The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Penyerangan



Sentosa mengambil cambuk ditangan anak buahnya dan mulai mencambuk tubuh Paloma yang sudah diikat terlentang di dinding.


Teriakan kesakitan kembali menggema di dalam ruangan itu, baju Paloma robek dan memperlihatkan punggungnya yang luka bekas cambukan Sentosa. Darah segar mengucur deras dari punggung putih bersih Paloma


Seketika itu juga Paloma jatuh pingsan, Sentosa tertawa seperti orang kesetanan melihat keadaan Paloma.


"Apa kau merekamnya Albert? Hahaha ini sungguh pertunjukkan yang sangat bagus. Aku bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Kevin melihat anak perempuan tercintanya menderita seperti ini."


Pablo mengepal kuat tangannya, Shit! Kenapa kau lama sekali Alano. Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi, aku akan membunuh mereka sekarang juga.


Pablo meraih pistol dibalik saku jasnya, dia harus segera bertindak mengingat keadaan Paloma yang semakin pucat karena kehilangan banyak darah.


Bunyi tembakan dari halaman rumah terdengar, Albert dan Sentosa sontak berdiri dari tempat duduknya dan mengambil pistol di meja.


"Siapa itu Albert?."


Sentosa menatap tajam Albert yang berdiri disampingnya, dia takut kalau keberadaannya di Italia diketahui orang lain.


"Sudah aku katakan dari tadi untuk membunuh Paloma tapi kau malah lebih memilih untuk bermain-main dengannya. Sekarang jangan salahkan aku kalau nyawamu lah yang akan melayang malam ini!."


Albert keluar dari ruangan itu diikuti beberapa anak buahnya, dia harus segera melarikan diri dari sana sebelum Alano menangkap dan membunuhnya.


Sentosa berteriak marah melihat Albert Hall meninggalkan nya diruangan itu. Sial! Aku harus segera membunuh Paloma dan membuang tubuhnya ke laut agar tidak ada yang bisa menemukannya.


Sentosa berjalan mendekat kearah Paloma berada, dia akan langsung menggorok leher Paloma sekarang. Pablo Dominic yang masih berada di ruangan itu, menembak anak buah Sentosa hingga mati.


"Apa yang kau lakukan? Ternyata kau sama pengkhianat nya dengan Albert Hall!."


Sentosa menodongkan senjata kearah Pablo yang berdiri di depannya.


"Jangan samakan aku dengan pria tua pengecut itu Sentosa. Kau akan menyesal karena sudah berani datang kemari ke daerah yang bukan kekuasaanmu!."


Pablo tersenyum sinis dan berjalan pelan mendekat kearah Sentosa. Dia akan berusaha mengalihkan perhatiannya agar Pablo bisa mendekati Paloma dan membuka ikatan di tangannya.


Alano dan Dave masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati tubuh Paloma yang diikat di dinding dan pingsan. Alano menembak tangan Sentosa hingga pistol yang ada di tangannya terlepas dari genggamannya. Dave maju dan memukul tengkuk Sentosa hingga dia pingsan.


Alano berlari mendekat kearah Paloma dan membuka ikatan ditangan dan kakinya.


"Maafkan aku Alano. Aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat mereka menyiksa Paloma."


"Terima kasih."


Alano berucap tulus dan segera pergi meninggalkan Pablo diruangan itu. Pablo sempat mematung mendengar ucapan keramat di bibir Alano, ingin rasanya dia merekam perkataan Alano tadi.


Pablo lalu ikut berlari mengikuti Alano mereka akan segera ke rumah sakit membawa Paloma yang masih tidak sadarkan diri. Pablo meminta untuk ikut mengantarkan Paloma, dia duduk dikursi kemudi dan mulai melajukan mobil Alano dengan kecepatan penuh.


Sementara Dave membawa Sentosa ke markas Mafia Fire Red, yang pasti setelah ini Alano akan mengulitinya tanpa ampun meski Sentosa meminta untuk dibunuh sekalipun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Like and Coment


Terima kasih 🌹**