
"Hei, jangan tinggalkan aku sayang."
Kevin menarik tangan Poly istrinya untuk sedikit menjauh dari Alano. Dia tidak terima jika Poly dekat-dekat dengan Alano menantunya.
Poly sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah posesif suaminya yang tidak pernah berubah sejak dulu.
Alano memperhatikan interaksi pasangan suami istri itu dari belakang, hatinya terasa hangat melihat keharmonisan mereka berdua. Dia jadi rindu dengan Dady dan Momy nya, yang jika masih hidup mereka pasti juga akan terlihat serasi seperti kedua mertuanya itu.
"Ada apa Al? Kenapa melamun seperti itu? Apa ayah berbicara yang tidak-tidak padamu?."
Paloma membuyarkan pikiran Alano tentang kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Apa yang kau katakan Paloma, ayah sama sekali tidak bicara apa-apa padanya!."
Kevin menyela pembicaraan pengantin baru itu dan masuk diantara mereka berdua. Paloma berdecak melihat tingkah ayahnya yang selalu bertindak semaunya saja.
"Ehem... permisi semuanya, perkenalkan ini adalah menantu ku Alano Lodovico. Mulai hari ini, dia telah resmi menjadi bagian dari keluarga Hendrawan."
Semua yang berkumpul disana bertepuk tangan dan menyambut hangat pria tampan itu.
Ali sedikit tidak percaya kalau adik tersayang nya sudah menikah sekarang. Rasanya dia kemarin dia baru saja memeluk dan menangis meminta permen padanya. Namun sekarang adik kecilnya itu bahkan sudah memiliki keluarga sendiri.
"Selamat yah dik, kau bahkan sudah mendahului kakak mu ini."
Ali mengusap kepala Paloma dan sedikit mengacak-acak rambut panjangnya.
"Ka Ali, rambut ku jadi berantakan nih."
Paloma menggerutu dengan tingkah yang sangat menggemaskan.
Alano sedikit kesal melihat pria lain menyentuh istrinya, meski mereka adalah keluarga Paloma sekalipun.
"Kau sangat beruntung mendapatkan adik ku Alano, tolong maklumi dia jika nantinya dia akan sedikit menyusahkan mu dengan semua tingkah manjanya."
"Hahaha... aku memang sangat beruntung bisa menikah dengan malaikat seperti Paloma. Dan aku justru akan merasa sangat bahagia, jika dia selalu bersikap manja padaku."
Paloma merona mendengar ucapan Alano yang terdengar begitu manis di telinganya. Mereka tertawa melihat sikap malu-malu yang ditunjukkan Paloma.
Di ruang keluarga sudah berkumpul orang-orang yang sangat Paloma sayangi. Meski Kerta dan Samantha tidak bisa ikut karena harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga Austin, namun Paloma bersyukur karena dia masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarganya.
Entah apa jadinya jika waktu itu Albert Hall langsung membunuh dirinya, begitu dia tiba di Italia. Tidak tahu apa dia harus berterima kasih pada paman Alano itu, atau justru membenci nya karena membuat mereka kehilangan Angelina Hall Ibu mertuanya.
"Perusahaan kami sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan mu sejak dulu. Tapi kami sering tidak mendapatkan kesempatan secara langsung untuk bertemu dengan CEO Lodovico, Corp. Namun siapa sangka kalau CEO nya sekarang, sudah menjadi adik ipar ku."
Ali tertawa merasa lucu dengan kenyataan yang menurutnya sangat tidak biasa itu, mengingat Alano yang sangat susah dia temui sebelumnya.
"Jadi, perusahaan yang sering kau katakan waktu itu adalah perusahaan milik Alano, Ali?."
Kevin menyela pembicaraan antar lelaki keluarga besar Hendrawan, dimana Alano juga sedang duduk bersama mereka ditemani sang asisten pribadinya yang berdiri di belakang kursi tempat Alano duduk.
"Iya ayah. Harusnya ayah bangga memiliki menantu seperti tuan Alano Lodovico, pengusaha muda dan sukses dari negara Italia dan cukup dikenal di beberapa negara. Dia juga memiliki perusahaan cabang yang tersebar di negara Asia dan Amerika. Semua perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Lodovico, Corp selalu berhasil dengan keuntungan yang sangat besar."
Semua yang mendengar perkataan Ali barusan menatap kagum pada menantu keluarga Presiden itu.
"Luar biasa. Kau memang pantas menjadi menantu ku!."
Kevin memukul pelan pundak Alano, dia sangat senang karena anak perempuan nya tidak salah menikah dengan pria baik dan bertanggung jawab seperti Alano.
Selain itu Alano juga berhasil membawa perusahaan nya menjadi salah satu perusahaan yang sukses dalam bidang properti dan eksport import kebutuhan pangan. Kevin yakin jika Alano pasti bisa membahagiakan Paloma putrinya.
Dave yang setia berdiri di belakang Alano pun ikut menjadi bahan pembicaraan keluarga Hendrawan. Mereka memuji kehebatan asisten Alano itu, yang selalu bisa diandalkan dalam hal membantu bos besarnya menjalankan perusahaan Lodovico, Corp.
Hana mendekati Paloma yang tampak bahagia melihat Alano diterima dengan baik oleh keluarganya.
"Selamat ya Paloma, aku tidak menyangka kau telah mendahului kami semua disini."
Paloma tersenyum mendengar ucapan Hana sahabat terbaiknya sejak dulu.
"Kau juga segeralah menyusul ku. Kau tahu kalau Ka Ali sudah lebih tua sekarang. Sudah saatnya kau menemani dia."
Hana sontak salah tingkah, dia memang sudah menceritakan pada Paloma kalau mereka sekarang sudah menjadi sepasang kekasih.
Paloma ikut bahagia karena akhirnya, perasaan putri Ketua MPR RI itu bisa terbalaskan juga oleh kakak tirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 2 episode
Like and Vote 🌹**