The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Pertemuan tak Terduga



Paloma berlari keluar dari perusahaan Lodovico, Corp sambil menangis, brengsek! ciuman pertamaku direbut begitu saja oleh pria gila itu.


Paloma terus berlari dan tidak berhenti mengumpat dalam hati, ia begitu terkejut saat ada mobil yang melaju kencang dan hampir saja menabraknya. Paloma yang syok jatuh pingsan di pinggir jalan.


Seorang pria tampan dengan kacamata hitam turun dari mobil, ia juga ikut terkejut melihat seorang wanita yang tiba-tiba berlari di jalan raya.


"Oh my God apa aku menabraknya?." Pria itu mendekati tubuh Paloma yang tergeletak dijalan.


"Paloma?."


Pria itu mengusap wajahnya kasar dan mengangkat tubuh Paloma kedalam mobilnya, memasangkan seatbelt dan berlari menuju kursi kemudi.


"Kenapa dia bisa berlari dijalan raya seperti itu? Hah.. hampir saja aku menabraknya tadi."


Pria yang hampir menabrak Paloma adalah Pablo Dominic dia baru saja keluar dari perusahaan Lodovico, Corp dengan mobil mewahnya.


Pablo melirik Paloma yang masih pingsan disampingnya, wanita ini begitu cantik pantas saja Alano mau menikah dengannya. Aku harus mencari cara agar Paloma bisa jatuh cinta padaku dan meninggalkan Alano.


Pablo belum tahu kalau Paloma adalah putri Presiden yang hilang karena diculik, dia pikir Paloma menikah dengan Alano karena dijodohkan jadi sudah pasti kalau Paloma tidak mencintai Alano hingga dia punya kesempatan.


Pablo jatuh cinta pada Paloma saat pertama kali dia melihatnya masuk bersama Alano tadi diruang rapat. Ditambah lagi ketika Paloma tersenyum manis kepadanya hati Pablo terasa membuncah kegirangan.


Baru Paloma wanita pertama yang bisa membuat detak jantungnya berdetak tidak karuan, Pablo tersenyum membayangkan wajah cantik Paloma yang tersenyum kepadanya tadi.


Pablo membawa Paloma ke rumah sakit Gamelli yang terletak di Via della Pireta Saccheti, 217, 00168 Roma RM, Italia. Rumah sakit Gamelli adalah rumah sakit umum besar di Roma, Italia dengan 1.575 tempat tidur dan merupakan rumah sakit swasta terbesar di Eropa.



Dokter memeriksa keadaan Paloma begitu dia dibawa perawat keruang IGD. Paloma masih belum sadarkan diri dengan luka disiku tangannya.


"Bagaimana keadaannya dokter?." Pablo menatap dokter yang memeriksa Paloma dengan wajah khawatir.


"Dia tidak apa-apa tuan dia hanya pingsan saja, sebentar lagi dia akan segera sadar. Aku akan meminta perawat untuk membersihkan luka ditangannya dan memasang infus. Sepertinya Nona ini kelelahan dan kekurangan cairan, tubuhnya sangat lemah hingga bisa pingsan tadi."


Pablo membungkuk memberi hormat mengucapkan terima kasih pada dokter. Sebenarnya Pablo adalah pria yang sopan namun karena sifatnya yang terlalu mendewakan uang hingga membuat dia buta hati dan mengkorupsi uang kerja samanya bersama Alano waktu itu.


Ketika Paloma sadar dia sudah dipindahkan keruang rawat inap VVIP. Kepalanya sedikit pusing saat dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Siku tangan Paloma diperban dengan jarum infus tertancap di tangan kanannya.


"Kau sudah sadar?." Pablo mendekati Paloma dan duduk di kursi samping ranjangnya.


"Kau.. Kau yang menabrakku tadi?". Paloma menatap Pablo dengan tatapan menyelidik.


"Kau yang menabrakkan diri dimobilku Nona, untung saja mobilku tidak tergores." Pablo memutar bola matanya malas karena dituduh sembarangan oleh Paloma.


Paloma terdiam memang benar dia yang tidak melihat jalan karena berlari tadi hingga mobil Pablo hampir menabraknya, untung saja dia hanya terluka kecil ditangan.


Oh my God imut sekali wanita ini aku semakin jatuh cinta saja dibuatnya. Pablo tersenyum tipis dengan hati yang membuncah.


"Tidak apa-apa mobilku tidak lecet sedikitpun tapi, kenapa kau berlari ditengah jalan seperti tadi? Kau mau kemana memangnya, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?."


Dari tadi Pablo begitu penasaran dengan Paloma, mengapa dia bisa berlari dijalan raya.


"Oh.. tadi aku sedang disuruh membeli sesuatu sama Alano, karena terburu-buru aku tidak melihat jalan tadi."


Paloma tersenyum kikuk menatap Pablo hanya itu alasan yang bisa dia pikirkan saat ini. Tidak mungkin Paloma jujur pada Pablo kalau mereka baru saja berciuman hingga membuat Paloma menangis dan berlari keluar kantor.


Pablo mengangguk dia tahu kalau Paloma berbohong padanya, pasti ada yang terjadi antara dirinya dan Alano pikir Pablo. Diapun berpikir untuk mencari kesempatan agar bisa dekat dengan Paloma.


"Sepertinya kau sudah baik-baik saja aku harus pergi sekarang."


Pablo berdiri dari tempat duduk dan bersiap untuk melangkah pergi dari ruang rawat Paloma. Belum sempat ia beranjak Paloma menahan tangan Pablo.


"Tunggu, lalu bagaimana aku pulang? Aku tidak punya handphone untuk menghubungi Alano menjemputku disini. Boleh kau menghubunginya untukku?."


Paloma menatap Pablo dengan puppy eyes andalannya, tak ada yang bisa menolak tatapan matanya itu termasuk Pablo yang tertawa lepas melihat tingkah Paloma.


Baru sekarang ada seorang wanita yang bisa membuatnya tertawa seperti itu, oh my God aku ingin sekali mencubit kedua pipinya.


"Aku akan meneleponnya tapi sebelum itu lepaskan tanganmu dariku Nona." Pablo menunjuk tangannya yang masih dipegang Paloma dengan erat.


"Maaf." Paloma segera menarik tangannya dari Pablo dan menunduk malu dengan wajah merona.


Pablo menatap lekat wajah Paloma, ingin sekali rasanya dia mencium bibir ranum milik wanita cantik bak bidadari didepannya. Aku pasti akan menjadikanmu milikku Paloma, Pablo bergumam dalam hati.


"Aku belum tahu siapa namamu tuan."


Paloma mengangkat wajahnya malu-malu dia tidak mau lagi salah bertindak hingga membuatnya malu sendiri didepan Pablo.


"Namaku Pablo Dominic dan kau?."


"Aku Paloma. Terima kasih karena sudah menolong dan membawaku ke rumah sakit tuan Pablo." Paloma tersenyum tulus menatap Pablo.


"Panggil saja Pablo, aku bukan tuanmu Paloma. Dan untuk terima kasihmu aku akan menagihnya suatu hari nanti. Aku akan menghubungi Alano dulu, kau bisa istirahat lagi sambil menunggunya menjemputmu. Aku harus pergi sekarang."


Pablo refleks mengusap rambut lurus Paloma dan menatapnya penuh cinta. Paloma sontak terkejut dengan perlakuan Pablo padanya, namun ia tidak mau berpikir macam-macam atas tindakan Pablo padanya. Palomapun tersenyum manis dan mengangguk mengiyakan.


** Like and Vote 🌹