
Dave sang asisten sekaligus tangan kanan Alano Lodovico, mengetuk pintu kamar bos besarnya dan masuk kedalam.
"Maaf mengganggu bos, tamu kita sudah datang dan sedang menunggu di ruang kerja."
Alano mengangguk mengiyakan. Dave pun keluar dari kamar dan menutup pintu tanpa mengeluarkan suara.
"Siapa yang datang Alano?."
"Bukan orang penting sayang hanya rekan bisnis saja. Aku tidak akan lama, tunggulah di kamar dan habiskan makananmu sayang."
Alano mencium mesra dahi Paloma dan beranjak dari tempat duduknya. Dia masih belum mau mempertemukan Paloma dengan kedua agen FBI dan CIA itu.
Sudah hampir dua jam Paloma menunggu Alano di kamarnya, Hah.. bosan sekali tidur-tiduran di kamar seperti ini. Paloma pun memutuskan keluar dari kamar dan pergi menuju taman belakang mansion.
"Permisi nona Paloma. Nona mau kemana?."
Steven muncul dari belakang Paloma yang sempat membuatnya terkejut.
"Kau mengagetkan aku saja pak Steven. Aku ingin ketaman belakang mencari udara segar, aku bosan menunggu Alano daritadi di kamar."
"Baik nona saya akan membawa beberapa camilan untuk nona."
Paloma mengangguk dan berjalan menuju taman belakang. Udara sejuk dan angin yang berhembus menerbangkan anak rambut Paloma.
Sudah hampir 2 bulan aku disini, Ayah Bunda aku merindukan kalian. Apa kalian baik-baik saja disana? Entah apa yang akan terjadi jika kalian tahu aku sudah menikah disini dengan pria yang baru saja aku kenal. Dan anehnya aku malah mulai jatuh cinta padanya.
Paloma tersenyum lirih mengingat semua yang sudah terjadi. Sampai sekarang dia masih belum tahu bagaimana keadaan orangtuanya dan Austin sepupu kandungnya.
Steven meletakkan camilan dan minuman hangat di meja taman belakang mansion. Dia memperhatikan nona mudanya yang terlihat sendu. Pasti nona sedang memikirkan sesuatu hingga membuat dia sedih.
Steven memutuskan tidak ingin mengganggu nona mudanya itu. Dia hanya berdiri dari jarak yang cukup jauh mengamati Paloma.
Alano keluar dari dalam mansion dan mendekati istri tercintanya yang sedang termenung menikmati udara segar sore itu.
Paloma berjengkit kaget saat tangan kekar melingkar mesra di pinggang rampingnya. Alano mencium pipi Paloma dan menyandarkan kepalanya di pundak Paloma.
"Apa yang kau lakukan disini sayang? Disini sangat dingin, tubuhmu belum pulih betul Paloma sayang."
Alano semakin memperat pelukannya saat dia memegang tangan Paloma yang dingin, karena cuaca Kota Roma sejak kemarin cukup dingin.
"Aku hanya ingin mencari udara segar saja Alano. Apa kau sudah selesai dengan tamu mu?."
Alano mengangguk. Paloma menarik nafas panjang dia ingin membicarakan sesuatu yang penting pada suaminya. Namun dia sedikit takut jika Alano tidak akan mau mengabulkan permintaan nya.
"Alano, apa aku boleh meminta tolong padamu?."
Paloma diam, dia masih bingung harus memulai darimana pembicaraan nya. Alano mengernyit melihat Paloma gelisah. Dia pun membalikkan tubuh istrinya dan menatap manik hitam itu.
"Ada apa sayang? Kenapa kau tampak gelisah? Apa kau sakit sayang?."
Alano membelai lembut rambut panjang Paloma memberikan rasa nyaman ditubuh Paloma.
"Aku... ingin meminta sesuatu padamu." Diam mengatur nafasnya.
"Bisakah kau mencari tahu keadaan kedua orangtua ku? Aku takut paman Sentosa sedang merencanakan sesuatu pada mereka."
Kali ini Alano yang terdiam, dia tahu kalau Paloma pasti mencemaskan keadaan orangtua nya saat ini. Namun Alano masih belum mau menceritakan rencana yang sudah dia atur bersama kedua agen yang menangani kasus penculikan Paloma istri tercintanya.
Maaf sayang aku pasti akan membawamu kembali ke Indonesia dan bertemu dengan kedua orangtuamu jika semua bajingan itu berhasil ditangkap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Dukung terus karya Author
Like and Vote 🌹**