The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Perasaan yang Sebenarnya



"Kenapa melamun nak?."


Lina duduk di samping Hana, mereka sedang berada di taman samping rumah dimana tempat itu adalah pertama kalinya Ali mengucapkan cinta pada Hana putri Ketua MPR RI.


"Mama..."


Hana sedikit terkejut mendengar suara Lina yang membuyarkan lamunan nya sore itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan sayang? Apa ada yang mengganggu mu nak?."


Lina membelai lembut rambut Hana, mengatur anak rambutnya yang tampak bertebrangan di tiup angin.


"Tidak ada apa-apa ma."


Hana tersenyum getir, dia tidak mau membuat Ibunya khawatir dengan kegalauan yang sedang dia rasakan.


"Jangan membohongi mama Hana, mama tahu ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran mu. Katakan pada mama, siapa tahu mama bisa membantu mu sayang."


Lina menatap penuh cinta anak perempuan kesayangan keluarga Ketua MPR RI itu, sambil mengusap pipi merah Hana.


Hana menarik nafas panjang, dia memang ingin sekali bercerita sekarang namun Hana tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol. Sahabat yang biasanya menjadi tempat Hana mencurahkan keluh kesahnya sedang tidak bisa di ganggu.


Hana tidak ingin merusak momen bulan madu Paloma, hanya karena masalah dirinya yang sedang galau memikirkan Ali dan juga Austin.


"Ma.. Ka Ali mengajak ku menikah."


Lina tersentak mendengar ucapan Hana, "Wah.. bagus dong sayang. Mama sangat senang mendengarnya, kamu kan sudah lama ingin bersama Ali. Harusnya kau bahagia dengan ajakan Ali untuk menikah dengan mu nak."


Lina tersenyum lembut melihat Hana, dia memang sudah lama tahu kalau anak perempuan nya itu memendam perasaan pada putra tiri Presiden Kevin Hendrawan.


"Tapi, Hana menolaknya ma. Hana... masih belum siap untuk menikah."


"Loh kenapa sayang, bukan nya itu impianmu sejak dulu ingin menikah dan menjadi nyonya Hartono? Kenapa sekarang malah bilang belum siap?. Apa Ali belum layak untuk menjadi seorang suami nak?."


Hana tertunduk, dia tahu kalau mama dan papa nya juga sangat menyukai Ali Hartono. Selain karena dia baik dan bertanggung jawab, Ali juga merupakan salah satu pengusaha muda dan berbakat yang masuk jajaran 10 orang paling berpengaruh di Indonesia selain ayah tirinya Presiden RI.


"Bukan Ka Ali yang tidak layak ma, tapi aku yang masih ragu dengan hatiku ma."


Lina membola mendengar ucapan anaknya, dia bisa melihat ada sesuatu yang mengganggu pikiran Hana saat ini.


Lina lalu mendekap tubuh Hana dan membelai lembut Surai hitam rambut perempuan cantik itu.


"Coba kau ceritakan pada mama, apa yang masih membuat hatimu ragu sayang?."


Hana memejamkan mata merasakan rasa hangat dan nyaman berada dalam dekapan ibunya Lina.


"Entahlah ma, awalnya aku sangat yakin dengan perasaan ku terhadap Ka Ali. Tapi sekarang, aku malah meragukan perasaan ku yang sebenarnya untuk dia. Apa mama tahu kalau Ka Austin juga menyimpan perasaan untuk ku?."


"Semenjak Ka Austin tahu kalau aku dan Ka Ali sudah bersama, dia meminta ku untuk jangan bertemu dulu dan menjaga jarak. Saat mendengar itu aku sangat sedih dan kecewa ma, entah kenapa aku tidak ingin Ka Austin menjauh dariku. Hati ku terasa kosong karena tidak bisa melihat ataupun mendengar suaranya."


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, tapi aku tidak mau kehilangan Ka Austin ma. Aku juga takut kalau aku ternyata sudah mengkhianati perasaan Ka Ali untuk ku. Apa yang harus aku lakukan ma?."


Bulir kristal lolos di pelupuk mata indah Hana dan jatuh membasahi kedua pipi. Hatinya terasa sesak saat dia mengingat perkataan Austin tempo hari, yang sempat membuatnya sakit hati tidak ingin berpisah dari lelaki tampan itu.


"Dengarkan mama nak, kalau memang kau tidak ingin Austin menjauhi dirimu. Kau harus bisa menentukan pilihan antara Ali atau Asutin. Tanyakan pada hati kecilmu bagaimana perasaan mu yang sebenarnya terhadap Ali dan Austin. Mama hanya ingin kau berpikir dengan baik, jangan sampai keputusan mu nantinya akan membuat dirimu menyesal dan menyakiti hatimu sendiri maupun orang lain."


"Mama dan papa hanya ingin yang terbaik untuk mu sayang. Apapun pilihan mu nantinya, mama dan papa akan selalu mendukung nya nak."


Hana semakin memperat pelukan hangat ibunya yang selalu bisa menenangkan hati dan pikiran nya yang sedang kalut memikirkan kedua pria tampan itu.


"Terima kasih ma, aku akan memberikan waktu untuk hatiku berpikir. Aku juga tidak ingin menyesali keputusan ku nantinya, baik Ka Ali ataupun Ka Austin yang akan aku pilih. Aku ingin mereka berdua juga menerima keputusan ku!."


"Jangan terlalu lama berpikir nak, ingat ada dua hati yang sedang menunggu pilihanmu."


"Tentu ma. Terima kasih untuk dukungan mu padaku mama."


Hana tersenyum di balik pelukan hangat Lina, berbicara dengan ibunya semakin membuat wanita cantik itu yakin dengan pilihan yang akan dia ambil.


Meski nanti akan ada hati yang terluka, namun lebih cepat dia memilih lebih cepat juga rasa sakit yang akan mereka rasakan tidak akan terlalu dalam.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Like and Vote 🌹