The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Penjelasan



"Kau tahu dari mana Barbara sayang?."


Paloma menatap tajam suaminya yang tampak tidak bersalah menyebutkan nama perempuan lain di depannya.


"Kenapa, memangnya dia siapa mu sampai kau bertanya seperti itu Al?."


Paloma berkata sarkas dengan intonasi yang sedikit meninggi, kesal dengan sikap Alano yang terkesan cuek. Padahal kalau dia sendiri yang cemburu sikapnya lebih menakutkan dari pada Paloma.


Alano menarik nafas panjang, dia berpikir mungkin ini adalah kesempatan yang baik untuk menjelaskan pada Paloma tentang siapa itu Barbara. Dia tidak mau Paloma terus-terusan cemburu padanya.


Alano memegang tangan halus Paloma sebelum dia bercerita dan menatap manik hitam itu.


"Aku tidak tahu kau bisa tahu dari mana tentang Barbara sayang, tapi dia adalah salah seorang yang dulu menghiasi masa kecil ku yang suram. Apa kau mau mendengar penjelasan ku sayang?."


Paloma mengernyit, dia memang belum terlalu tahu bagaimana masa kecil suaminya itu ketika Dady meninggal saat dia berusia 10 tahun.


Paloma pun mengangguk mengiyakan ucapan Alano. Pria tampan itu menyandarkan kepala Paloma ke dada bidangnya dan mencium dahi Paloma penuh cinta.


"Setelah Dady pergi meninggalkan kami untuk selamanya, aku dan Momy sering berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari paman. Karena sejak dulu dia memang ingin menyingkirkan aku agar bisa menguasai perusahaan Lodovico, Corp seutuhnya. Sebagai pewaris tunggal perusahaan dan kekayaan Dady, paman selalu berusaha ingin menghabisi ku. Makanya Momy selalu mengajak ku berpindah-pindah tempat karenanya."


"Aku juga menjadi pribadi yang tertutup dan dingin dengan orang lain sejak Dady meninggal. Sampai suatu hari aku bertemu dengan Barbara, dia adalah teman pertama ku saat itu. Dia selalu datang menemani dan menghibur ku di bawah pohon taman dekat rumah. Kami menjadi dekat mulai saat itu, hingga aku akhirnya harus kembali ke mansion karena paman berhasil menemukan aku dan Momy."


Alano diam sebentar untuk mengatur nafas, mengingat masa kecilnya yang suram sejak kepergian Dady. Paloma mengusap lembut tangan Alano, memberi rasa hangat di hati pria dingin itu.


"Sebelum aku kembali ke mansion, aku bertemu dengan Barbara dan berjanji akan saling mencari saat sudah dewasa nanti. Aku juga sempat berjanji padanya akan menikahi Barbara nanti, ketika kami berdua bertemu kembali."


Deg..


Hati Paloma berdenyut mendengar ucapan Alano suaminya. Dia refleks menghentikan usapan tangan nya pada tangan kekar Alano.


Ada rasa tidak rela saat Alano berkata kalau dia telah berjanji pada seseorang untuk menikahinya, jauh sebelum mereka bertemu. Paloma masih diam tidak ingin menyela pembicaraan Alano tentang masa lalunya itu.


"Aku memang mencari Barbara saat aku berhasil merebut kembali perusahaan dan semua aset milik Dady dari genggaman paman. Meski ada beberapa aset yang tidak bisa aku ambil kembali, karena paman berhasil membalikkan aset-aset tersebut atas namanya."


"Aku mencari Barbara ke seluruh penjuru negara Italia selama bertahun-tahun, sampai akhirnya aku menyerah karena Barbara sama sekali tidak bisa ditemukan. Dia menghilang bak ditelan bumi, hingga malam saat aku sedang bernegosiasi dengan perompak The Pirates dia muncul."


Paloma terkejut mendengar penjelasan Alano barusan, apa? Perempuan itu sudah ditemukan? Jadi Barbara akan kembali ke sisi Alano? Lalu bagaimana dengan diriku? Paloma memendam dalam hati merasa sesak di dalam sana.


"Dia menceritakan padaku kalau selama ini dia dijual oleh ayah tirinya pada seorang psikopat di negara Turki. Aku memang mendapatkan informasi ketika ayahnya meninggal, ibu Barbara menikah lagi namun aku sama sekali tidak tahu kalau ayah tirinya adalah orang yang bejat."


"Beberapa tahun setelah ibunya menikah dengan pria itu, ibu Barbara meninggal dunia. Ayah tirinya yang seorang penjudi dan pemabuk menjual Barbara karena membutuhkan uang, karena itu aku tidak bisa menemukan Barbara selama ini. Ternyata dia dibawa ke negara Turki untuk menjadi pemuas nafsu seorang psikopat yang menjabat sebagai menteri disana. Dia selalu di siksa sebelum lelaki gila itu menyetubuhi Barbara."


Paloma meringis mendengar cerita Alano tentang Barbara yang begitu menyedihkan. Di saat dia mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya, wanita itu justru harus menahan siksaan di usia yang masih muda.


"Jadi maksudmu kau akan menikahinya juga Al?."


Paloma berujar sarkas karena sudah tidak mampu menahan gejolak panas dalam dirinya, mendengar Alano akan menjaga Barbara disisinya.


"Oh my, tentu saja tidak sayang. Untuk apa aku menikahinya sedang kan aku sudah menikah dengan dirimu sayang. Lagipula aku sudah memberi tahukan nya kalau sekarang aku sudah menikah dengan orang yang sangat aku cintai. Aku sudah menganggap Barbara layaknya adik ku sendiri sayang."


"Lalu bagaimana dengan janjimu padanya Al? Apa kau akan mengingkarinya?."


Paloma menatap lekat manik mata cokelat Alano, dia memang sudah melepaskan diri dari dekapan hangat tubuh kekar Alano.


"Sayang, dengarkan aku. Sekarang aku sudah menikah dan jika kau meminta ku untuk memilih, aku tetap akan memilih dirimu sayang. Dia hanyalah masa laluku, meski aku sendiri yang berjanji untuk menikahinya tapi sekarang hati dan jiwa ragaku hanya ada nama mu seorang. Aku hanya bisa melindungi dirinya sebagai seorang kakak terhadap adiknya, dan aku harap kau menerima Barbara nantinya sayang."


Hah... Paloma menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Alano, dia sedikit merasa tenang karena Alano tidak akan menikahi wanita masa kecilnya itu.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan mu Al, aku akan menerimanya sebagai adikmu. Tapi berjanjilah padaku untuk jangan pernah menyembunyikan apapun lagi padaku Al!."


"Iya sayang aku berjanji padamu. Terima kasih karena mau menerima Barbara sayang."


Alano mencumbu lembut bibir ranum Paloma yang selalu menjadi candu untuk nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Jangan baper yaa Alano hanya menganggap Barbara seperti adiknya 🤭


Like and Vote 🌹**