
Seperti biasa pagi ini Paloma menemani suaminya Alano Lodovico ke perusahaan, tempat ketua mafia itu bekerja.
Alano memang tidak ingin meninggalkan Paloma sendiri di mansion seperti tempo hari, karena Paloma selalu mengeluh jika dia merasa kesepian ditinggalkan di mansion.
Hari ini rencana nya Alano akan mengerjakan beberapa proyek nya yang sebentar lagi akan segera rampung dan selesai. Dia ingin agar semua urusan nya bisa selesai hari ini juga.
Sesekali Paloma terlihat membantu pekerjaan nya meski sudah dilarang oleh Alano, dia tidak ingin istri cantik nya itu kelelahan mengingat Paloma masih harus banyak beristirahat.
"Apa kau ingin ikut dengan ku besok sayang?."
Alano duduk di samping Paloma yang sedang mengupas jeruk untuk pencuci mulut mereka, setelah makan siang bersama di ruangan CEO.
"Pergi kemana Al?."
Paloma menyuapi jeruk di tangannya ke mulut Alano. Dia pun menerimanya dengan perasaan bahagia, pelan-pelan Paloma mulai membiasakan dirinya melayani Alano sebagai suaminya. Meski belum sepenuhnya Paloma mampu melakukan kewajiban sebagai istri tuan muda itu.
"Yang pasti aku akan membawa mu ke tempat yang sangat ingin kau kunjungi sayang. Sudah lama aku ingin mengajak mu kesana sayang."
"Benarkah? Memangnya kamu tahu darimana kalau aku punya tempat yang ingin aku kunjungi?."
Alano tersenyum penuh arti menatap wajah cantik Paloma. Dia tidak pernah bosan memandangi ciptaan Tuhan yang sangat indah dan selalu tersaji di depan mata setiap harinya.
Alano membelai rambut panjang Paloma dengan lembut. Dia lalu mendekat dan mencium pipi kenyal Paloma yang merona merah, karena tatapan mata tajam dan belaian Alano padanya.
Paloma sontak menjadi salah tingkah sendiri saat merasakan bibir hangat Alano menempel di pipinya.
"Kenapa wajah mu memerah sayang? Apa kau sakit?."
Paloma bersedih mendengar ucapan Alano, dia tahu kalau pria dingin itu hanya ingin menggodanya saja.
Paloma pun berdiri dari sofa berusaha menghindar dari Alano yang semakin gencar menggodanya.
Tidak ingin kehilangan kesempatan menggoda istri cantik nya, Alano menarik tubuh Paloma hingga jatuh menimpa tubuhnya. Tidak sengaja bibir mereka berdua bertemu dan bersentuhan.
Paloma terbelalak kaget saat merasakan lagi bibir hangat Alano mengenai bibir ranumnya. Alano mulai memainkan bibirnya dengan menghi*sap lembut bibir Paloma yang selalu menjadi candu untuknya.
Dia menggigit kecil bibir bawah Paloma hingga membuat wanita itu meringis dan membuka mulutnya. Dengan cepat Alano memasukkan lidahnya ke dalam mulut Paloma, menye*sap dan mengecap isi dalam bibir Paloma.
Alano melepaskan pautan mereka saat Paloma kesulitan bernafas, karena belum bisa mengimbangi permainan lidah Alano yang memabukkan.
Alano tersenyum puas melihat Paloma mencoba mengatur nafasnya dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
"Bibirmu selalu terasa manis di bibirku sayang."
Alano mengusap bibir merah Paloma dengan lembut. Ingin rasanya dia terus mencumbu bibir itu hingga membuat istrinya melayang di bawah Kungkungan tubuh kekarnya.
Namun Alano tidak ingin berbuat lebih dari sekedar ciuman. Dia tahu kalau Paloma sampai saat ini masih belum mau melakukan hubungan badan, meskipun mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sah.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu ruangan CEO di ketuk dari luar. Paloma sontak berdiri dari atas tubuh Alano yang masih setia mendekapnya sejak mereka berciuman tadi.
Paloma mengatur bajunya yang sedikit berantakan akibat ulah Alano yang mencoba memasukkan tangan nakalnya di dalam kemeja yang dipakai Paloma. Alano tersenyum tipis melihat tingkah Paloma yang terlihat gugup.
Dave masuk ke dalam ruangan bos besarnya setelah Alano mempersilahkan dirinya untuk masuk.
"Maaf bos, rapat akan dimulai 5 menit lagi. Semua sudah menunggu bos di ruang rapat."
Alano hanya mengangguk mengiyakan ucapan Dave. Dia pun membungkuk memberi hormat dan keluar dari ruangan itu, menunggu Alano di depan pintu.
Alano mencium mesra dahi Paloma dan mengusap lembut pipinya.
"Besok pagi kita akan berangkat. Kau tidak perlu menyiapkan apapun karena Steven sudah mengatur semuanya sayang."
"Baiklah Al."
Paloma menatap kepergian Alano sampai dia hilang di balik pintu. Paloma masih bisa merasakan dadanya bergemuruh setiap kali Alano menciumi nya.
Paloma menyentuh bibir ranum miliknya sambil terus tersenyum malu mengingat ciuman panas mereka tadi.
"Aku penasaran kemana Alano akan mengajak ku besok. Semoga saja tempat itu benar-benar tempat yang sangat ingin aku kunjungi selama ini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 2 episode
Like and Vote 🌹**