The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Have Fun



*Warning !!!!


Mengandung unsur kekerasan


Pembaca di harap bijak* !!!!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah memastikan Paloma sudah makan malam dan tidur dengan nyenyak, Alano berangkat ke markas Mafia Fire Red bersama Dave menggunakan helikopter.


Udara yang cukup dingin tidak membuat ketua Mafia itu menghentikan langkahnya masuk kedalam penjara dimana tiga orang musuhnya berada.


"Selamat malam Tuan Sentosa."


Alano duduk di kursi yang dibawa Dave kedalam sel. Wajahnya dingin dan memancarkan aura pembunuh.


Sentosa diikat dengan rantai pada kaki dan tangannya, dengan muka yang sudah babak belur akibat pukulan anggota Mafia Fire Red.


"Lepaskan aku!."


Sentosa berbicara dengan lirih menahan rasa sakit di ujung bibirnya. Alano tertawa sarkas menatap tajam Sentosa, dia menginjak kuat tangan Sentosa yang berlutut dihadapan nya.


"Tidak semudah itu tuan Sentosa, aku baru saja akan bersenang-senang denganmu. Setelah aku puas aku akan segera melepasmu!."


Alano tersenyum smirk melihat perubahan ekspresi di wajah Sentosa, dia berpikir apapun yang akan Alano lakukan padanya tidak masalah selama dia bisa keluar dari sini.


Dave berjalan mendekati bos besarnya dan membawa sesuatu di tangannya. Sentosa menelan salivanya dengan susah melihat Alano mengambil sebuah pisau daging dari nampan yang dibawa tangan kanannya.


Alano memberi kode pada anak buahnya yang berada disana untuk menarik tubuh Sentosa dan menaruh tangannya diatas meja.


"Apa yang ingin kau lakukan tuan Alano?."


Sentosa berkeringat dingin melihat aura pembunuh yang keluar dari tubuh Alano.


"Nothing. I just want to have fun with you Mr. Sentosa Abdi Djoyo!."


Alano tersenyum licik, dia mulai menc**incang jari tangan Sentosa. Teriakan kesakitan menggema hingga keseluruh ruangan penjara.


Albert yang mendengar suara teriakan Sentosa berusaha melepaskan ikatan rantai ditangannya, dia tidak ingin mati sia-sia di tempat itu. Meski Albert sendiri tahu malaikat maut akan segera datang menghampirinya. Dia lupa jika kedua kakinya tidak lagi bisa berjalan karena kecelakaan itu.


Sentosa bergetar hebat menahan rasa sakit ditangannya.


"Brengsek! Aku akan membunuhmu Alano!."


Kali ini Alano mengambil cambuk yang dipenuhi kawat dan duri. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengikat Sentosa ke dinding dan mulai mencambuk punggung pria tua itu.


Daging dan darah Sentosa terpancar kesegala arah hingga tulangnya terlihat Alano baru berhenti. Teriakan kesakitan dan putus asa semakin terdengar memilukan di telinga, namun Alano masih belum puas mengingat penyiksaan yang diberikan Sentosa pada Paloma istri tercintanya.


"Aku mohon bunuh saja aku tuan Alano."


Sentosa berbicara disela rasa sakitnya dengan darah yang tak berhenti mengalir dari punggung dan tangannya.


"Sayang sekali tuan Sentosa mati terlalu mudah untukmu. Aku masih belum puas bersenang-senang denganmu!."


Alano tertawa sarkas dia tidak akan membunuh dengan mudah pria tua itu sebelum dia meras puas.


Alano lalu mengambil tang di nampan dan menyuruh nak buahnya membuka mulut Sentosa. Dia mulai mencabuti satu persatu gigi Sentosa hingga tak bersisa. Darah segar mengucur deras dari mulutnya.


Sentosa mulai terlihat lemah karena kehilangan banyak darah, dia pun jatuh pingsan saat itu juga.


Hah.. baru segitu saja dia sudah pingsan! Dasar pria tua lemah! Alano bergumam dalam hati.


"Ambilkan air aku tidak mau dia tidur sementara aku asik bersenang-senang dengannya!."


Dave keluar dan membawa masuk air dingin seember lalu menyiram wajah Sentosa.


"Jangan tidur pria tua. Aku tidak ingin bersenang-senang tanpamu!."


Alano tersenyum penuh arti melihat keadaan Sentosa yang mengerikan. Dia lalu mengambil pisau lipat disaku jasnya yang selalu dia bawa. Alano menyayat perut Sentosa hingga isi perutnya berhamburan keluar.


Sentosa berteriak histeris melihat isi perutnya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Alano tertawa puas melihat kesenangan nya malam ini yang sudah tersalurkan.


"Itu akibat jika berani bermain-main dengan aku tuan Sentosa!."


Alano membersihkan kedua tangannya pada kain yang dibawa oleh Dave.


"Biarkan dia mati kehabisan darah, dan begitu dia sudah mati penggal kepalanya lalu kirimkan pada Bambang!."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Like Vote and Coment 🌹