The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Paket



Sudah lima hari lamanya Sentosa tidak ada kabar. Berita menghilangnya Wakil Ketua MPR RI itu viral di seluruh berita tanah air maupun media sosial.


Istri Sentosa histeris dan seperti orang linglung mencari keberadaan suaminya. Tidak ada yang tahu kalau Sentosa pergi ke Italia selain Bambang teman nya.


Sial! Kemana kau Sentosa. Bambang duduk dengan resah diruang kerjanya, dia sedang menunggu telepon dari Orang suruhan nya di Italia untuk mencari keberadaan Sentosa disana.


Tok.. tok.. tok...


Pelayan rumah Bambang masuk dan membawa sebuah paket berukuran cukup besar dan tertutup rapat.


"Permisi tuan, ada paket dari Italia untuk tuan."


Bambang mengambil paket tersebut dan menyuruh pelayan itu keluar dari ruang kerjanya. Tertulis alamat pengirim berasal dari Italia namun tidak ada nama pengirimnya disana.


Bambang mengambil pisau lipat di saku jasnya dan mulai membuka perlahan lakban yang menempel erat dipaket tersebut.


Perasaan Bambang tidak karuan selama membuka paket itu, entah mengapa dia langsung terpikir Sentosa yang sudah menghilang berhari-hari.


"Aaaaaa...."


Bambang berteriak histeris melihat isi paket tersebut. Paket itu memang sengaja dikirimkan oleh anak buah Alano untuk Bambang yang berisi kepala Sentosa yang telah diawetkan.


Tangannya bergetar menahan rasa takut dengan peluh bercucuran dari dahinya.


"Ada apa sayang?."


Istri Bambang mengetuk pintu ruang kerja suaminya dari luar saat mendengar teriakan nya tadi. Bambang buru-buru menutup kembali paket tersebut tanpa ingin melihat kembali isi di dalamnya.


Bambang berlari membuka pintu ruang kerjanya sebelum istrinya masuk kedalam.


"Aku baik-baik saja sayang. Tadi aku hanya sedang berbicara dengan Pak Presiden saja."


"Kau yakin kau tidak apa-apa sayang?."


Istri Bambang menatap penuh khawatir wajah suaminya, dia melihat ada guratan kecil disana dan keringat yang membanjiri dahi Bambang.


"Iya sayang, kau tidak perlu khawatir. Pergi, temanilah putri kita dibawah. Dia pasti ingin menghabiskan waktu bersamamu."


"Baiklah sayang."


Bambang mengecup dahi istrinya sebentar sebelum dia masuk kembali ke ruang kerjanya.


Brengsek! Siapa yang mengirim paket ini. Jadi Sentosa sudah mati, pantas saja aku tidak bisa menemukannya disana. Bambang berkeringat dingin mengingat paket yang dibukanya tadi di atas meja.


"Apa Albert Hall yang sudah membunuhnya? Tapi dia sendiri juga ikut menghilang sejak malam itu. Apa sudah ada yang mengetahui semua perbuatan kami selama ini?."


Bambang melempar bantal sofa yang dia pegang ke lantai. Dia lalu mengambil ponsel dan memanggil orang kepercayaannya keruang kerja.


Bambang tahu jika seseorang yang sudah mengirimkan paket ini, ingin memberi peringatan padanya. Kali ini dia tidak boleh gegabah sebentar lagi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden akan segera dilaksanakan. Dia harus memastikan agar dirinya bisa menjadi Wakil Presiden sehingga perbuatan kejinya ini tidak akan bisa diketahui publik.


"Bawa paket itu keluar dari sini dan pastikan tidak ada yang mencurigainya. Perketat penjagaan di sekitar rumah dan terus awasi istri dan anakku kemana pun mereka pergi!."


"Baik tuan."


Orang kepercayaan Bambang keluar dari sana sambil membawa paket eksklusif berisi kepala temannya Sentosa Abdi Djoyo.


Drrt.. drrt.. drrt...


Bunyi ponsel Bambang yang bergetar dan terlihat nama Bella disana.


"Ada apa?."


Diam mendengarkan.


"Bagus, temui aku sebentar malam di tempat biasa. Pastikan tidak ada yang mengikutimu!."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Hari ini Up 2 episode


Like and Vote


Terima kasih 🌹**