
Setelah pertemuan bersama WO selesai dilakukan, Paloma pergi menemui Alano yang tengah sibuk memeriksa laporan Perusahaan Lodovico, Corp miliknya bersama Dave.
Dia sedikit kesal karena Alano tidak menemani nya tadi, meski hanya beberapa menit saja. Paloma tahu kalau Alano sedang sibuk sekarang, tapi dia malah duduk di samping suaminya dengan wajah cemberut menunjukkan rasa protes nya kepada pria dingin itu.
"Dave, kau bisa meneruskan semuanya bukan? Pergilah."
Alano memberi perintah pada tangan kanan nya itu, karena dia tahu Paloma sedang kesal padanya sedari tadi yang tidak memperdulikan kehadiran istrinya disana.
"Kenapa kau marah-marah sayang?."
Alano berujar setelah Dave keluar dari ruangan itu.
"Benarkah kau tidak tahu kenapa aku marah dan kesal padamu Al! Kita akan mengadakan pesta pernikahan beberapa hari lagi, tapi kau tidak pernah sekalipun menemani ku untuk melihat semua persiapannya!."
Paloma menatap jengah lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
"Maaf sayang, bukan nya aku tidak mau tapi urusanku di kantor sangat banyak. Apalagi resort kita ada yang di Venesia tinggal tahap finishing, aku harus benar-benar memastikan pembangunan nya berjalan dengan baik dan sempurna sayang ku."
Alano mengecup mesra pipi Paloma yang selalu berhasil membuat wanita cantik itu merona merah. Paloma yang tadinya cemberut langsung tersenyum malu karena Alano tidak berhenti menciumi wajahnya.
Ketukan pintu menghentikan romantisme diantara sepasang suami istri itu. Dave yang belum lama meninggalkan bos besar dan nona mudanya masuk kembali ke dalam ruangan dimana mereka berada.
"Maaf Nona Paloma, Ibu Negara memanggil nona dan bos ke ruang tamu sekarang."
Paloma mengernyit heran mengapa Bunda nya memanggil mereka. Padahal belum lama mereka berpisah di bawah saat selesai mengadakan pertemuan dengan WO.
Paloma dan Alano pun keluar dan turun menuju ruangan tamu berada. Mereka sekarang sedang berada di kediaman pribadi keluarga Presiden.
Seorang wanita paruh baya terlihat duduk di ruangan itu dengan mata sembab. Di sampingnya ada wanita yang terlihat seperti anaknya.
Paloma tahu siapa mereka, dia sedikit menarik nafas panjang begitu Paloma dan Alano duduk di ruang tamu dimana ayah dan bundanya juga berada disana.
Tiba-tiba wanita paruh baya itu berlutut di bawah kaki Paloma dan menangis, membuat putri Presiden itu tidak enak.
"Maafkan kesalahan suami saya dek Paloma. Aku secara pribadi datang kesini ingin menemui dan meminta maaf padamu. Aku tahu kalau kesalahan suami saya sangat tidak bisa dimaafkan, tapi aku mohon dek Paloma mau mengampuni dan memaafkan suami saya."
"Tante Eka, aku mohon jangan seperti ini. Tante tidak perlu berlutut begini, ini sangat tidak pantas Tante. Berdirilah."
Paloma menarik tangan wanita yang di panggilnya Tante Eka itu. Dia adalah istri dari Bambang Soesatyo mantan juru bicara Kepresidenan, salah satu dalang penculikan Paloma.
Tante Eka pun mau tidak mau berdiri dan kembali duduk di samping putrinya yang tertunduk malu.
"Lebih baik kalian pulang! Kalian sudah bertemu dengan putriku bukan. Jadi jangan pernah berharap kalau kami akan melepaskan kasus ini dengan mudah!."
Poly bersuara dengan nada marah dan tegas. Dia muak melihat keluarga Bambang Soesatyo yang memaksa ingin bertemu dengan mereka di pintu gerbang tadi.
Entah apa maksud dan tujuan mereka datang ke kediaman pribadi keluarga Presiden dan memohon ingin bertemu dengan Paloma.
"Maaf, aku tahu kedatangan kami kemari memang tidak membuat kalian semua nyaman dan marah. Tapi aku berniat tulus ingin meminta maaf pada keluarga Pak Presiden, terlebih pada dek Paloma. Kami akan berusaha menebus kesalahan yang sudah diperbuat oleh suami saya."
Tante Eka menunduk dan sesekali menghapus airmatanya. Putri bungsu keluarga Bambang Soesatyo mengusap lembut tangan Ibu yang sudah rela membuang harga dirinya, untuk datang menemui keluarga Presiden disini.
Dia sedih dan sakit hati melihat keadaan ibunya, belum lagi melihat pemberitaan media yang terus-terusan membully keluarga mereka karena ulah kejam ayahnya.
Paloma menghembuskan nafas panjang melihat dua wanita beda usia di depannya, yang terlihat menyedihkan. Dia memang masih sakit hati dengan perbuatan Bambang, Sentosa dan juga Bella, yang tega membayar orang untuk menculik dan membunuhnya waktu itu.
Paloma masih ingat bagaimana ketakutan nya saat dia disekap oleh Albert Hall dan dipaksa menikah dengan Alano keponakan nya. Dia bahkan harus diculik dari rumah sakit saat dia memakan roti racun yang sebenarnya untuk Alano, dan mengakibatkan jantungnya bermasalah.
Paloma juga harus merasakan sakitnya sayatan pisau dan cambukan yang diberikan Sentosa padanya. Dan karena kejadian itu pula Alano harus kehilangan Momy nya Angelina Hall.
Alano yang mengerti perasaan istrinya menggenggam tangan Paloma dan tersenyum lembut menatapnya. Dia akan menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke tangan Paloma. Alano yakin kalau Paloma bisa mengambil keputusan yang bijak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Hari ini Up 2 episode
Selamat hari Minggu 😇
Like and Vote 🌹**