The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Rencana



Ali masih setia menunggu di samping ranjang Hana. Sejak operasi dua hari lalu, Hana masih belum sadar hingga sekarang.


Ali memilih menemani Hana di rumah sakit daripada pergi ke perusahaan Hendrawan, Corp. Dia sudah menyuruh asisten kepercayaannya untuk menghandle pekerjaan disana.


"Kenapa kau masih belum juga sadar Han? Semua orang begitu mengkhawatirkan kamu. Cepatlah sadar Hana, aku berjanji akan selalu menjaga mu di sampingku."


Ali menggenggam lembut tangan halus Hana. Saat dia menghidupkan ponselnya Ali mendapati beberapa panggilan masuk dari Hana. Dia yakin kalau malam sebelum kecelakaan terjadi Hana sempat menghubungi nya untuk meminta pertolongan malam itu.


Ali menyesal karena tidak sempat mengangkat panggilan itu hingga mengakibatkan Hana kecelakaan dan tertembak.


"Aku berjanji akan menyelidiki kecelakaan mu Han, cepatlah sadar Hana. Aku membutuhkan mu."


Ali mencium dahi Hana yang masih menutup mata di ranjang rumah sakit dengan mesra. Tanpa dia sadari tangan Hana mencengkram kuat seprei rumah sakit. Hana sudah sadar sejak dua mendengar suara Ali tadi.


Deg..


Jantung Hana berdetak tidak karuan, apa maksud perkataan ka Ali barusan? Apa dua juga menyimpan perasaan yang sama padaku? Bolehkah aku berharap lebih?.


Mata indah itu perlahan mulai terbuka saat Ali keluar dari ruang perawatan nya. Matanya memerah menahan airmata haru.


Apa cintaku bisa terbalaskan juga akhirnya? Hana mengusap airmata yang jatuh di pipinya ketika dia mendengar suara pintu yang dibuka.


Rangga sahabatnya masuk dan duduk di kursi samping ranjang Hana lalu meletakkan buah segar yang dibawanya ke atas nakas.


"Rangga."


"Oh my God. Kau mengagetkan aku Hana, aku pikir kau masih belum sadar."


Rangga mengelus dada sambil mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah karena terkejut mendengar suara Hana yang memanggil nya tadi.


"Apa yang kau rasakan Hana? Aku akan memanggil dokter dan mengabari yang lain."


"Tunggu Rangga."


Hana menahan tangan Rangga saat dia akan berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kau sudah membaca pesan aku kirimkan padamu?."


"Maafkan aku Han, aku tidak sempat mengangkat panggilan telepon mu malam itu. Aku bahkan baru membaca pesannya kemarin pagi. Aku baru sempat menjenguk mu hari ini karena kemarin aku sedang tugas di luar kota. Maaf yaa Hana."


Rangga mengusap lembut punggung tangan Hana, dia sudah menganggap Hana seperti adik perempuannya sendiri. Rasa bersalah menyelimuti hatinya karena tidak bisa membantu Hana disaat dia membutuhkan nya.


"Sudahlah, tidak apa-apa Ra. Aku baik-baik saja sekarang meski luka tembak dan kepala ku masih nyeri. Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku Rangga. Aku yakin Bella dan pak Bambang tidak akan tinggal diam saat mereka mendengar aku masih hidup."


"Sebenarnya apa yang terjadi Hana? Apa kecelakaan mu waktu itu berhubungan dengan mereka berdua Han?."


Hana pun menceritakan tentang kecurigaan nya pada Bella hingga pertemuan Bella dengan Bambang di restoran Jepang dan kecelakaannya malam itu. Rangga cukup syok mendengar semua penjelasan Hana.


Hana menatap penuh harap Rangga sahabat rasa saudaranya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Aku pasti akan membantu mu Hana. Kau tenang saja, serahkan semuanya padaku."


Rangga tersenyum lembut menatap Hana, dalam hati dia berjanji akan memberi pelajaran pada dua bedebah gila itu. Hana lalu membisikkan rencana yang sudah dia susun di telinga Rangga.


"Jangan sampai ada yang tahu kalau aku sudah siuman Ra, bahkan kedua orang tuaku pun."


Rangga mengangguk mengiyakan setelah mendengar semua rencana Hana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Maafin author yaa hari ini belum bisa update banyak karena anak tercinta author masih demam


Jangan lupa dukung terus karya Author


Like and Vote 🌹**