The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Emosi



"Apa kau baik-baik saja Hana?."


Rangga mendekati ranjang Hana yang masih terbaring disana.


"Aku baik-baik saja Ra, kau tidak perlu khawatir. Terima kasih karena sudah membantu ku."


Seorang dokter dan perawat masuk untuk memeriksa keadaan Hana, mereka lalu mengobati tangan Hana yang sempat terluka karena merebut pisau lipat yang dipegang Bella.


Lina dan Thomas yang baru saja tiba di rumah sakit terkejut melihat ada beberapa anggota kepolisian di depan ruang perawatan putrinya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berdiri di depan ruangan anak ku?."


Thomas bertanya pada salah satu anggota polisi disitu. Belum sempat menjawab pertanyaan Thomas, Lina ibu Hana berteriak histeris melihat anak satu-satunya sudah siuman dan sementara di periksa oleh dokter.


Lina mendekat dan memeluk erat tubuh Hana yang tengah bersandar di ranjang penuh kerinduan.


"Puji Tuhan, anak mama sudah sadar."


Lina mencium wajah Hana hingga Hana kelabakan meladeni ciuman bertubi-tubi dari mamanya.


"Ma, sudah cukup aku baik-baik saja. Aku bukan anak kecil lagi mama cium-cium seperti itu!."


Lina menghentikan ciumannya dan berdecak, dia sungguh bahagia mendapati anak perempuan tercintanya sudah bangun dari kondisinya yang sempat kritis.


Thomas mendekati kedua perempuan yang sangat dia cintai itu dan memeluk mereka berdua dengan erat. Tangis kebahagiaan dan rasa syukur pecah diantara keluarga Ketua MPR RI.


"Terima kasih sayang karena sudah kembali bersama kami."


Thomas mengusap lembut pipi Hana penuh cinta, dia lalu mencium dahi Hana anak kesayangannya.


"Permisi Tan, Om."


Rangga menyela peluk kangen keluarga itu.


"Ada yang harus pihak kepolisian tanyakan pada Hana saat ini."


Thomas dan Lina menatap bingung pada Rangga mendengar ucapan nya barusan.


"Kenapa Ra? Apa yang terjadi? Anak ku baru saja sadar sekarang."


"Tidak apa-apa Pa. Rangga akan menjelaskan semuanya pada kalian di luar."


Hana memotong ucapan ayahnya dan memberi kode pada Rangga untuk membawa kedua orang tuanya keluar dari ruang perawatan.


Rangga lalu mengajak Thomas dan Lina keluar dari sana untuk memberikan kesempatan pada Polisi mengambil beberapa keterangan dari Hana.


Rangga menceritakan kejadian sebenarnya yang telah menimpa Hana putri Ketua MPR RI itu. Mendengar penjelasan Rangga barusan membuat Thomas meradang, dia sampai memukul kursi tunggu yang sedang mereka duduki dengan kuat.


"Kurang ngajar! Berani sekali wanita sialan itu mau membunuh anak ku! Dimana dia sekarang Rangga? Aku ingin membuat perhitungan dengan nya!."


"Tenanglah Om. Dia sudah dibawa ke tempat yang aman. Aku juga sudah menghubungi Bapak Presiden untuk memberitahukan masalah ini padanya. Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak saat ini, mengingat bukti yang kita punya belum cukup kuat untuk menjerat Pak Bambang. Meski Bella sudah mengakui dia juga salah satu pelaku di balik penculikan Paloma, tapi dia tidak menyebutkan keterlibatan Pak Bambang disana. Bukti percakapan mereka malam itu, sudah hangus terbakar bersama mobil Hana."


Rangga mencoba menenangkan emosi Thomas yang tampak memerah menahan amarahnya.


"Benar yang dikatakan Rangga Pa, lebih baik kita menyerahkan kasus ini pada Kevin dan pihak Kepolisian. Yang terpenting saat ini, anak perempuan kita sudah sadar dan baik-baik saja sekarang."


Thomas menarik nafas panjang dan membuang nya untuk meredam emosi yang sudah menggebu-gebu ingin segera menghancurkan Bambang Soesatyo.


"Aku sungguh tidak menyangka Hana akan berpikir untuk merencanakan jebakan ini pada Bella. Dia sungguh lah anak ku, pintar seperti diriku."


Thomas tersenyum tipis mengingat putri tercintanya itu sangat pintar dan bijak dalam setiap mengambil keputusan, hingga jebakan yang sudah dia susun bersama Rangga bisa berhasil menjebak wanita licik seperti Bella anggota Paspampres kepercayaan keluarga Presiden Kevin Hendrawan.


"Hah... entah bagaimana perasaan Poly mendengar berita ini. Poly sangat menyayangi Bella seperti anaknya sendiri. Tidak ku sangka Bella tega mengkhianati kepercayaan keluarga mereka padanya."


Lina menghembuskan nafas panjang membayangkan perasaan Poly Irawan yang juga sudah menjadi sahabatnya sejak dia menikah dengan Thomas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Like and Vote 🌹