
Begitu mendengar berita kalau Hana sudah sadar, Ali bergegas pergi meninggalkan perusahaan Hendrawan, Corp milik ayah tirinya. Dia bahkan tidak ikut rapat direksi bulanan yang rencana nya akan dilaksanakan siang ini pukul 2.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ali membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menyalip beberapa mobil yang berada di depannya. Dia ingin cepat sampai di rumah sakit dan memeluk Hana dalam dekapan nya.
Ali sedikit berlari begitu dia turun dari mobil setelah memarkirkan nya. Ali membuka pintu ruang perawatan Hana dengan kasar hingga membuat perempuan itu berjengkit kaget dari tempat tidurnya.
Ali berjalan cepat dan tanpa sadar memeluk Hana. Dia juga mencium lama dahi Hana yang sontak membuatnya menegang tidak percaya kalau Ali, kakak dari sahabat nya Paloma melakukan itu padanya.
"Terima kasih Han karena akhirnya kau sudah sadar. Terima kasih Tuhan."
Ali mengelus lembut pipi Hana yang seketika membuatnya merona merah. Oh my God, ada apa dengan Ka Ali? Kenapa dia bersikap manis seperti ini padaku?.
"Bagaimana perasaan mu Hana, apa yang kau rasakan sekarang? Apa masih sakit? Kau sungguh membuat aku cemas selama hampir seminggu ini Hana."
"Tenang lah Ka Ali, aku sudah tidak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih karena sudah menyelamatkan aku malam itu Ka."
Hana mengusap lembut tangan kekar Ali yang sedang menggenggam kuat tangannya, seakan Hana akan pergi jauh darinya.
Hana tersenyum manis menatap Ali dengan perasaan membuncah. Baru kali ini Ali bersikap perhatian, biasanya dia selalu cuek dan dingin setiap mereka bersama.
"Apa yang sebenarnya terjadi Han? Bagaimana kau bisa sampai kecelakaan dan tertembak waktu itu? Apa ada seseorang yang sengaja ingin membunuh mu?."
Hana menghela nafas panjang, bayangan kejadian malam itu berputar di kepalanya. Hana masih bisa merasakan sakit di kepalanya serta tembakan timah panas yang mengenai punggung dan kakinya.
Hana pun menceritakan bagaimana dia sempat curiga pada Bella anggota Paspampres itu, sampai pada pertemuan nya dengan Bambang Soesatyo mantan juru bicara Kepresidenan.
Ali mengepal kuat tangannya mendengar bagaimana Bella mencelakai Hana, bahkan ingin membunuhnya. Kalau saja malam itu Ali terlambat sedikit saja, mungkin Hana tidak akan berada di depannya siang ini.
"Maafkan aku Hana karena tidak berada di dekatmu untuk menjaga mu. Kau bahkan sempat menghubungi aku, tapi bodoh nya aku malah tidak mengangkat panggilan telepon mu itu. Maafkan aku yaa Han."
"Kenapa Ka Ali minta maaf? Itu sama sekali bukan lah kesalahan kakak. Aku hanya sedang sial saja malam itu. Ka Ali tidak perlu merasa bersalah atau apapun itu. Aku sudah baik-baik saja sekarang."
Hana tersenyum manis menatap pujaan hatinya. Meski Hana sudah berjanji untuk mengubur perasaan nya dalam-dalam, namun Hana tidak bisa membohongi hati kecilnya yang berbunga-bunga melihat perhatian kecil Ali padanya.
"Jadi, Bella dan Bambang adalah dalang penculikan adik ku?."
"Iya Ka, aku sempat bertanya pada Bella dimana Paloma berada tapi...."
Hana menggantung ucapan nya, dia ragu apakah dia harus memberitahukan berita itu pada Ali atau tidak. Mengingat hubungan kakak beradik mereka sangat kuat. Ali sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya itu. Dia pasti akan meradang saat mendengar kabar kalau Paloma sudah mati.
"Tapi apa Han, kenapa kau diam? Ada apa?."
Ali menatap penuh harap wanita cantik di depannya, dia masih menunggu cerita Hana yang menggantung membuat lelaki itu penasaran.
"Maaf Ka Ali, tapi Bella berkata kalau Paloma sekarang sudah meninggal."
"What?."
Ali syok mendengar perkataan Hana. Dia meremas kuat jari-jari tangannya hingga mengeluarkan bunyi dari sendi tangan Ali.
"Tidak, itu tidak mungkin. Adik ku tidak mungkin sudah meninggal. Bella pasti berbohong. Aku akan ke kantor polisi untuk bertanya langsung padanya!."
"Tunggu Ka."
Hana menahan tangan kekar Ali ketika dia berdiri dari tempat duduknya, untuk pergi ke kantor polisi. Hana lalu menarik tangannya agar kembali duduk di samping ranjang rumah sakit dimana Hana berada.
"Papa dan Rangga sudah berada disana. Ka Ali disini saja temani aku sebentar. Mama sedang pulang ke rumah mengambil beberapa baju gantimu. Tunggu lah sampai mama datang Ka Ali."
Hana memelas menatap Ali yang gemas sendiri melihat tingkah manja wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
"Baiklah tuan putri, anything for you."
Ali mencubit pelan hidung mancung Hana dengan gemas. Mereka saling bersitatap selama beberapa menit hingga membuat keduanya salah tingkah sendiri.
"Eh.. Bagaimana kau tahu aku selalu menemani mu disini Hana?."
Ups..
Hana sontak menutup mulutnya, oh tidak aku keceplosan. Ka Ali kan tidak tahu kalau aku sudah sadar dari tiga hari yang lalu. Gawat bagaimana ini?
Hana gelagapan berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ali padanya.
"Mama yang memberitahu ku Ka Ali."
Hana menggaruk kepalanya yang tidak gatal tanpa mau menatap manik mata hitam Ali, yang sedang melihatnya dengan tajam.
Tiba-tiba Ali menggenggam kedua tangan Hana, membuat wanita cantik itu salah tingkah dan merona.
"Berjanjilah padaku untuk menjaga dirimu sendiri mulai sekarang Hana. Jangan pernah libatkan dirimu lagi dalam hal-hal yang berbahaya. Aku tidak akan sanggup melihat kau terbaring lagi di rumah sakit seperti kemarin. Aku akan selalu berada disamping mu dan menjagamu mulai detik ini."
Hana semakin memerah mendengar ucapan Ali barusan, hatinya membuncah dengan perasaan penuh kebahagiaan. Oh my God haruskah aku berpikir ini adalah bentuk pernyataan cinta Ka Ali untuk ku?.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Akan ada up setiap harinya
Jangan lupa Like and Vote 🌹**