
"Hai sayang, sudah lama ya menunggunya?."
Ali yang baru saja tiba di restoran dimana dia dan Hana janjian untuk makan siang, duduk di depan Hana menatap penuh cinta wanitanya.
"Tidak Ka Ali, aku belum lama sampai juga disini. Ka Ali pasti sangat sibuk ya dikantor."
"Sekalipun aku sibuk, kau yang lebih utama sayang."
Ali tersenyum hangat menatap mata indah Hana, dia memang sedikit sibuk di kantor karena ada beberapa proyek yang harus dia kerjakan. Tapi Ali berusaha mengatur waktunya bersama Hana, meski dia sibuk dengan pekerjaan di kantor. Salah satunya dengan menemani Hana makan siang bersama seperti hari ini.
Seorang pelayan membawa makanan pesanan mereka, yang sudah di pesan oleh Hana sebelum Ali tiba disana.
Hana memang sangat tahu semua tentang Ali, karena mengenal dan menyimpan perasaan selama bertahun-tahun pada lelaki itu. Hana sangat hafal betul dengan makanan kesukaan Ali dan semua yang berkaitan dengan dirinya.
Mereka pun menikmati makan siang dalam diam, karena sudah kebiasaan jika sedang makan tidak ada yang berbicara sampai selesai makan.
"Bagaimana keadaan Austin sekarang sayang? Aku sangat sibuk sampai tidak bisa menjenguk dirinya."
Hana terdiam, terakhir kali Ali pergi ke rumah sakit saat dia mendengar pernyataan Austin tentang perasaan nya meminta Hana untuk memberikan kesempatan pada Austin.
"Sayang..."
Ali mengusap lembut tangan Hana yang tampak melamun memikirkan sesuatu.
"Ah.. iya Ka. Ada Apa?."
"Kau tidak mendengar ucapan ku barusan sayang? Apa yang sedang kau pikirkan sayang?."
"Tidak ada ka, aku hanya sedang merasa lelah saja."
Hana gelagapan mencoba mencari alasan untuk menutupi dirinya yang tengah memikirkan pria lain saat bersama dengan Ali kekasihnya.
"Apa kau sakit sayang? Apa kita ke dokter saja?."
"Tidak. Tidak Ka Ali. Aku baik-baik saja. Oh ya, nanti malam aku akan pergi ke Jogja bersama mama dan papa. Sepupu ku akan menikah besok, jadi kami akan berangkat nanti malam."
Hana berusaha mengalihkan pembicaraan agar Ali tidak terus-terusan mengkhawatirkan dirinya yang memang baik-baik saja.
"Iya sayang. Maaf ya aku tidak bisa menemani mu disana. Banyak pekerjaan di kantor yang tidak bisa aku tinggalkan."
"Iya tidak apa-apa ka Ali. Aku mengerti itu."
Hana tersenyum lembut sambil mengusap tangan kekar Ali yang masih setia menggenggam tangan nya dari tadi.
"Ngomong-ngomong soal menikah, aku sudah bicara dengan ayah ku tentang rencana pernikahan kita sayang. Bunda juga sangat setuju jika kita segera menikah secepatnya."
Hana tersentak mendengar ucapan Ali, "Apa tidak terlalu cepat ka Ali?."
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Hana membuat Ali mengernyit bingung dengan ucapan Hana padanya.
"Kenapa sayang, apa lagi yang harus kita tunggu? Paloma sudah selesai melaksanakan pesta pernikahan nya. Kau pun juga sudah selesai kuliah, aku rasa kita bisa segera menikah."
"Kau melamun lagi sayang?."
Ali merasa heran melihat Hana yang sejak tadi hanya melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Eh.. maaf Ka Ali. Aku... aku hanya belum siap saja jika kita harus menikah secepatnya. Lebih baik kita bertunangan saja dulu."
"Kenapa sayang, apa kau masih belum yakin dengan diriku?."
"Bukan, bukan Ka. Aku... masih butuh waktu. Tolong mengertilah Ka Ali."
Kali ini giliran Ali yang terdiam mendengar ucapan Hana barusan, dia tidak menyangka kalau Hana akan menolak lamaran nya untuk menikahi wanita cantik itu.
Padahal selama ini Hana begitu memimpikan untuk menikah dengan Ali, entah apa yang membuat Hana ragu menikah dengannya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu lagi sayang. Tapi kita akan segera bertunangan, dan kau tidak boleh menolak nya lagi kali ini!."
Ali memilih mengalah demi hubungan mereka berdua, dia tidak ingin terus memaksa Hana untuk menikah dengan dirinya.
Ali akan mengikuti kemauan Hana yang meminta untuk bertunangan terlebih dahulu.
"Terima kasih Ka Ali."
"Tidak perlu berterima kasih sayang. Aku akan segera mengatur pertunangan kita secepatnya, agar semua orang tahu kau adalah calon nyonya Hartono."
Hana mengangguk mengiyakan perkataan Ali, meski hatinya merasa ragu dengan perasaan nya sendiri terhadap Ali. Tapi dia tidak ingin membuat pria tampan itu kecewa.
Hana masih harus menyakinkan dirinya sendiri tentang perasaan nya terhadap Ali dan juga Austin. Dia tidak mau di kemudian hari, Hana akan menyesali keputusan nya dan menyakiti dua hati.
"Ayo, aku antar kau pulang sayang."
.
.
.
.
.
.
.
.
****Dukung terus karya Author yaa 🤗
Like and Vote 🌹**