
Pagi ini Paloma bangun dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia semakin terbiasa dengan aktifitas setiap pagi mulai dari menyiapkan pakaian, air mandi, sampai sarapannya Alano.
Turun dari lantai dua dia melihat Angelina Hall duduk di meja makan bersama Albert, jam berapa ini mereka bahkan sudah bangun dan menunggu diruang makan pikirnya.
"Selamat pagi Momy."
Paloma hanya menyapa Angelina, dia terlalu malas untuk menyapa pria tua bernama Albert.
"Selamat pagi sayang. Apa Alano sudah bangun?."
"Sudah Mom dia sedang mandi sekarang."
Paloma berjalan mendekati Angelina dan memegang tangan halusnya. Alano memang sudah bangun saat Paloma keluar dari kamar.
"Baiklah. Apa kau akan membuat sarapan sayang?."
"Iya Mom. Tunggu sebentar ya Mom aku akan segera menyiapkannya."
Paloma melangkah menuju dapur, ia sempat melirik Albert yang sedang menatapnya tajam. Paloma tahu kalau tatapan itu bermakna dia harus melakukan rencananya untuk meracuni Alano.
Albert memang berencana untuk mengawasi langsung Paloma, dia masih ragu jika Paloma memang menjalankan rencananya sesuai perintah. Namun Albert tidak bisa berkutik saat dia melihat Angelina sudah duduk lebih dulu diruang makan.
Paloma membuat spaghetti pagi ini dan menyiapkannya di meja makan saat Alano sudah duduk manis disana. Dari semalam mereka belum saling berbicara satu sama lain, Paloma yang malas untuk bicara sedangkan Alano merasa bersalah hingga terlalu malu untuk berbicara pada Paloma.
Angelina mencoba meraih serbet untuk membersihkan mulutnya. Paloma dengan sigap berdiri dan mengambil serbet diatas meja lalu mengusap pelan bibir mertuanya.
Alano tersenyum tipis melihat perhatian kecil Paloma pada Ibunya, kau baik sekali Paloma maaf karena aku sudah sedikit kasar berbicara padamu kemarin.
"Pablo akan menemuimu sebentar dikantor Alano, dia ingin membahas beberapa tender denganmu."
Albert berbicara setelah mereka selesai makan. Alano hanya mengangguk mengiyakan perkataan Albert, dia malas sekali membicarakan pria licik itu. Apalagi dia tahu jika mereka berdua bersekongkol ingin menjatuhkannya.
"Momy aku berangkat dulu kekantor."
Alano berdiri dari tempat duduknya dan mencium kening Angelina dengan lembut. Paloma melihat kedekatan Ibu dan anak itu, sangat indah pikir Paloma.
Seketika bayangan Ayah dan Bundanya terlintas dalam pikirannya, dia juga selalu melakukan itu jika ia akan pergi ke kampus atau perusahaan. Mata Paloma terasa panas hatinya berdenyut merindukan Ayah dan Bundanya.
Setelah pamit Alano dan Paloma berangkat ke kantor dengan Dave yang selalu setia mengantarkan kemanapun mereka pergi. Apa mereka masih bertengkar? Dave melirik dari kaca spion melihat Bos besarnya dan Paloma masih diam-diaman, bahkan mereka terlihat kompak hanya menatap keluar jendela.
Sampai diruang CEO Paloma membacakan jadwal harian Alano seperti biasa dan berdiri menunggu perintah selanjutnya.
"Duduklah disofa Paloma, ada yang harus kau lihat."
Alano berjalan kearah sofa diikuti Paloma dari belakang. Paloma duduk di sofa single ia tidak mau dekat-dekat dengan Alano. Tak lama Dave masuk kedalam ruangan bersama Cecil, dia terlihat sangat senang karena baru sekarang dia dipanggil langsung oleh Bos besarnya. Kata Dave ada yang ingin Alano bicarakan dengannya.
Dave memutar sebuah video dilayar LCD, wajah ceria Cecil berbuah saat melihat video rekaman dirinya berada diruangan CEO kemarin. Keringat dingin membasahi dahinya, kemarin dia sengaja mematikan CCTV diruangan Alano agar tidak ada yang tahu kalau dia masuk kedalam ruangan ini.
Paloma menatap tajam Cecil yang duduk didepannya, dia tidak mengerti kenapa Cecil mengutak atik laptopnya dan sepertinya rekaman itu diambil kemarin. Tunggu, apa Cecil yang merubah isi file laporan keuanganku? Apa dia sengaja ingin membuatku malu kemarin? Oh sial!.
Tiba-tiba saja Cecil berlutut dilantai dan bersujud, "Maaf Maafkan aku Bos. Aku tidak bermaksud untuk merusak laporan keuangan perusahaan. Aku hanya ingin mengecek laporan yang dibuat oleh Nona Paloma apakah sudah selesai atau belum. Aku tidak tahu kalau laporannya bisa tertukar kemarin."
"Jadi maksudmu file itu menukar dirinya sendiri, begitu?."
Alano menatap Cecil dengan tatapan membunuh ingin sekali dia mematahkan jari-jari perepmpuan ini.
"Tidak Bos, maaf maafkan aku."
"Kenapa kau minta maaf padaku? Apa aku memintamu untuk meminta maaf?."
Suara Alano sudah terdengar dingin dia mulai jengah melihat kelakuan Cecil saat ini. Cecil terdiam diapun berdiri dan berjalan mendekati Paloma dan menjatuhkan dirinya dibawah kaki Paloma. Ia bersujud meminta maaf memohon pengampunan Paloma. Dia tahu kalau kesalahannya sangatlah fatal dan tidak bisa dimaafkan. Shit! harusnya aku tidak bermain-main dengan Tuan Alano.
Paloma gelagapan tidak tahu harus berbuat apa, dia memang marah dengan perbuatan Cecil padanya tapi dia tidak pernah menyangka jika Cecil akan berlutut meminta maaf. Bahkan kalau Paloma tidak menarik kakinya perempuan itu pasti sudah mencium kakinya.
"Berdirilah Cecil kau tidak perlu berlutut. Sudah aku sudah memaafkan kesalahanmu. Cepat berdiri jangan seperti ini!."
Paloma menarik tangan Cecil untuk berdiri namun Cecil belum berani beranjak dari sana selama Alano belum bersuara.
"Bawa dia keluar Dave, lakukan apa tugasmu!."
Alano berdiri dari sofa dia sudah cukup melihat drama memuakkan didepannya. Dave menarik paksa tangan Cecil, dia masih berteriak meminta maaf pada Alano agar mengampuninya. Dia tahu kalau Alano sudah memberi perintah pada Dave seperti itu maka pasti orang itu tidak akan selamat.
"Nona Paloma, maafkan aku tolong aku Nona Paloma."
Cecil terus meronta sampai Dave membawanya keluar dari ruangan CEO. Paloma hanya bisa menatap Cecil yang diseret keluar tanpa tahu harus berbuat apa.
"Jangan kau pikirkan lagi Paloma dia akan mendapat hukumannya karena sudah berani bermain denganku. Aku minta maaf atas kesalahanku padamu kemarin, aku tahu tidak sepantasnya aku bicara seperti itu padamu."
Alano menatap penuh harap pada Paloma, rasa bersalah terus menyelimutinya sejak kemarin dan membuat dia tidak tenang.
"Sudahlah lupakan saja. Ayo kembali bekerja." Paloma berdiri dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya.
Sementara itu Cecil dibawa Dave ke sebuah pulau tak berpenghuni dan terdapat banyak hewan buas dengan kesepuluh jari yang sudah patah. Dave membuang Cecil disana karena sudah berani bermain-main dengan Alano Lodovico Bos besarnya.
Ya siapapun yang mencoba bermain api akan terbakar, siapapun yang mencoba mengusik ketenangan Alano Lodovico dia tidak akan segan-segan untuk menghabisnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Author masih up 1 episode yaa guys masih sibuk soalnya
Jangan lupa Like Vote and Rate
Terima kasih 🌹**