
Malam ini Hana akan pergi bersama Ali untuk makan malam di salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta Pusat.
Rencana nya Ali akan melamar Hana secara resmi, meski perempuan itu masih belum mau untuk menikah. Namun Ali berpikir untuk melamar Hana terlebih dahulu sebelum mereka resmi bertunangan.
Menggunakan dress selutut berwarna putih Hana masuk ke dalam restoran, yang ternyata sudah di booking Ali khusus untuk malam bersejarah nya.
Hana memang pergi sendiri kesana bersama supir yang diutus Ali untuk menjemput wanitanya dari rumah.
Hana membola melihat Ali yang tengah berdiri di samping meja restoran, menggunakan setelan tuxedo lengkap yang semakin memancarkan aura berwibawa dan menambah tingkat ketampanan nya.
Harusnya Hana berdebar seperti dulu saat melihat wajah tampan yang selalu menghiasi mimpi-mimpi nya setiap malam. Tapi, debaran itu tidak lagi dirasakan oleh dirinya.
Ali berjalan mendekat kearah Hana yang tampak cantik di matanya, dengan make up tipis yang semakin membuat wanita itu terlihat bak bidadari.
"Kau sangat cantik sayang. Ayo."
Ali menarik kursi dan mempersilahkan Hana duduk. Ali lalu memutari meja dan duduk di depan Hana berada.
Seorang pelayan membawa sebotol wine dan menuangkan nya ke gelas mereka berdua.
"Apa kau suka kejutan ku sayang?."
Ali menggenggam tangan Hana yang berada di atas meja dan mengusap nya lembut.
"Untuk apa semua ini Ka Ali? Aku pikir kita hanya akan malam biasa."
Ali tersenyum penuh arti menatap Hana, perempuan itu hanya merasa aneh saja melihat Ali membooking seluruh restoran cuma untuk makan malam bersama nya. Bagi Hana itu hanyalah sebuah pemborosan yang tidak masuk akal.
"Bagaimana kalau kita makan dulu sayang. Kau pasti sudah lapar kan."
Ali memberi kode pada pelayan untuk membawakan makanan mereka. Sepotong steak menjadi pilihan Ali untuk makan malam ini, mereka makan dalam diam.
Hana memikirkan untuk membicarakan hubungan mereka, tapi Ali justru berusaha menahan kegugupan nya karena baru sekarang dia akan melamar seorang wanita.
Ali makan dengan perasaan tidak tenang, bahkan untuk menelan sepotong daging saja terasa susah di mulutnya.
Hana membersihkan bibir merahnya begitu dia selesai makan. Ali yang melihat itu pun segera mengakhiri makan malamnya meski masih tersisa banyak daging di piring. Pelayan mendekat dan membersihkan meja sebelum acara puncak di mulai.
"Ka Ali, ada yang ingin aku bicarakan."
Hana membuka suara sebelum Ali mengeluarkan kotak cincin di saku celana yang di pakainya.
"Aku juga ada yang ingin ku katakan padamu sayang. Tapi, kau bisa lebih dulu berbicara sayang. Aku akan mendengarkan mu dulu."
Ali berpikir tidak ada salahnya mendengar lebih dulu apa yang akan dikatakan Hana, sebelum dia melamar wanitanya malam ini.
"Aku... Aku ingin mengakhiri hubungan kita Ka."
Bagai di sambar petir Ali terkejut mendengar ucapan Hana, matanya membola tidak percaya dengan perkataan wanita yang sangat dia cintai.
Ali masih berusaha tertawa meski hatinya sangat perih saat ini.
"Maaf Ka, aku sama sekali tidak bercanda. Sekali lagi aku minta maaf Ka Ali, aku tidak bisa melanjutkan lagi hubungan kita. Aku... Aku mencintai pria lain."
Ali tersentak, hatinya sakit bagai ditikam ribuan pisau menancap tepat di dadanya. Sakit tapi tak berdarah.
"Bagaimana bisa Hana, bukan kah selama ini kau selalu mencintai diriku? Bagaimana mungkin sekarang kau bilang, kalau kau mencintai pria lain Hana?."
"Maafkan aku Ka, aku sama sekali tidak pernah bermaksud untuk mempermainkan dirimu. Tapi, aku baru menyadari nya saat pria itu menjauhiku begitu dia tahu kalau aku sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Ternyata, dia sudah berhasil merebut hatiku dan menggantikan posisi Ka Ali yang selama bertahun-tahun ini aku cintai."
"Maaf Ka, mohon Ka Ali jangan marah ataupun sedih. Suatu saat nanti pasti akan ada seseorang yang jauh lebih dari aku, untuk mendampingi dirimu."
Hana tersenyum tidak tega menatap Ali, dia lalu pergi meninggalkan pria tampan yang masih diam mematung di tempatnya.
Ali masih tidak menyangka kalau malam ini justru Hana akan memutuskan hubungan yang belum lama mereka jalani. Wajah tampan itu memerah menahan rasa sakit, kecewa, sedih dan kesal secara bersamaan.
Oh God, inikah namanya di tolak? Begini kah dulu perasaan Hana ketika aku selalu cuek dengan perasaan nya terhadap ku? Ali bergumam dalam hati merasa menyesal mengapa sejak dulu dia tidak pernah menganggap kehadiran dan rasa cinta Hana untuk dirinya seorang. Kini Ali harus rela kehilangan wanita yang sangat di cintainya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 3 episode
Like and Vote 🌹**