TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-04



Juan pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Sesampainya, ia meminta uang kepada Lova untuk membayar hutangnya yg telah jatuh tempo kepada seorang tuan yg kaya.


Namun, Lova mengatakan ia tidak punya uang sama sekali. Mendengar itu, Juan tidak percaya kalau Lova tidak punya uang. Ia pun mengobrak abrik isi lemari Lova mencari sesuatu dan ia pun menemukannya.


Ia mengambil semua uang tabungan Lova. Namun, uang itu tidaklah cukup untuk membayar hutangnya. Jadi, ia pun membawa Lova sebagai alat untuk membayar hutangnya.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


KEMBALI KE SAAT INI


Lova mencoba untuk melepaskan diri dari pegangan tangan kakaknya. Namun, ia tak berhasil. Ia tak tahu kemana kakaknya membawanya. Ia menangis, memohon kepada kakaknya untuk dilepaskan. Namun, kakaknya tetap tidak mau melepaskannya.


Tak lama, mereka pun sampai ke sebuah tempat pabrik bekas. Tempat, yg tidak terurus dan terbengkalai dengan pencahayaan minim alias hanya di terangi lampu 5 watt saja. Juan terus menarik tangan Lova hingga akhirnya ia bertemu dengan tuan kaya tersebut.


Juan : "Tuan? Saya, bawa uangnya! Ini!"


Juan menyodorkan uang tersebut kepada Sean.


Sean berkerut dahi saat ia melihat uang tersebut. Uang tersebut, terdiri dari uang pecahan 20 ribu dan 50 ribu saja. Matanya, melotot ke arah Juan yg membawakannya uang yg tak semestinya.


Sean : "Apa, ini!"


Juan : "Uang, tuan? Hutang, saya!"


Sean : "Iya, aku tahu! Aku tidak bodoh! Yang, aku tanyakan adalah apa beginikah caramu membayar hutang? Hah!!!"


Sean mengambil uang yg di sodorkan oleh Juan dan melempar semua uang itu kembali ke wajah Juan.


"Crrriiing"


Rupanya, masih ada uang receh disana di antara uang yg berserakan tersebut. Lova menyaksikan uangnya terbang berhamburan begitu saja. Sedang, Juan kakaknya tiba-tiba langsung berlutut di hadapan Sean.


Juan : "Tuan? Mohon, jangan marah pada saya!"


Sean : "Marah? Tentu saja, aku patut marah padamu! Kau mengatakan akan membayar hutangmu padaku! Tapi, mana!!! Kau malah membawa uang seperti ini ke hadapanku!


Sean menunjuk-nunjuk uang yg jatuh berserakan di tanah.


Juan : "Tuan? Jika, saya tidak bisa membayar hutang! Maka, saya akan berikan adik saya kepada tuan sebagai pengganti hutang-hutang saya! Bagaimana?"


Sean menaikkan satu alisnya.


Sean : "Apa!!! Kau ingin, membayarnya dengan adikmu?" Dan, apa kau pikir aku mau? Dengar, ya pria penghutang? Aku tidak mau, adikmu! Aku hanya mau uangku! Titik!"


Juan : "Tapi, tuan?"


Sambil menarik kerah baju Juan.


Sean : "Jika, kau tak bisa menyiapkan uang untuk membayar hutangmu! Maka, kau akan kulenyapkan dari muka bumi ini! Mengerti!!!"


Juan menganggukkan kepalanya.


Sean tersenyum licik. Kemudian, ia dan beserta Fandy dan beberapa anak buahnya pun pergi dari sana. Namun, langkahnya tiba-tiba saja berhenti ketika Juan mengatakan sesuatu kepadanya.


Sean berpaling. Dan, Lova terkejut saat Juan, kakak angkatnya berkata demikian.


"Apa!!! Kakak? Kau tega, mengatakan itu?" ucap Lova dalam hati.


Sean lalu berjalan mendekati Lova.


Lova tampak ketakutan. Ia ingin lari dari sana, namun tiba-tiba saja Sean memegang tangannya. Lova, menoleh. Mereka bertatapan. Dalam, keremangan cahaya itu Sean dapat melihat raut wajah cantik wanita itu.


Ia mengenali wajah cantik itu meski cahaya penerangan disana terlalu minim. Ia ingat juga, saat wanita cantik itu mengancingkan dan merapikan pakaiannya yg berantakan waktu itu.


Sean : "Kau??? Bukankah, kau orang yg bekerja di barku?"


Lova terkesiap. Sesungguhnya, sedari tadi ia pun mengenali sosok lelaki yg terus berbicara dengan kakaknya mengenai hutang. Namun, karena rasa takut menjadikannya tak mampu bersuara bahkan pergi dari sana tadi.


Sean : "Baiklah, Juan! Adikmu, masih perawan kan? Akan, kuterima tawaranmu ini!" ucapnya sambil menarik tangan Lova meninggalkan tempat itu.


Lova : "Pak....? Lepas! Saya mau di bawa kemana?"


Sean : "Diam!!! Kalau, mau selamat sebaiknya kamu jangan banyak bertanya dan berontak! Kau mengerti!"


Lova mengangguk. Ia pun menuruti kata-kata Sean. Sementara, itu melihat ke belakang. Ia melihat, kakaknya Juan sedang mengutipi uang yg di campakkan oleh Sean tadi.


Sungguh merupakan pemandangan yg menyedihkan. Seorang, anak manusia hidup hanya untuk berjudi dan menghabiskan uang saja. Benar-benar tidak patut di contoh! Lova, menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Lalu, ia mengalihkan pandangannya lagi mengikuti langkah Sean yg terus menariknya meninggalkan tempat itu.


Fandy membukakan pintu mobil untuk Sean dan Lova. Fandy duduk di bangku supir sedang Sean dan Lova duduk manis di bangku penumpang.


Fandy : "Tuan? Habis, ini kita mau kemana?"


Sean : "Pulang!"


Fandy mengangguk tanda mengerti.


Fandy : "Baiklah, tuan?"


Fandy pun menyalakan mesin mobil dan mobil itu pun melaju menembus jalanan yg sudah mulai ramai dengan aktifitas masyarakatnya. Dan, mereka pun sampai di rumah Sean tepat pukul 07 pagi. Sean turun dari mobilnya dan ia pun menyuruh Lova turun dari mobilnya.


Sean : "Turun!"


Lova : "Hah?"


Sean : "Apa, kau mau berada di dalam mobil saja?"


Lova : "Ti....tidak pak? Saya, akan turun!" ucap Lova akhirnya turun dari mobil yg di tumpanginya. Mulutnya menganga lebar, saat ia melihat sebuah rumah mewah berdiri tegak di hadapannya. Ia sering melihat rumah-rumah mewah artis papan atas sangatlah besar dan mewah. Tapi, ini? Jauh, lebih besar dan mewah dari rumah artis papan atas sekali pun.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦TWO HUSBANDπŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Foto Rumah Sean Frederick.