuan besar?"


Jimmy : "Iya, Will pelayan tuaku. Kau hari ini tidak usah bekerja. Kau temani aku bermain."


Will : "Bermain, tuan?"


Jimmy : "Iya."


Will : "Bermain, apa tuan?"


Jimmy : "Bermain ular tangga."


Will kaget.


Will : "Apa! Ular tangga?"


Jimmy tersenyum-senyum melihat reaksi Will sang pelayan yg sudah lama ikut bekerja dengannya.


Jimmy : "Ayo cepat. Ambil papan permainannya."


Will : "Baiklah, tuan."


Dengan lesu, Will segera pergi menuju ruangan khusus dimana biasa Jimmy menyimpan permainan kesukaannya. Tak, lama ia pun kembali dengan papan permainan yg dimaksud.


Will : "Tuan, ini papan permainannya."


Jimmy : "Bagus-bagus. Nah, sekarang tolong kau buat susu coklat kesukaanku. Hehehe..."


Will : "Susu coklat, tuan?"


Jimmy : "Iya."


Will : "Tentu saja buat kuminum jika nanti aku haus. Hahaha...."


Jimmy tertawa lebar. Ia tahu Will tidak suka minum susu coklat. Will mengira ia disuruh membuat minuman susu coklat untuk dirinya minum sebagai hukuman jika ia mengalami kekalahan.


Jimmy : "Ayo...ayo...cepat...sana kau buat. Si tua ini sudah tidak sabar. Hehehe..."


Will segera berlalu ke dapur. Ia membuat minuman susu coklat satu gelas. Ia tidak tahu apakah yg dikatakan tuannya benar atau tidak. Bahwa Jimmy ingin minum susu coklat.


Sedangkan, Bara dan Mitha yg melihat hal itu hanya bisa tersenyum-senyum saja karenanya.


Mitha : "Kakek? Apakah, benar kakek akan meminum susunya?"


Jimmy : "Kelinci kecil? Siapa bilang kakek akan meminum susunya. Kakek hanya membohonginya saja."


Mitha : "Duhh, kakek? Mengapa, kakek membohonginya?"


Jimmy : "Tentu saja, biar seru. Kelinci kecil? Kau tidak perlu khawatir. Ini adalah perayaan untuk beruang kecilku."


Mitha menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar kakek!


Saat mereka sedang berbincang. Tiba-tiba, Steven datang bertamu ke mansion megah itu. Jimmy langsung menyapa seseorang tersebut yg merupakan teman dari boneka kesayangannya.


Jimmy : "Hai, bocah kuning!"


"Bocah kuning?"


Steven tertegun ketika Jimmy memanggilnya bocah kuning. Steven pura-pura tidak tahu siapa orang yg dimaksud oleh Jimmy.


Steven : "Bocah kuning? Siapa yg kakek maksud dengan bocah kuning?"


Jimmy : "Ya, tentu saja kau. Memangnya siapa lagi."


Steven celingak celinguk kesana kemari. Lalu, ia menunjuk dirinya sendiri.


Jimmy mengangguk persis burung jalak yg lagi kesenangan mendapat makanan.


Jimmy : "Ayo...ayo...kesini. Mari duduk denganku disini. Hei, kalian berdua bonekaku dan kelinciku. Kalian pergilah. Berbincanglah dengan nyaman di atas."


Bara : "Tentu saja, kek. Kami permisi. Steven, rambut kuning. Tamat kau hari ini. Dadah..."


Steven : "Apa! Hei, Bara tunggu. Jangan, tinggalkan aku!"


Jimmy : "Bocah kuning, sudah-sudah tidak perlu memanggilnya lagi. Dia sedang mabuk asmara. Sedangkan, orang tua ini sedang mabuk ular tangga. Silahkan, temani orang tua ini ya?"


Steven : "Apa. Permainan? Ular tangga?"


Jimmy manggu-manggut.


Steven : "Kek, aku datang kesini. Hanya mau menemui Bara temanku bukan untuk menemani kakek bermain."


Jimmy : "Oh, jadi tidak mau bermain denganku ya? Apa, kamu mau membuat orang tua ini bersedih. Hu...hiks..."


Will datang dari arah dapur sambil membawa segelas susu coklat.


Will : "Tuan, ini susunya. Ehh? Tuan Steven disini."


Steven : "Yo, paman Will."


Jimmy menarik baju Will. Ia ingin Will mendekat ke arahnya dan berbisik.


"Will, pelayan tuaku. Kau pergi lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan bermain dengan si kuning ini saja."


Will : "Ah, baiklah tuan. Saya akan lanjut bekerja. Selamat bersenang-senang tuan besar? Tuan Steven, semoga beruntung."


Will tersenyum sembari bermain mata dengan Steven. Steven terkejut melihatnya. Setelahnya, ia segera pergi dari ruangan itu. Di dapur tempat ia biasa bekerja ia mendadak lemas. Dia membuang nafas ke udara sembari bergumam.


Will : "Fyuh😥. Untung saja, tuan Steven datang. Jika, tidak maka habislah aku. Hu...hiks...tuan besar anda sangat mengerikan."


Sementara itu di ruang kamar pribadi Bara dan Mitha....


Dua insan yg saling mencintai itu tampak sangat bahagia sekali. Mereka tersenyum bahagia di atas pembaringan. Bara mengusap rambut panjang Mitha dengan lembut.


Mitha : "Sayang? Apa, kau senang dengan kehamilanku?"


Bara : "Tentu saja, aku sangat senang. Bukan hanya senang bahkan aku sangat bahagia sekali."


Mitha : "Iya, andai saja ibu tahu aku hamil. Dia pasti senang juga. Sama seperti kita, ya kan?"


Bara : "Sayang? Apa, kau ingin memberitahu ibumu tentang kita?"


Mitha : "Iya, tapi bukannya kau...."


Bara menaruh jarinya di bibir Mitha.


Bara : "Sssttt...mari beritahu ibu tentang kita. Aku akan menemanimu."


Mitha tersenyum bahagia.


Mitha : "Aku sayang kamu."


Bara : "Aku juga. Oh, ya nama apa yg akan kita beri untuk anak kita."


Mitha : "Em? Kalau perempuan namanya Cecilia."


Bara : "Kalau laki-laki. Akan, kuberi nama Jack Sparrow. Hahaha..."


Mitha memukul-mukul tubuh Bara. Ia marah pada Bara.


Mitha : "Issshhh, masa Jack Sparrow sih? Itu kan nama bajak laut. Kebanyakan nonton film, ya?"


Mitha memberengut.


Bara : "Ya sudah, kalau gitu biar nanti kakek aja ya ug kasih nama anak kita."


Mitha tersenyum.


Mitha : "Iya."


Mitha sangat bahagia sekali mempunyai seorang suami seperti Bara. Sudahlah, tampan dan kaya. Ditambah lagi dengan sikapnya yg penyabar dan penyayang. Ditambah lagi, seorang kakek yg nyentriknya bukan main tapi membuat keluarga mereka jadi semakin harmonis karena adanya kasih sayangnya yg berlimpah.


Selain itu, ia juga masih memiliki seorang ibu yg sangat menyayanginya. Dan, juga seorang kakak yg juga menyayangi dirinya. Serta sang saudara kembar yg selalu mendukungnya. Mitha sangat bahagia, memiliki keluarga yg sangat menyayangi dan mencintai dirinya.


Bersambung...


TWO HUSBAND Season 2