
Dave yang merasa aneh karena Barbara tidak kunjung masuk ke dalam restoran, keluar mencari dirinya.
Dia sedikit terkejut saat melihat ayah tiri Barbara tengah menarik kasar lengan wanita itu. Dave memang sudah mencari tahu semua informasi tentang Barbara, hingga saat melihat Mat tengah berbuat kasar pada Barbara membuatnya naik pitam.
Dengan penuh amarah Dave mendekat dan mengunci pergerakan Mat agar lelaki itu tidak berbuat macam-macam.
"Dasar bodoh! Kenapa kau diam saja tadi? Kau bisa teriak bukan saat pria mabuk itu mengganggu mu Barbara!."
Suara Dave menggelegar di dalam mobil yang melaju cepat membelah jalan raya yang sedikit lengang.
Rasa lapar yang mendera dirinya tadi langsung hilang entah kemana. Hampir saja wanita pengganggu itu kenapa-napa karena ulah ayah tirinya, kalau sampai Barbara terluka. Alano pasti akan membunuh nya karena tidak becus menjaga satu wanita.
"Maaf... tadi aku yang menendang kakinya hingga orang asing itu marah, dan meminta uang untuk ganti rugi!"
Barbara tertunduk takut melihat Dave marah. Biasanya pria itu hanya tahu memerintah dirinya dirinya dengan sikap arogan dan sombong. Ada perasaan hangat saat melihat Dave melindungi dirinya tadi, meski dengan kata peliharaan yang terdengar sangat menjatuhkan harga dirinya.
Tapi, semenjak menjadi budak seks pria gila itu di Turki. Barbara memang sudah kehilangan apa yang disebut dengan harga diri.
"Kau memang bodoh. Harusnya kau tidak perlu meladeni orang itu, kau sengaja ingin mencari gara-gara dengan nya agar bos besar mengetahui itu dan pulang dari honeymoon mereka bukan?."
"What? Kenapa kau malah bicara seperti itu? Apa maksudmu, aku sama sekali tidak pernah berpikir sampai disana Dave!."
Suara Barbara terdengar meninggi, dia tidak suka saat orang lain menuduhnya dengan tuduhan yang tidak benar. Meski dia berharap Alano akan segera kembali ke Italia, tapi dia sama sekali tidak berpikir jauh sampai kesana saat membuat masalah dengan Mat ayah tirinya.
Dave menepikan mobilnya dan menatap tajam Barbara yang duduk di samping kursi kemudi.
"Dengarkan aku nona Barbara, ini yang terakhir kalinya kau bertingkah liar seperti tadi! Lain kali aku tidak akan menolong mu lagi, jika kau masih saja terlibat dalam masalah orang asing itu. Dan jika kau masih melawan, jangan salahkan aku jika dia kembali menjual mu pada orang-orang gila berikutnya!."
Barbara terdiam tak berani menatap asisten pribadi Alano, dia tahu kalau tadi dia tidak menampar dan menendang Mat, pria itu tidak akan menggila seperti tadi. Harusnya memang dia berteriak saja saat Mat mencoba mendekati dirinya.
Dave membuang nafas kasar mencoba menenangkan api yang membakar dadanya. Dia melirik lengan dan tangan Barbara yang sedikit membiru akibat cengkraman Mat tadi.
Dave lalu mengambil kotak P3K yang berada dalam dashboard mobil dan mencari salep untuk mengolesi lengan dan tangan Barbara yang membiru.
"Kau mau apa."
Barbara tersentak saat Dave meraih tangannya, meski merasa dongkol Dave tetap mengolesi salep tersebut dengan hati-hati.
Barbara sontak berdebar mendapati perlakuan manis dari seorang lelaki setelah sekian lamanya. Terakhir Alano kecil lah yang selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik, dia tidak menyangka jika pria suka memerintah itu ternyata bisa perhatian dengan orang lain.
"Sudah... Lain kali pastikan dirimu tidak terluka lagi! Aku tidak mau menjadi orang yang disalahkan oleh bos besar karena ulah bodoh mu yang tidak bisa menjaga diri sendiri!."
Dave melempar salep yang di pegangnya ke pangkuan Barbara yang masih gugup dengan perlakuan Dave, yang membuat hatinya terasa hangat dan terlindungi.
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih, aku hanya melakukan tugas ku untuk selalu menjaga dan melindungi dirimu selama bos besar tidak ada!."
Dave melajukan kembali mobil mereka untuk pulang ke hotel dimana mereka menginap. Dia memang sedikit merasa kasihan dan tidak tega melihat bagaimana tragisnya nasib Barbara Divaio, setelah membaca laporan yang dikirimkan Leo pada nya kemarin.
Apalagi dia sudah mendengar dan melihat sendiri betapa tersiksa dan menderita nya Barbara, selama dia menjadi budak seks pria gila itu.
Entah mengapa hati kecilnya berkata untuk melindungi wanita masa lalu sang bos besar, dan memastikan dirinya selalu aman di bawah perlindungan pria bertubuh kekar itu.
Barbara diam dan sesekali melirik Dave yang sedang fokus membawa mobil. Meski kau suka memerintah, tapi kali ini aku akan memaafkan perbuatan mu padaku tuan Dave. Aku tidak menyangka kalau kau orang yang sangat perhatian di balik sikap sombong dan arogan mu itu.
Barbara tersenyum dalam hati dengan perasaan yang masih berdebar hingga mereka sampai di hotel dan masuk ke kamar masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Udah up banyak yaa guys hari ini
dukung terus karya Author yaa 🤗
Like and Coment 🌹**