The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Pulang ke Mansion Utama



"Aku sudah tidak apa-apa Alano, aku ingin pulang dan beristirahat dirumah!."


Paloma terus merengek meminta pulang sedari tadi. Ya Alano memaksa Paloma untuk tetap berada di rumah sakit sampai dia pulih benar. Alano masih mengkhawatirkan keadaan Paloma padahal dokter mengatakan kalau tubuh Paloma sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Kita pulang besok saja Paloma dan jangan membantah. Aku ingin agar kau benar-benar sudah lebih baik baru kita pulang kemansion." Alano melipat kedua tangannya didepan dada menatap tajam Paloma.


"Sudah berapa kali aku katakan kalau aku baik-baik saja Alano, tadi aku hanya syok saja hingga bisa pingsan. Aku mohon Alano aku ingin pulang sekarang, lagipula Momy sendiri dirumah dia pasti akan khawatir kalau tahu aku ada di rumah sakit."


Paloma menatap Alano dengan pandangan puppy eyes andalannya, dan lagi-lagi tak ada yang bisa menolak tatapan mata wanita cantik itu.


Alano menghela nafas pelan, "baiklah terserah kau saja."


Alano memilih mengalah karena jujur kupingnya sudah cukup panas mendengar rengekan Paloma yang meminta pulang sejak tadi. Lagipula dia juga tidak mau membuat Ibunya khawatir kalau dia mendengar Paloma masuk rumah sakit.


Paloma tersenyum senang dan tanpa sadar memeluk Alano yang berdiri disampingnya. Alano mematung merasakan pelukan hangat Paloma, jantungnya terasa dipompa dengan begitu cepat seketika wajah dingin nan tampan itu merona.


Setelah mengurus biaya administrasi Alano membawa Paloma pulang kemansion utama. Selama perjalanan mereka hanya diam dengan pemikiran masing-masing.


Alano tersenyum tipis saat mengingat pelukan singkat mereka tadi di rumah sakit. Ada rasa membuncah dalam hatinya ketika merasakan pelukan Paloma yang terasa hangat baginya. Lagi-lagi wajah Alano merona, diapun mengemudikan mobilnya dengan cepat agar mereka bisa segera tiba di Mansion.


Begitu tiba di Mansion dua orang penjaga membukakan pintu Alano dan Paloma, mereka disambut Steven kepala pelayan di mansion utama.


"Selamat malam Tuan Alano dan Nona Paloma, Nyonya sedang menunggu diruang keluarga." Steven membungkukkan badan dan berjalan mengantar mereka berdua dimana Angelina berada.


Alano melirik perban disiku tangan Paloma, dia lalu membuka jas dan memakaikannya ketubuh Paloma.


"Pakai jas ini untuk menutupi perbanmu." Alano melangkah lebih dulu menemui Ibunya diruang keluarga.


Paloma tersipu malu saat mendapatkan perhatian dari pria dingin itu, diapun memakai jas Alano dengan hati yang membuncah bahagia. Tapi, Momykan tidak bisa melihat Paloma bergumam dalam hati dia bingung kenapa Alano malah memberikan jasnya untuk menutupi perban disiku tangan Paloma.


"Momy belum tidur?." Alano memegang tangan halus Angelina penuh cinta.


"Momy menunggu kalian pulang sayang, tadi kata paman Albert kalian sudah lama pulang dari kantor. Jadinya Momy khawatir terjadi apa-apa pada kalian berdua sayang." Angelina mengusap lembut wajah tampan Alano.


"Kami baik-baik saja Momy tadi aku meminta Alano untuk mengajakku berkeliling kota Roma." Paloma mendekati Angelina dan duduk disamping kirinya sedangkan Alano berada disamping kanan.


"Oh kalian pasti bersenang-senang tadi." Angelina kini meraih tangan Paloma dan mengusapnya lembut.


"Lain kali aku akan mengajak Momy berjalan-jalan di kota Roma begitu Momy bisa melihat lagi." Paloma tersenyum tulus memegang tangan Angelina Hall.


"Terima kasih Paloma aku senang karena Alano menikahimu sayang. Kau begitu baik dan tulus, Alano tidak salah dalam memilih pasangan hidup."


Hati Paloma berdenyut mendengar ucapan Angelina, ada rasa sesak didalam sana membuat Paloma merasa bersalah. Ingin rasanya Paloma berkata jujur pada Angelina namun dia masih harus menyelesaikan masalahnya sampai menemukan dalang penculikannya.


"Momy, sebaiknya Momy tidur ini sudah malam. Aku akan mengantar Momy kekamar."


Alano meraih tangan Angelina dan mengajaknya pergi kekamar, dia tidak mau Ibunya berkata macam-macam lagi apalagi melihat wajah Paloma yang berubah sedih saat mendengar ucapan Angelina tadi.


Begitu Alano dan Angelina tidak terlihat lagi Paloma beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.


Tiba-tiba tangan Paloma ditarik dan dibawa masuk kekamar Paloma sebelumnya disamping kamar Alano. Albert menarik paksa tangan Paloma dan menjatuhkannya di sofa yang ada dikamar. Albert duduk didepan Paloma dan menatapnya tajam.


"Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan Paloma?."


Paloma menatap Albert dengan gugup, "tentu saja aku sudah melakukannya sesuai dengan perintahmu. Kau tenang saja sebentar lagi Alano akan mati sesuai keinginanmu."


"Bagus. Kau harus terus memberikan racun itu dan jangan sampai terlewatkan satu kalipun agar racun itu akan semakin cepat bereaksi. Dan jangan lupa selama kau mengikuti perintahku orangtuamu akan tetap bernafas dan hidup dengan baik." Albert tertawa jahat dan melipat kedua tangannya didepan dada.


"Kau tidak perlu terus-terusan mengancamku pria tua! Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus pergi kalau tidak Alano akan mencurigaiku jika tidak melihatku dikamar." Paloma beranjak dari sofa dengan wajah menahan rasa kesal dia sangat muak melihat wajah licik Albert.


"Jangan lupa untuk membuat dia jatuh cinta padamu agar kau semakin mendapatkan rasa percayanya."


Paloma yang mendengar ucapan Albert segera mempercepat langkah kakinya dan menutup pintu dengan cukup kasar. Dasar pria tua gila! Paloma mengumpat dalam hati melampiaskan rasa kesalnya.


Saat masuk kedalam kamarnya Alano keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk kecil ditangannya. Alano menatap Paloma dengan seksama dari wajahnya Alano tahu kalau wanita cantik itu sedang kesal.


"Kau kenapa? Darimana saja kamu Paloma?."


Paloma melirik sekilas kearah Alano dan berjalan masuk ke kamar mandi tanpa mau menjawab pertanyaannya. Dia hanya butuh mandi dan tidur untuk melupakan kekesalan dihatinya.


Alano yang merasa diabaikan oleh Paloma menggerutu kesal dalam hati. Lihat saja nanti aku akan menghukummu Paloma karena berani mengabaikan aku seperti itu.


**Like and Vote 🌹