
Alano mencium dahi Paloma yang sontak membangunkan nya dari tidur pagi ini.
"Sayang, aku harus pergi. Ada meeting pagi ini dengan perusahaan pengembang yang ingin bekerja sama dengan kita. Lalu setelah itu aku akan langsung ke kantor sayang."
Paloma berusaha bangun, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Semalam karena tindakan nya yang menggoda Alano di depan semua orang, membuat Paloma kelelahan karena perbuatan suaminya yang tidak pernah lelah menyetubuhi dirinya. Alhasil mereka tidur sekitar pukul 3 pagi.
"Kenapa tidak membangunkan aku tadi Al. Aku tidak sempat menyiapkan kebutuhan mu."
"Tidak apa-apa sayang, aku tahu kau pasti sangat lelah karena semalam. Aku tidak ingin mengganggu tidurmu."
Paloma merona mendengar ucapan Alano, lelaki itu mengecup pipi merah istrinya yang tampak menggemaskan.
"Jangan menggoda ku sayang, aku harus segera pergi."
"Ish.. siapa yang mau menggoda mu!."
Paloma memukul dada bidang Alano karena ucapan anehnya.
"Pergilah, nanti kau terlambat Al. Oh ya, kau jangan makan siang dulu di luar. Aku akan memasak dan membawakan makan siang untukmu Al."
"Terserah padamu sayang, tapi kalau kau lelah jangan memaksakan diri ok?."
"Tidak Al. Pokoknya nanti siang aku akan membawakan mu makan siang."
"Baiklah sayang, aku pergi dulu."
Alano keluar dari kamar mereka setelah mencium dan sedikit berbuat mesum pada tubuh mulus Paloma. Dia beralasan ingin mendapatkan semangatnya sebelum CEO itu bekerja hari ini.
Tepat pukul 12 siang Paloma tiba di perusahaan Lodovico, Corp. Memakai drees selutut berwarna navy menambah kesan berwibawa seorang putri Presiden RI dan nyonya Lodovico.
Kate yang melihat kedatangan Paloma dari lift khusus CEO segera menyambut nya.
"Selamat siang nona Paloma."
Kate membungkuk memberi hormat, meski mereka seumuran namun dia tetap harus menghormati istri bos besarnya.
"Selamat siang Kate. Apa Alano sudah datang?."
"Belum nona, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba. Nona bisa menunggu bos di ruangannya."
"Baiklah kalau begitu. Oh ya, ini ada makan siang untukmu. Kebetulan aku memasak lebih hari ini."
Kate menatap kotak makan yang di sodorkan Paloma padanya, dia merasa tidak enak untuk menerima maupun menolak pemberian nya.
"Ambilah Kate, anggap saja sebagai rasa terima kasih ku karena kau sudah bekerja keras selama Alano tidak ada."
Kate pun mengambil kotak makan tersebut karena tidak ingin menolak pemberian istri bos besar.
"Terima kasih nona, saya jadi tidak enak pada nona Paloma."
Paloma hanya tersenyum mendengar ucapan Kate dan berlalu meninggalkan dirinya masuk ke ruangan CEO.
Selang 10 menit kemudian, Alano dan Dave tiba di perusahaan Lodovico, Corp. Dia segera bergegas masuk ke dalam ruangannya karena Paloma sudah mengabari dirinya kalau dia sedang menunggu Alano didalam untuk makan siang bersama.
"Sayang, maaf aku terlambat. Tadi jalanan agak macet sayang."
Alano memeluk Paloma dari belakang saat dia tengah berdiri di depan jendela kaca besar, menikmati pemandangan di bawah sana yang tampak macet dengan kendaraan karena jam makan siang.
"Tidak apa-apa Al. Aku juga belum lama tiba."
Alano mencium mesra pipi kenyal Paloma dan membelai lembut tangan istrinya yang sedang memegang tangan kekar Alano di pinggang.
Tiba-tiba Barbara masuk ke dalam ruangan CEO tanpa mengetuk pintu. Dia terlalu senang saat mendengar Alano telah kembali dan berada di ruangannya.
Barbara membola melihat Alano kekasih masa kecilnya yang tengah memeluk mesra Paloma.
"Kau...! Apa kau tidak punya sopan santun sembarangan masuk ke ruangan bos mu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!."
Alano menatap tajam Barbara yang mematung di depannya. Dia paling tidak suka jika seseorang mengganggu privasi dirinya sebagai bos besar.
Paloma membelai lembut tangan Alano untuk menenangkan suaminya yang terlihat marah. Barbara menatap tidak suka perlakuan Paloma pada Alano, dia memperhatikan dari atas ke bawah wanita yang sudah merebut kekasih masa kecilnya itu.
"Untuk apa kau kemari?."
Alano berusaha menetralkan suaranya agar Paloma tidak akan protes lagi padanya karena berbicara dengan nada tinggi pada orang lain.
"Maafkan aku Alano. Aku terlalu senang saat mendengar kau sudah kembali. Aku... aku hanya ingin bertemu dengan mu saja. Aku merindukan mu Alano."
Kini giliran Paloma yang membola mendengar ucapan Barbara pada suaminya. Tidak bisa di pungkiri hati perempuan Indonesia itu sedikit panas mendengar ada orang lain, yang terang-terangan mengungkapkan rasa rindunya pada Alano yang berstatus sebagai suaminya.
"Jaga omongan mu Barbara! Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!."
Paloma tersentak mendengar Alano yang menyebut nama Barbara, jadi ini wanita masa lalu Alano? Oh my, apa dia tidak bisa melihat ada aku disini sebagai istrinya?.
Hah... Paloma membuang nafas panjang untuk meredam kekesalan yang sempat singgah di hatinya.
Paloma tidak ingin memulai peperangan diantara mereka berdua, apalagi saat mendengar cerita Alano tentang kehidupan Barbara selama ini. Membuat wanita cantik itu tidak tega jika harus membenci ataupun marah padanya.
"Sudah Al, jangan marah-marah begitu."
"Jadi kau adalah Barbara? Maafkan Alano ya, dia tidak bermaksud seperti itu. Kenalkan aku Paloma."
Paloma mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Barbara, namun bukan nya membalas salaman tangan Paloma. Barbara malam dengan berani mendekati Alano yang tengah berdiri di belakang istrinya.
Barbara sedikit terkejut karena Paloma ternyata sudah mengetahui tentang dirinya, dia yakin kalau Alano sudah menceritakan tentang masa lalu lelaki tampan itu bersamanya.
"Apa kau baik-baik saja Alano?."
Barbara bermaksud ingin memeluk tubuh kekar Alano, namun dengan cepat Alano menyingkir dan menarik tangan Paloma hingga wanita itu jatuh di pelukannya.
"Jangan bertindak tidak sopan pada istriku Barbara. Kau bukan siapa-siapa bagiku! Jika kau masih berani berbuat seenaknya, jangan salahkan aku jika aku membawamu kembali ke tempat yang dulu!."
Alano menatap tajam wanita masa kecilnya itu. Dia benar-benar marah dengan perlakuan Barbara pada Paloma istri tercintanya.
"Al.. jangan begitu! Tidak apa-apa Barbara, kau jangan merasa tersinggung dengan ucapan Alano ya. Dia tidak akan membawa mu kemanapun."
Paloma melepaskan diri dari dekapan hangat suami tampan nya.
"Kebetulan aku membawakan makan siang untuk Alano dan semuanya. Apa kau ingin makan siang bersama kami?."
Barbara memutar bola matanya malas mendengar ucapan Paloma yang masih terdengar lembut, meski wanita itu sama sekali tidak menggubris dirinya sejak tadi.
Barbara tahu kalau wanita yang sekarang dicintai Alano adalah wanita yang baik, dia bisa melihat itu dari tatapan mata dan sikap Paloma padanya yang tidak mudah terpancing dengan tindakannya yang tidak sopan.
Dave masuk ke dalam ruangan CEO dan mendapati Barbara yang tengah berada disana. Dia memang sedang mencari wanita pengganggu itu dari tadi, namun karena tidak juga menemukan keberadaan nya di luar. Dave yakin kalau Barbara pasti berada di ruangan bos besar dan ternyata dugaannya benar, wanita pengganggu itu sedang merecoki kemesraan bos besar dan nona mudanya.
"Apa yang kau lakukan disini Barbara?."
Dave menarik tangan Barbara dengan kasar hingga wanita itu meringis menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Dave, jangan kasar begitu! Dia seorang wanita Dave!."
Paloma menegur asisten pribadi Alano suaminya, namun tidak di indahkan sama sekali olehnya.
Paloma yang ingin menolong Barbara dari cengkraman tangan Dave, di tahan oleh Alano hingga mereka berdua keluar dari dalam ruangannya.
"Al, apa yang kau lakukan? Kenapa membiarkan Dave bersikap kasar pada Barbara?."
"Sudahlah sayang, biarkan Dave melaksanakan tugasnya."
"Apa maksudmu Al? Kau sengaja memberi perintah pada Dave untuk bersikap seperti itu pada Barbara?."
Hah... Alano menghembuskan nafas kasar, dia lalu membawa Paloma ke sofa dan duduk di pangkuannya.
"Bukan begitu sayang, Dave memang biasa bersikap seperti itu pada orang yang di anggapnya sudah mengganggu diriku sebagai bos besar. Apalagi ini di kantor, tidak sepantasnya orang lain bertingkah tidak sopan padaku. Dia hanya menjalankan tugasnya saja sebagai tangan kanan ku sayang."
"Sama seperti dirimu yang selalu dijaga oleh Paspampres, aku juga begitu. Dave layaknya seorang Paspampres bagiku. Selain menjadi asisten, dia juga bertugas menjaga dan mengawasi semua tentang diriku. Itu juga termasuk dirimu sayang, karena kau salah satu orang yang sangat berpengaruh besar dalam kehidupan ku."
Paloma tertegun mendengar ucapan Alano, dia tidak menyangka kalau Dave mampu berbuat seperti itu.
Padahal selama ini dia selalu melihat Dave sebagai orang yang dingin dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Namun Dave langsung bereaksi jika itu mengenai kehidupan Alano Lodovico sang bos besar.
"Tapi Al, Barbara itu perempuan. Tidak sepantasnya Dave menarik-narik Barbara seperti bina*tang begitu!."
"Sudahlah sayang, Dave tahu semua batasan-batasan nya. Dia tidak akan mungkin menyakiti Barbara, kau tenang saja sayang. Lebih baik sekarang kita makan, aku sudah sangat lapar dari tadi!."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Sebenarnya cerita ini up 2 episode punya guys, tapi karena aku males harus pindah-pindah lagi. Jadinya aku satuin aja 😁
Jangan lupa dukung terus karya Author yaa Btw, happy valentine 🤗
Akan ada up setiap hari 😊
Like and Vote 🌹**