
Alano tampak terkejut saat melihat Pablo Dominic duduk diantara para pemegang saham diruang rapat, disampingnya ada Albert Hall sedang duduk dan menatapnya dengan tajam. Pablo diperkenalkan sebagai pemegang saham yang baru menggantikan Juan Felix dengan kepemilikan saham sebesar 20% di perusahaan Lodovico, Corp.
Juan Felix adalah pemilik saham terbesar kedua setelah Alano, dengan saham itu Albert dan Pablo yakin kalau anggota direksi yang lain bisa dengan mudah dia pengaruhi untuk melengserkan Alano dari kursi CEO.
"Aku sangat terkejut kalau ternyata seorang mantan napi bisa dengan mudah mendapatkan saham yang cukup besar dari tuan Juan." Alano menyindir Pablo sambil menatapnya mengejek.
"Terima kasih CEO Alano aku anggap itu sebagai pujian." Pablo tersenyum sinis kearah Alano, dia lalu melirik kearah Paloma yang berdiri disampingnya. Cantik juga istri Alano pikirnya dalam hati.
Rapat direksi hari itu membahas tentang pembelian bangunan yang ada di Venesia, rencananya bangunan itu akan diubah menjadi resort mewah. Alano sudah lama mengincar bangunan itu hingga terdengar kalau pemiliknya akan menjual bangunan tersebut karena membutuhkan uang untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit keras.
"Saya tidak setuju harganya terlalu tinggi hanya untuk bangunan yang tidak terlalu luas seperti itu." Pablo menginterupsi rapat saat mereka membahas mengenai harga bangunan.
"Oh ya lalu bagaimana menurutmu harga yang pas tuan Pablo?." Alano melipat tangannya didepan dada menatap remeh Pablo, dia sudah yakin kalau Pablo akan mencoba mempengaruhi anggota direksi yang lain agar bangunan itu tidak jadi dibeli.
"Menurutku kita harus menawar dari setengah harga yang diminta penjualnya, karena bangunan tersebut berada jauh dari pusat kota dan untuk sampai kesana membutuhkan perjalanan sekitar setengah jam lamanya. Aku rasa kurang efektif jika kita membangun sebuah resort disana apalagi dengan harga beli yang begitu tinggi, kita hanya akan menghabiskan milliaran dollar sia-sia disana."
Pablo berbicara panjang lebar didepan dewan direksi yang lain dengan percaya diri, Albert yang mendengar penuturan Pablo tersenyum tipis ia yakin kalau Alano tidak bisa berkutik jika dewan direksi yang lain menolak rencana pembelian bangunan dan pembangunan resort mewah di Venesia.
"Sepertinya kau tidak membaca dengan cermat laporan yang ada di depanmu tuan Pablo."
Alano berdiri dari tempat duduknya dengan tangan didalam saku celana, ia menatap tajam satu persatu anggota dewan direksi yang ada diruang rapat dan memutari meja bundar itu.
Salah seorang dewan direksi bersuara, "Maaf tuan Pablo bangunan tersebut sudah lama kami incar dan bangunan itu sudah kami observasi selama ini. Mengenai bangunan yang jauh dari pusat kota kami memang sengaja memilih bangunan itu karena begitu resort dibangun kami akan membuka jalan yang lebih luas agar wisatawan lebih nyaman dengan pemandangan menikmati hamparan laut yang ada disepanjang jalan menuju ke resort."
Alano tersenyum tipis mendengar penuturan salah satu anggota dewan direksi, sedangkan Pablo terdiam dengan penjelasannya.
"Sebaiknya kita kaji lagi mengenai pembelian bangunan tersebut."
Kali ini Albert angkat suara dia tidak mau kalah begitu saja dalam rapat direksi ini
"Bangunan itu tetap akan dibeli!."
Alano berucap dengan lantang, kalau sudah seperti ini tidak akan ada yang berani melawannya karena apapun perkataan CEO itu adalah mutlak apalagi mereka tahu Alano tidak suka dibantah.
"Silahkan Nona, wanita cantik seperti anda tidak pantas berdiri terlalu lama. Sepertinya anda asisten yang sangat setia hingga mau berdiri berjam-jam disamping bosmu." Pablo tersenyum manis menatap Paloma, ia sengaja melakukan itu didepan Alano karena tak ada yang tahu identitas Paloma sebagai istri sahnya.
"Terima kasih tuan." Paloma membalas senyum Pablo tak kalah manis.
Deg
Jantung Pablo berdetak cepat melihat senyum indah Paloma, mata Pablo tak berhenti memandang wajah cantik dengan manik mata hitam dan bibirnya yang merah merekah.
Alano yang melihat interaksi antara Paloma dan Pablo berdehem seraya menarik tangan Paloma keluar dari ruang rapat. Semua mata memandang tak percaya apa yang baru saja mereka lihat, pasalnya Alano tidak pernah memegang tangan orang sembarangan apalagi orang tersebut adalah wanita dengan status sekretaris pribadinya.
Alano membawa Paloma masuk kembali kedalam ruangan CEO miliknya, dia masih setia menggenggam tangan Paloma sampai mereka masuk kedalam ruangan.
Cecil mengarahkan pandangan matanya mengikuti kedua orang itu yang terlihat mesra dimatanya, Damn! aku bahkan tidak pernah digandeng seperti itu oleh Bos Alano.
"Sampai kapan kau akan memegang tanganku Alano? Aku bukan seekor sapi yang kamu tarik-tarik seperti ini!." Paloma mendengus sebal melihat tangan Alano yang tidak kunjung melepaskannya saat mereka sudah sampai diruangan Alano.
"Kenapa, apa kau tidak suka? Bukannya tadi kamu sangat senang waktu Pablo mengambilkanmu kursi dan tersenyum padamu Paloma."
Alano menarik tangan Paloma dan mengunci tubuhnya kedinding, deru nafas Alano dapat Paloma rasakan diwajahya. Paloma sontak salah tingkah dan merona merah, ia berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubuh kekar Alano agar menjauh darinya namun bukannya menjauh Alano makin mendekatkan tubuhnya pada Paloma.
"Lalu kenapa setidaknya dia lebih perhatian dari padamu Alano. Kau malah membiarkan aku berdiri berjam-jam disampingmu, apa kau pikir eemmmmm....."
Paloma terbelalak kaget saat bibir Alano mencium bibirnya, jantungnya terasa berdetak lebih cepat bahkan tubuh Paloma menegang tidak bisa bergerak.
Alano tersenyum dan menjilati bibirnya saat ciuman singkat itu berhenti, wajah putih Paloma memerah dia mengepalkan tangannya dan reflek menampar Alano.
"Dasar gila!." Paloma mendorong kuat tubuh Alano dan berlari pergi dari ruangan Alano.
**Like and Vote 🌹