
Seminggu sudah Alano dan Paloma berbulan madu, hari ini mereka akan kembali ke Italia menaiki jet pribadi yang sudah terparkir di dekat villa.
"Aku akan sangat merindukan tempat ini Al. Rasanya aku ingin kita tinggal saja disini."
Paloma menatap pulau pribadi mereka dari atas pesawat. Dia merasa sedikit tidak rela meninggalkan pulau yang telah memberinya banyak kenangan manis bersama sang suami.
Alano tersenyum menatap Paloma, "Nanti kita bisa menghabiskan masa tua kita disini sayang."
Paloma tersenyum dan mengangguk, dalam hati dia berdoa saat mereka kembali kesini keluarga kecil mereka sudah ketambahan anggota baru.
Setelah melepaskan seatbelt, Alano membawa Paloma ke kamar pribadi untuk beristirahat. Perjalanan mereka masih lama, jadi Alano memutuskan untuk tidur sebentar di kamar bersama istri tercinta.
"Sayang..."
Alano berbisik di telinga Paloma saat mereka sedang berpelukan di atas ranjang.
"Aku menginginkan mu."
Paloma sedikit berjengkit merasakan nafas Alano yang terasa menggelitik telinganya dan membuat wanita itu meremang. Alano mulai mencium bibir ranum Paloma yang selalu membuat nya lupa diri.
Paloma pun membalas ciuman mesra itu, dia sudah semakin ahli dalam mengimbangi permainan lidah Alano di mulutnya.
Merasa mendapatkan lampu hijau dari wanitanya, Alano mulai melucuti satu per satu baju yang menutupi tubuh ramping Paloma. Alano meninggalkan banyak jejak kepemilikan disana, padahal belum juga jejak-jejak yang lain hilang.
Puas mendaki 2 gunung kembar Paloma, Alano bersiap untuk masuk berselancar menikmati kenikmatan dunia yang selalu menjadi candu bagi kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu.
"Ahh..."
Paloma mengerang nikmat menikmati permainan Alano. Tubuh bagian bawahnya terasa basah.
Paloma sudah berhasil mencapai klimaksnya selama beberapa kali, namun Alano tampak masih ingin terus menikmati kelembutan segitiga sempit istrinya.
Dia terus menghentak kan pinggulnya dengan dalam membuat Paloma mengerang, bergetar hebat merasakan milik Alano yang besar dan sesak di dalam sana.
Kuku-kuku nya menancap di punggung Alano meninggalkan memar yang cukup perih. Tapi sakit itu sebanding dengan rasa nikmat yang dirasakan lelaki bertubuh kekar itu.
"Here they are babe."
Alano semakin mempercepat laju permainan pinggulnya dan menyemprot kan benih-benih nya ke dalam rahim Paloma. Aroma daun pandan langsung menyeruak begitu Alano melepaskan diri dari kelembutan segitiga Paloma.
Dengan nafas yang masih terengah-engah dan keringat yang membanjiri tubuh mereka berdua, Alano menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"*I love you babe."
"I love you more* Al."
Alano mencium dahi Paloma dan menarik tubuhnya agar mendekat di pelukan tubuh kekar pria dingin itu.
Hampir 5 jam penerbangan mereka, akhirnya Alano dan Paloma tiba di Bandara Internasional Fiumicino Roma. Mereka langsung di sambut oleh tangan kanannya Dave, yang selalu siap saat ketua mafia itu membutuhkan dirinya.
"Selamat datang kembali bos dan nona muda."
"Terima kasih Dave."
Paloma menyapa pria tampan yang selalu tampak rapi dimana saja dia pergi. Alano hanya mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk Paloma masuk kedalam.
"Bagaimana kabar mu Dave?."
Paloma bertanya untuk memecah keheningan di dalam mobil.
"Saya baik-baik saja nona, terima kasih karena sudah bertanya. Semoga honeymoon nona dan bos menyenangkan disana."
Paloma merona mendengar ucapan Dave, dia tahu maksud ucapan asisten pribadi suaminya yang membuat dirinya sedikit malu.
Alano hanya tersenyum tipis melihat tingkah Paloma yang malu-malu kucing.
Setibanya di mansion Alano dan Paloma langsung disambut oleh kepala pelayan Steven bersama para maid dan penjaga disana.
Steven membungkuk memberi hormat di ikuti yang lainnya, lelaki paruh baya itu bahagia melihat Alano dan Paloma yang tampak berseri-seri setelah pulang dari honeymoon.
Dia senang karena akhirnya mereka bisa saling mencintai dan berjuang untuk pernikahan mereka berdua, yang awalnya dimulai karena sebuah kesepakatan dan bukan karena cinta seperti pasangan suami istri lainnya.
"Selamat pak Steven dan yang lain, terima kasih atas penyambutan kalian semua."
Paloma tersenyum menatap satu per satu semua yang berada disana, dia sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
"Pergilah lebih dulu ke kamar sayang, aku akan keruang kerja sebentar bersama Dave."
"Baiklah Al. Jangan lama-lama."
Paloma tersenyum nakal dan mengedipkan matanya menggoda Alano. Ingin sekali Steven dan semua yang melihat tingkah nona muda mereka tertawa, tapi mereka sama sekali tidak berani berbuat hal yang tidak sopan seperti itu.
Sedangkan sang tangan kanan Dave seorang jomblo abadi, hanya memutar bola matanya malas. Dia sudah biasa melihat tingkah aneh kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu.
Alano menggelengkan kepala melihat istrinya yang semakin berani menggoda dirinya di depan umum. Dasar nakal! awas saja kau nanti di kamar sayang. Alano bergumam dalam hati dan melangkah pergi ke ruang kerja bersama Dave.
"Bagaimana kondisi perusahaan Dave?."
Alano duduk di meja kebesarannya sambil melihat beberapa dokumen yang harus segera dia tanda tangani.
"Semuanya aman dan lancar bos, peresmian resort di Kota Venesia sudah rampung dan akan dilaksanakan akhir Minggu nanti bos."
"Bagus. Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa dia berulah selama aku tidak ada?."
"Tidak bos. Selain mengirimi bos pesan waktu itu, dia sama sekali tidak berbuat yang aneh-aneh bos. Aku selalu mengawasinya."
"Bagus. Besok buat meeting dengan perusahaan kontraktor jam 9 pagi. Aku masih lelah jika harus meeting pagi-pagi."
"Baik Bos."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Udah mau masuk season final chapter yaa guys
Terima kasih karena selalu memberi dukungan buat karya author ini 🤗
Jangan lupa Like and Coment 🌹**