
"Kau ingin bertemu Al, Pablo?."
Al? Sejak kapan Paloma memanggil Alano dengan panggilan akrab seperti itu? Apa mereka sudah bersama sekarang? Pablo bergumam dalam hati. Dia seakan lupa kalau Paloma dan Alano sudah menikah.
"Pablo?."
"Ah.. iya."
Pablo tersentak saat Paloma memukul pelan pundak nya membuyarkan lamunan lelaki tampan itu.
"Alano sedang ke perusahaan cabang sekarang. Dia bilang tidak akan lama, masuklah ke dalam bersama ku untuk menunggunya."
Paloma membuka lebar pintu ruangan CEO milik suaminya Alano.
"Tapi nona, bos pasti tidak akan senang nona menunggu bersama tuan Pablo di ruangannya."
Kate berusaha mencegah Pablo Dominic yang akan masuk keruangan bos besarnya. Dia tidak mau Alano memarahinya karena membiarkan istri tercintanya berduaan dengan pria lain di ruangan kerjanya.
"Ah.. maaf aku lupa."
Paloma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia lupa kalau Alano tidak suka melihat Paloma dekat dengan Pablo Dominic musuhnya.
"Maaf Pablo aku tidak bisa menemani mu, kau bisa menunggu di ruang rapat jika kau mau."
Pablo tersenyum miris, dia tahu kalau Paloma ingin menghindar darinya karena takut dengan Alano suami posesifnya.
"Bisakah aku bicara dengan mu berdua disini Paloma?."
Paloma gelagapan mendengar ucapan Pablo padanya, kenapa perasaan ku tidak enak?.
Paloma menatap Kate yang masih setia berdiri di sampingnya dan meminta sekretaris itu untuk meninggalkan mereka berdua. Kate tidak bisa membantah karena Paloma meyakinkan nya kalau dia tidak akan kenapa-napa.
"Apa yang ingin kau katakan Pablo?."
Pablo mengatur nafas untuk meredakan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan. Dia lalu menggenggam tangan halus Paloma dan menatapnya penuh arti.
"Aku mencintaimu Paloma."
"What?."
Paloma terbelalak mendengar ucapan Pablo barusan, dia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Pablo.
"Maaf, kau pasti terkejut mendengarnya Paloma. Tapi aku benar-benar mencintaimu, perasaan ku untuk dirimu nyata dan tulus padamu Paloma."
Paloma terdiam dia bingung harus berkata apa pada pria tampan yang berdiri di depannya dan sedang menatap Paloma dengan penuh cinta. Dia bisa melihat kesungguhan di mata tajam Pablo.
"Maafkan aku Pablo. Tapi aku tidak bisa membalas perasaan mu padaku. Aku sudah menikah dengan Alano."
"Aku tahu kau sudah menikah dengannya Paloma, dan aku juga tahu kalian menikah bukan karena cinta. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan rasa cintaku yang tulus padamu Paloma. Aku berjanji akan selalu membahagiakan mu selamanya."
Paloma semakin bingung dia tidak tahu harus menolak bagaimana perasaan Pablo padanya. Paloma sudah berjanji akan membuka hatinya dan mencintai Alano dengan sepenuh hati.
"Apa yang terjadi disini?."
Suara bariton dingin terdengar memecahkan keheningan diantara Paloma dan Pablo.
Alano mendekati Paloma dan langsung mencium mesra dahi istrinya, menunjukkan kepemilikan nya atas wanita cantik berdarah Indonesia itu.
Pablo sontak mundur dan membuang muka melihatnya, hatinya terasa perih saat ini.
"Masuklah ke dalam sayang. Aku akan menemani mu begitu urusanku disini selesai."
Paloma pun mengangguk dan melirik sekilas pada Pablo yang tengah menatapnya penuh harap. Dia masuk dan meninggalkan dua orang pria yang sedang saling menatap tajam.
Suara Alano sedikit meninggi, dia tidak bisa menahan rasa cemburunya ketika mendengar pernyataan cinta Pablo pada Paloma barusan.
Alano tiba di lantai 20 dan terkejut melihat Pablo tengah berbicara dengan Paloma. Meski dia tahu Paloma sedikit tidak nyaman mendengar ucapan Pablo, tapi tetap saja rasa cemburu nya pada pria itu tidak bisa dia tutupi.
Ingin sekali dia menjahit mulut Pablo yang sudah lancang mengatakan cinta untuk istrinya.
"Jangan berpikir karena waktu itu kau sudah menolong Paloma hingga kau memiliki nyali untuk merebutnya dariku!."
Alano menatap tajam Pablo Dominic, pengkhianat yang sudah mengkhianati kepercayaan nya waktu itu.
"Aku hanya akan memperingati mu sekali. Paloma akan selalu menjadi istriku sekarang dan sampai nanti! Jadi berhentilah mengganggu istriku dan buang perasaan mu padanya. Karena sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan nya!."
Alano mendorong tubuh Pablo dan masuk ke dalam ruangannya.
Pablo menarik nafas panjang meredakan hatinya yang sedang bergemuruh hebat saat ini. Dave yang juga berada disana berjalan mendekati pria yang sedang patah hati itu.
"Aku harap anda bisa berpikir lagi untuk merebut nona Paloma dari bos Alano. Karena jika anda masih berusaha macam-macam dengan nona Paloma, aku orang pertama yang akan memastikan Anda hancur sampai tak bersisa!."
Pablo menelan saliva nya susah, dia tahu kalau tangan kanan Alano Lodovico ini tidak pernah main-main dengan ucapannya. Mereka sudah seperti kakak beradik yang saling melindungi dengan perangai yang 11 12 sama. Senang menghabisi siapa saja yang ingin coba-coba bermain-main dengan mereka.
Haruskah aku menyerah sebelum berjuang? Pablo menarik nafas panjang, sepertinya perasaan cintanya tidak akan pernah terbalaskan. Pupus sudah harapan nya untuk bersama dengan sang pujaan hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Like and Vote 🌹