
Plaakkk..
Bambang menampar pipi Bella yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Bodoh! Dasar tidak berguna! Apa aku menyuruhmu untuk mencelakai Hana. Lihat karena kebodohan mu kita hampir saja ketahuan!."
Bambang kembali menampar Bella hingga ujung bibirnya berdarah.
"Maafkan saya pak. Saya hanya takut kalau Hana akan melaporkan percakapan kita berdua pada pak Presiden. Oleh sebab itu saya mengikutinya dan ingin membunuhnya saat ada kesempatan."
Bambang mencengkram kuat rahang pipi Bella, "Lalu apa dia sudah mati sekarang atau belum?."
Bella berusaha berbicara namun karena cengkraman Bambang padanya membuat Bella kesakitan. Bambang melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
"Saya sempat menembaknya pak, saya yakin dia tidak akan selamat meski dia dibawa ke rumah sakit."
Bella tertunduk lemah, tubuhnya bergetar menahan rasa sakit di bibirnya yang robek karena tamparan keras Bambang padanya.
Begitu Ali datang dan membawa Hana ke rumah sakit Bella melarikan diri menuju kediaman Bambang Soesatyo calon Wakil Presiden secara diam-diam. Dia lalu menceritakan kejadian sebenarnya karena berita kecelakaan Hana malam itu langsung viral dan diberitakan dimana-mana.
"Segera kembali kerumah mu sekarang! Aku tidak ingin Polisi mencurigai kita berdua. Cari alibi untuk menutupi beberapa jam kau tidak berada di rumah!."
Sementara itu di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, Hana dibawa keruangan ICU untuk menjalani operasi yang sudah berlangsung selama hampir 3 jam lamanya.
Ali menghubungi kedua orangtua Hana serta ayah dan bundanya, melalui telepon rumah sakit karena ponsel miliknya dalam keadaan off. Mereka masih menunggu diruangan tunggu ICU dengan gelisah. Ibu Hana yang bernama Lina tidak berhenti menangis meratapi nasib anak tunggalnya itu.
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi Ali? Mengapa Hana bisa sampai seperti ini?."
Thomas ayah dari Hana menghampiri Ali yang duduk tidak jauh dari tempat mereka menunggu. Semua mata tertuju padanya menunggu penjelasan Ali tentang kecelakaan yang baru saja menimpa Hana.
"Aku tidak tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi paman, ketika aku aku tiba disana mobil Hana sudah terbakar dan Hana sedang terkapar tidak sadarkan diri di jalan penuh darah. Aku segera membawanya kemari karena tidak ada siapapun disana."
Dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah tak terbaca hingga membuat pembicaraan mereka terhenti.
Lina mendekati dokter, "Bagaimana keadaan putri saya dok?."
"Maafkan saya nyonya tapi putri anda kehilangan cukup banyak darah. Kepalanya sempat terbentur dan peluru yang mengenai punggung belakang nona Hana hampir mengenai organ vitalnya. Kami juga mengeluarkan satu peluru di kaki kanannya."
Semua orang yang sedang menunggu di tempat itu berjengkit kaget mendengar perkataan dokter. Mereka yakin kalau kecelakaan ini bukanlah kecelakaan biasa, ada orang yang ingin membunuh Hana tadi malam.
Lina terduduk dan menangis histeris setelah dokter pergi dari sana. Dia lalu jatuh pingsan di pelukan Thomas suaminya. Thomas pun menggendong tubuh Lina ke ruang perawatan VVIP. Semua ikut khawatir melihat Lina yang syok karena mendengar keadaan anak perempuannya kritis.
"Aku akan menemani Lina disini Thomas. Kau keluarlah bersama Kevin dan Ali."
"Baiklah, terima kasih Poly."
Kevin mencium mesra kening Poly sebelum dia keluar dari ruang perawatan itu bersama Thomas dan Ali. Mereka harus segera mencari tahu kebenarannya dan meredam pemberitaan media yang sampai sekarang masih simpang siur tentang kecelakaan yang menimpa putri Ketua MPR RI.
"Kita harus segera mencari tahu siapa yang ingin membunuh Hana Thom. Aku takut ini ada hubungannya dengan penculikan Paloma. Aku akan meminta bantuan kedua agen itu untuk membantu mu Thomas. Kau tidak perlu khawatir."
Kevin menepuk pelan pundak sahabatnya itu, dia tahu Thomas masih syok menghadapi musibah yang baru saja terjadi dan menimpa keluarganya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Dukung terus karya Author
Like and Vote 🌹**