The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Alat pelacak



Malam ini mereka menginap di Eurostars Hotel Excelsior yang memiliki kamar elegan dengan kamar mandi marmer di hotel kelas atas yang dilengkapi restoran di atap dan gym.


Hotel ini berada didekat pantai dan Marina di jantung Kota Napoli, Alano memesan kamar Deluxe dengan view pemandangan laut yang indah.


"Aaaa...!" Paloma berjengkit kaget saat melihat Alano duduk di kursi sofa dalam kamarnya, hampir saja handuk yang ia pakai lepas dari badannya.


Ya, Paloma baru selesai mandi. Dia hanya memakai handuk menutupi tubuh putih mulusnya itu, Paloma pikir jika dikamar hanya ada dirinya sendiri tapi ia begitu terkejut ketika melihat Alano sedang duduk menatap tajam padanya.


"Apa yang kau lakukan di kamarku Alano?" Paloma balik menatap tajam Alano sambil menutup dadanya dengan tangan.


"Kamarmu? Apa aku perlu mengingatkanmu status kita berdua sekarang Paloma?" Alano mengangkat salah satu alisnya dan berbicara dengan angkuh.


Hah ... Paloma membuang nafas dengan kasar, tidak ada gunanya berdebat dengan pria sombong ini pikirnya. Alano berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Paloma.


Paloma yang melihat Alano berjalan semakin mendekatinya mundur kebelakang hingga membentur dinding kamar hotel.


Jujur saja Paloma sangat gugup saat ini, dia takut jika Alano akan berbuat tidak benar padanya, ya meskipun itu tidak masalah karena mereka sekarang sudah sah menjadi suami istri.


Alano melemparkan paper bag ke arah Paloma. "Jangan berpikiran aneh Paloma, aku hanya ingin memberikan baju gantimu."


Alano tersenyum puas melihat Paloma yang berubah merah karena malu, ternyata dia berhasil mengerjai perempuan cantik itu.


Alano lalu berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Paloma yang mengumpat dalam hati.


"Sialan! Aku dikerjai." Paloma mengusap kasar wajahnya.


Iapun berjalan menuju walk in closet untuk memakai baju yang diberikan Alano padanya.


Selesai berganti pakaian, Paloma duduk disofa sambil menonton Tv. Dia menunggu Alano yang sedang mandi. Daritadi perutnya sudah keroncongan minta diisi.


Sepuluh menit menit kemudian Alano keluar dari kamar mandi memakai pakaian santainya, baru sekarang Paloma melihat Alano memakai celana pendek dan kaus oblong yang menampilkan dada bidang milik Alano dengan roti sobeknya.


Memikirkan itu wajah Paloma mendadak merona ia segera mengalihkan pandangan matanya kembali ke Tv.


Tok.. Tok.. Tok..


Bunyi ketukan pintu dari luar kamar hotel.


Paloma yang mendengarnya segera berdiri untuk membuka pintu. Dia masih malu duduk berdua dengan Alano karena kejadian sehabis Paloma mandi tadi.


Ketika pintu dibuka, seorang Bellboy tersenyum dan menyapa Paloma menggunakan bahasa Itali, ia mendorong Luggage Trolley yang berisi banyak makanan ke dalam kamar Paloma dan Alano.


Paloma menatap makanan yang kini berada di depannya, ia sudah tidak tahan untuk mencicipi satu per satu makanan itu.


Perut Paloma berbunyi dengan nyaring hingga Alano dan Bellboy yang sedang meletakkan makanan diatas meja tertawa kecil mendengarnya.


Paloma hanya bisa tersenyum kikuk dan menundukkan wajahnya menahan malu.


Setelah Bellboy itu keluar Paloma langsung mengambil beef steak diatas meja dan memakannya, dia tidak mempedulikan Alano yang sedang menatapnya tajam.


Persetan dengan manusia dingin itu, aku sudah sangat lapar daritadi. Paloma berbicara dalam hati sambil mengunyah makanan.


"Hah ... kenyangnya." Paloma menepuk perut ratanya yang agak membuncit karena kekenyangan, ia mengambil serbet dan mengusap bibirnya.


"Bagus kalau kau sudah kenyang, sekarang saatnya kita bicara." Alano yang daritadi melihat Paloma tidak berhenti makan menyingkirkan piring-piring bekas mereka makan yang ada di atas meja.


Paloma mematung mendengarkan perkataan Alano, ia tahu kalau saat ini Alano sedang ingin berbicara serius dengannya.


Paloma yakin jika pembicaraan mereka berhubungan dengan Albert Hall. Paloma seketika itu juga langsung berubah gugup, keringat membasahi dahinya meskipun kamar tersebut begitu dingin.


Paloma membelalakkan mata mendengar perkataan Alano, dia tahu kalau Alano pasti sudah mencurigainya dari awal sejak Albert mengatakan akan menikahkan mereka berdua.


"Aku juga tahu kalau kau diculik olehnya dan membawamu ke pasar gelap waktu itu, dia juga berpura-pura membelimu untuk dinikahkan denganku. Tapi aku ingin tahu kenapa kau mau mengikuti perintah pamanku untuk menikah denganku, aku rasa kalau kau dibayar itu tidak mungkin karena kau tidak akan kekurangan uang sepeserpun." Alano berbicara panjang lebar baru sekarang dia berbicara banyak dengan orang lain selain ibunya.


Paloma diam, meremas kuat jari jemarinya ia bingung harus berkata apa.


Apa dia harus jujur atau berbohong pada Alano, mengingat nyawa kedua orangtuanya ada ditangan Albert Hall?


Belum lagi ia yang memakai alat pelacak yang bisa merekam pembicaraan mereka, Albert bisa mendengarkan isi percakapan mereka melalui chip kecil yang ada di anting Paloma.


Paloma berdiri dari tempat duduk dan mencari kertas serta pena di atas nakas, ia menuliskan sesuatu di kertas itu dan memberikannya pada Alano.


...Aku tidak bisa bicara soal itu karena saat ini di tubuhku ada alat pelacak yang bisa merekam pembicaraan kita....


Alano yang membaca tulisan itu mengambil handphone disampingnya dan mengirim SMS pada Dave untuk membawa sesuatu kedalam kamar mereka.


Lima menit kemudian Dave mengetuk pintu kamar hotel bos besarnya, Alano lalu membuka pintu kamar dan menyuruh Dave masuk.


Paloma membuka anting yang ia pakai atas kode yang diberikan Alano padanya, Paloma mengikuti instruksi Alano dengan membaca pesan yang ia tulis pada tab.


Paloma seakan-akan menjawab pertanyaan Alano tadi tentang pembicaraan mereka mengenai Albert, ia mengatakan kalau kecurigaan Alano tidaklah benar. Paloma tidak mengenal Albert bahkan ia tidak tahu siapa yang menculiknya hingga membawa Paloma ke Italia dan dijual di pasar gelap malam itu.


Sementara mereka berpura-pura berbicara tentang skenario yang Alano buat, Dave membongkar dengan hati-hati anting Paloma yang sebelumnya ia pakai.


Didalam anting terdapat sebuah chip kecil yang berfungsi sebagai alat pelacak dan perekam suara, Dave memasukkan chip itu kedalam alat kecil miliknya untuk meng-hack isi program dalam chip agar dia bisa mengatur sendiri kemana Paloma pergi dan apa yang bisa Albert dengarkan pada rekamannya.


Dave memang seorang ahli programmer dan hacker handal sebelum bergabung dengan Mafia Fire Red dan menjadi asisten sekaligus tangan kanan Alano.


Kemampuannya dalam bidang itu tidak perlu diragukan lagi, bersama Alano yang juga seorang hacker. Dave semakin mengasah kemampuannya dalam bidang meng-hacker suatu program.


"Sudah selesai Bos."


Dave berhasil memindahkan program yang ada pada chip itu dan mulai mengisi data keberadaan Paloma beserta rekaman suaranya agar Albert tidak curiga.


"Kau bisa pergi sekarang."


Dave membungkukkan badan memberi hormat dan melangkah pergi dari kamar Alano dan Paloma.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Up 2 episode stay tuned


Like and Vote guys 🌹**