
Roma Italia
Alano turun dari mobil diikuti oleh Paloma mereka melangkah masuk bersama menuju pintu utama perusahaan Lodovico, Corp. Semua pegawai yang melihat CEO mereka berjalan bersama Paloma mulai berbisik bergosip tentang perempuan cantik yang berada disamping Alano.
Hari ini Paloma memang terlihat berbeda dia memakai rok hitam di atas lutut dengan kemeja putih garis-garis, rambut yang diikat keatas dan makeup tipis diwajah putihnya. Dia bergaya seperti saat Paloma pergi ke perusahaannya sendiri di Hendrawan, Corp.
Mereka naik dengan lift khusus menuju lantai 20 tempat ruangan CEO berada. Alano melirik sekilas Paloma yang berdiri disampingnya sibuk mengecek beberapa laporan dan jadwal Alano hari ini, selama dimobil tadi dia tertidur hingga belum sempat mengecek pekerjaannya.
Tiba di lantai 20 Alano keluar lebih dulu dari dalam lift, ruangan khusus CEO itu terdiri dari ruangan sekretaris dan ruang rapat. Ada pantry kecil dan toilet khusus karyawan disitu, ruangan Alano berada di sebelah kanan.
Seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Paloma berjalan mendekati Alano dan membungkuk memberi hormat, ia melirik sekilas Paloma yang berdiri disamping bos besarnya.
"Selamat pagi Pak Alano."
Alano hanya mengangguk membalas sapaan wanita itu dan menatapnya dengan tajam.
"Mulai sekarang untuk urusan jadwalku serahkan padanya." Menunjuk kearah Paloma.
"Dan kau bisa bertanya padanya jika kau mengalami kesulitan Paloma." Alano menatap Paloma dengan tatapan dinginnya.
"Baik pak."
Wanita cantik dan seksi itu kembali membungkuk hormat saat Alano berjalan masuk kedalam ruangannya, membuat dada besarnya sedikit terlihat dibalik kemeja ketat yang ia pakai.
Wanita itu menatap Paloma dengan seksama ia penasaran siapa Paloma hingga bisa datang bersama bosnya, biasanya Alano hanya ditemani oleh Dave saja bahkan dia sendiri tidak pernah pergi dengan CEO tampannya.
"Ini jadwal tuan Alano selama minggu ini," wanita itu memberikan tab yang ia pegang ketangan Paloma.
"Namaku Cecil jika ada yang tidak kau mengerti kau bisa bertanya padaku, aku ada diruanganku."
Cecil berjalan meninggalkan Paloma yang masih berdiri mematung disitu, jadi begini rasanya dikacangin bawahan hah.. baru sekarang aku diperlakukan begini.
Paloma memang selalu dihormati karena statusnya sebagai putri Presiden dan putri pengusaha sukses di Indonesia, tidak pernah sekalipun Paloma membayangkan jika ia akan berada disituasi seperti sekarang ini.
Paloma mengetuk pintu ruangan Alano dan masuk kedalam, kesan klasik dan mewah terlihat mendominasi ruangan CEO Lodovico, Corp dengan sofa empuk berwarna abu-abu muda.
"Mmm Alano.. aku harus memanggilmu apa disini? Bos, Pak, Bos besar, atau Alano?." Paloma bertanya disela-sela ia sedang membacakan jadwal Alano dengan tersenyum manis.
"Honey saja." Alano asal menjawab pertanyaan Paloma yang sontak membuat perempuan Indonesia itu merona.
"Aku serius Alano." Paloma berusaha menahan rasa malu yang membuncah, ia bahkan tak mampu menutupi wajahnya yang terus memerah karena ucapan konyol Alano.
"Terserah kau saja Paloma. Oh iya sebentar lagi ada rapat direksi kau harus ikut denganku untuk menjadi asistenku karena Dave sedang ada urusan saat ini."
Paloma mengangguk mengiyakan, "Lalu dimana ruanganku Alano?."
Alano yang mendengar pertanyaan Paloma langsung menelepon Cecil dan meminta sekretarisnya itu memanggil OB untuk membawa meja dan kursi keruangannya.
"Mejamu akan segera datang kau akan satu ruangan denganku Paloma, aku tidak ingin kau jauh-jauh dariku sedikitpun."
Alano berkata dengan wajah dinginnya menatap Paloma, lagi-lagi Paloma dibuat merona oleh ucapan pria tampan yang sudah menjadi suaminya. Oh astaga apa yang kau pikirkan Paloma kenapa aku bisa semudah itu dibuat malu oleh pria dingin ini, Palomapun memutuskan untuk duduk disofa menunggu meja kerjanya diatur OB.
Cecil yang saat itu masuk kedalam ruangan CEO menatap heran Paloma yang duduk diruangan bosnya dengan santai, dia makin penasaran ada hubungan apa antara Alano dan Paloma ditambah lagi Alano memerintahkannya untuk membawa meja dan kursi diruangan ini.
"Permisi pak Alano ada dokumen yang harus ditanda tangani, dan direksi yang lain sudah menunggu anda diruang rapat."
Alano mengambil berkas yang diberikan Cecil dan menandatangani berkas tersebut, "Sebentar lagi saya akan kesana."
"Apa perlu saya temani Bapak diruang rapat?." Cecil tersenyum manis menatap Alano dia berharap agar dia bisa selalu dekat dengan bos besarnya.
"Tidak perlu ada Paloma yang akan mendampingi saya."
Paloma yang daritadi mendengar pembicaraan mereka tersenyum tipis, sepertinya Cecil menaruh hati pada suami dinginnya itu. Hah.. pantas saja dia begitu jutek tadi saat berbicara padaku.
Cecil keluar dari ruangan CEO dengan wajah masam, dia sempat menatap tajam Paloma yang juga sedang tersenyum padanya.
Damn sudah 2 tahun aku bekerja disini aku tak pernah bisa berada dekat dengan Alano, tapi perempuan yang baru saja muncul bisa dengan leluasa bersamanya. Aku harus mencari cara agar Paloma dipecat dari sini, Cecil tertawa sinis dengan rencana yang ia susun dia yakin Paloma akan dipecat mengingat Alano tidak suka dengan orang yang tidak bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
** Like and Vote guys 🌹