
Hari ini adalah jadwal terapi Austin dimulai. Dokter menyarankan agar Austin memulai terapinya dengan mencoba menggerak-gerakkan kakinya perlahan.
Austin berusaha melakukan nya sesuai dengan instruksi ahli fisioterapi yang tengah memandu dirinya dalam ruang perawatan.
Paloma datang bersama Hana ke rumah sakit untuk memberi Austin semangat, agar dia bisa melaksanakan sesi terapi ini dengan baik. Samantha ibu Austin, juga ada disana selalu setia menemani anak tunggalnya itu.
"Bagaimana perasaan mu Ka Austin?."
Paloma mengusap keringat yang mengucur deras di dahinya, menggunakan handuk kecil.
"Terima kasih dek. Kakak baik-baik saja, hanya letih saja sedikit."
Austin tersenyum tulus menatap Paloma adik sepupunya. Dia melirik Hana yang berdiri di samping Paloma. Hatinya menghangat melihat wanita yang semakin cantik di depan matanya itu.
Paloma yang mengetahui kalau kakak sepupunya itu ingin berdua dengan Hana, mengajak Samantha keluar membeli makan siang.
Suasana canggung langsung terasa begitu mereka keluar dari ruang perawatan Austin. Hana lalu duduk di kursi samping ranjang Austin, untuk memecahkan rasa canggung yang tercipta diantara mereka berdua.
"Apa kabar kau Hana? Aku dengar dari Momy kau habis kecelakaan dan sempat kritis ya Han?."
"Ah.. iya Ka, tapi aku sudah baik-baik saja sekarang. Kakak tidak perlu khawatir."
Hana sedikit gugup saat Austin menatapnya intens, dia sendiri bingung kenapa dia harus merasa segugup itu.
"Baguslah kalau begitu, aku sangat senang mendengar nya Hana. Lain kali jangan libatkan lagi dirimu pada hal-hal yang berbahaya seperti itu. Tapi, aku salut padamu Han, ternyata kau bukan gadis kecil penakut seperti dulu."
Austin tertawa mengejek ingin menggoda putri Ketua MPR RI itu.
"Apa sih Ka, nggak lucu tau nggak!."
Hana cemberut mendengar perkataan Austin yang sengaja ingin membuatnya malu.
"By the way, aku minta maaf karena baru bisa datang menemui Ka Austin hari ini. Kemarin aku ada di Bandung dan baru pulang tadi pagi."
"Nggak apa-apa Han, aku justru sangat senang karena ternyata kau tidak melupakan aku. Makasih ya."
"Nggak mungkin lah aku melupakan Ka Austin. Ada-ada aja Ka Austin ini."
Hana mencubit kecil lengan Austin, kebiasaan nya yang selalu dia lakukan pada kakak sepupu sahabatnya itu.
"Oh ya, Ka Austin kan belum makan siang. Aku suapin ya."
Hana dengan cekatan menarik meja rumah sakit yang berisi makanan Austin ke dekat mereka. Dia hampir lupa kalau Austin belum makan siang karena terlalu sibuk berbicara dengan nya.
Hana pun mulai menyuapi Austin dengan telaten hingga membuat pria tampan itu terpesona, melihat wajah cantik Hana dari dekat. Manik mata hitamnya tidak pernah lepas memandangi Hana, yang terlihat seperti bidadari.
"Ada apa Ka Austin? Kenapa memandangi aku seperti itu?."
"Nggak, aku cuma sedang menikmati pemandangan indah aja yang ada di depan mataku."
Wajah putih mulus Hana sontak merona mendengar ucapan gombal pria bermulut manis itu. Hana tidak ingin menggubris perkataan Austin, karena dia tahu Austin selalu bisa membalas semua ucapannya dengan kata-kata gombal ala Austin Hendrawan.
Pelan-pelan Austin mengangkat tangan kirinya dan mengusap lembut pipi Hana. Meski Austin terlihat kesusahan menopang tangan nya, namun dia berhasil menyentuh wajah cantik Hana.
"Kau sudah bisa menggerakkan tanganmu Ka?."
Hana berbinar menatap Austin yang masih setia memandanginya sejak tadi.
"Oh ayolah Hana, aku ini hanya koma bukannya lumpuh!."
Austin berusaha meredam detak jantungnya yang berdebar dua kali lebih cepat karena tangan nya masih di genggaman Hana. Ingin rasanya dia membawa Hana ke dalam dekapan hangat tubuhnya, namun dia masih harus bersabar karena tubuhnya masih perlu penyesuaian agar Austin bisa kembali beraktivitas seperti semula.
"Ka Austin jangan bicara begitu, aku tidak suka mendengar nya. Aku yakin Ka Austin akan segera sembuh. Aku akan selalu menemani Ka Austin ikut terapi sampai tubuh Kakak bisa normal kembali."
"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya Hana. Terima kasih ya Han."
Austin menatap penuh cinta wanita yang sudah lama mencuri hatinya itu. Meski dia tahu kalau Hana tidak mencintainya, namun Austin sudah bertekad untuk membuat Hana jatuh cinta padanya.
Austin tidak tahu kalau harapannya itu tidak akan pernah bisa terwujud, karena Hana sudah berpacaran dengan Ali dan sebentar lagi mereka akan segera menikah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Akan ada up setiap hari
Like and Vote 🌹**