
Satu jam sebelum pemilihan calon Presiden dan Wakil Presiden berlangsung, media di hebohkan dengan pemberitaan keterlibatan Bambang Soesatyo dalam kasus penculikan putri Presiden Kevin Hendrawan.
Selain mantan juru bicara Kepresidenan itu, ada juga nama Sentosa Abdi Djoyo selaku Wakil Ketua MPR RI, yang menghilang beberapa hari lalu. Dan Bella, anggota Paspampres yang bertugas menjaga dan melindungi Ibu Negara Poly Irawan.
Publik dibuat heboh dan tidak menyangka kalau pilihan mereka untuk mendukung Bambang Soesatyo dalam pemilihan kali ini, membuat mereka kecewa dan marah atas tindakan keji yang dibuatnya bersama rekannya dalam kasus penculikan Paloma Hendrawan.
Pasangan Bambang dalam pemilihan ini tidak henti-hentinya menghubungi Bambang sejak pemberitaan itu mencuat ke publik.
Istri serta anak Bambang ikut resah melihat banyaknya wartawan yang sedang menunggu mereka di depan pagar rumah, untuk mewawancarai Bambang Soesatyo terkait berita itu.
"Sialan! Brengsek! Dasar Kevin bajingan!."
Bambang melempar semua barang yang ada di ruang kerjanya dengan marah. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi sekarang. Bambang tidak menyangka jika pada hari pemilihan ini, mereka akan membeberkan kejahatan yang sudah dia lakukan bersama Sentosa dan Bella.
Harusnya hari ini dia bisa merasakan kemenangan nya dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, bersama tim sukses dan anggota keluarganya.
Dengan dia menjadi Wakil Presiden, ambisinya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dan menghancurkan keluarga Kevin Hendrawan bisa terealisasikan.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Bambang di buka. Beberapa petugas kepolisian masuk ke dalam dan menghampiri calon Wakil Presiden itu, yang tampak berantakan.
"Selamat pagi pak Bambang. Kami datang kesini untuk membawa mu ke kantor polisi, sebagai tersangka kasus penculikan nona Paloma Hendrawan. Silahkan ikuti kami secara sukarela!."
Seorang anggota polisi mendekat dan memborgol tangan Bambang. Mereka pun membawa Bambang keluar dari sana.
"Tidak. Sayang, apa benar berita itu? Kau dalang penculikan putri Presiden? Jawab aku Bambang!."
Istri calon Wakil Presiden itu memukul dada Bambang yang tertunduk, tidak ingin menatap wanita yang selama ini selalu setia menemaninya.
Dia terlalu malu untuk sekedar melirik anak dan istrinya yang menangis histeris, menerima kenyataan pahit. Kalau Bambang telah melakukan suatu kejahatan keji bagi keluarga Presiden yang selama ini dia layani.
"Permisi ibu, mohon untuk tidak menghalangi petugas kami. Ibu bisa datang ke kantor polisi, saat kami membutuhkan keterangan dari Ibu."
Petugas kepolisian pun membawa Bambang keluar dari rumah mewahnya, dengan borgol yang mengikat kedua tangan pria paruh baya itu.
Wartawan yang sejak tadi berkumpul disana mengambil gambar dan foto, dimana Bambang dibawa oleh polisi dan di masukkan kedalam mobil petugas kepolisian.
Mereka tidak menyangka jika orang-orang penting dalam jajaran pemerintahan, adalah dalang dibalik penculikan Paloma Hendrawan putri tunggal Presiden Kevin Hendrawan.
Banyak spekulasi bermunculan ditengah publik, kalau mereka berani melakukan itu karena tidak puas dengan pemerintahan Kevin sebagai Presiden, marah dengan Presiden, ataupun ingin membalas dendam padanya.
Kevin tersenyum puas saat agen Ronald menghubunginya dan memberi tahukan, kalau Bambang sudah ditangkap dan sekarang sedang berada di kantor polisi untuk di interogasi.
"Bagus. Satu jam lagi aku akan tiba disana!."
Kevin menutup telepon nya dan memeluk Poly Irawan yang duduk disampingnya. Mereka sedang berada di Istana Negara sambil menonton berita, mengikuti kasus penculikan putri tercinta mereka.
"Aku bersyukur akhirnya pengkhianat itu sudah di tangkap Vin. Tidak akan ada lagi musuh yang ingin menghabisi putri kita Paloma. Aku sungguh tidak sabar bertemu dengan Paloma kita Vin."
Poly menangis sesegukan di pelukan suaminya. Agen Ronald sudah memberi tahukan pada mereka tadi malam, kalau Paloma sedang dalam perjalanan menuju Indonesia saat ini.
Mereka sangat bahagia dan bersyukur kalau Paloma ternyata baik-baik saja selama dia menghilang.
Poly mengangguk dan menghapus airmata yang tersisa di pipinya.
Ali masuk menemui kedua orang tuanya dengan tergesa-gesa. Dia baru saja mendengar berita penangkapan Bambang Soesatyo mantan juru bicara Kepresidenan itu.
"Ayah, aku juga ikut ke kantor polisi. Aku akan membantu Ayah memberinya pelajaran hingga pria bodoh itu memohon ampun!."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Dukung terus karya Author yaa 🤗
Like and Vote 🌹**