The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Penembakan Bella



Dalam perjalanan ke Indonesia Bella di operasi didalam pesawat kepresidenan untuk mengeluarkan peluru yang bersarang didadanya. Peluru hampir mengenai jantungnya.


"Bagaimana kondisi Bella dokter?."


Poly duduk dengan gelisah saat dokter keluar dari ruang operasi dalam pesawat.


"Bella membutuhkan transfusi darah Ibu Negara, kami kekurangan satu kantong darah untuknya."


Dokter menunduk dalam mereka bingung harus mendapatkan darah darimana sementara posisi mereka sedang berada dalam pesawat terbang menuju ke Indonesia.


"Ambil saja darah saya dok kebetulan golongan darah kami sama."


Kevin yang mendengar perkataan Poly mendekatinya, "Tapi sayang kondisimu juga sedang lemah. Aku tidak ingin kau kenapa-napa."


Kevin ikut cemas mendengar istri tercintanya ingin mendonorkan darah sementara kondisi Poly masih belum pulih benar.


Poly menggenggam kuat tangan Kevin, "Aku baik-baik saja Pak Presiden kau tidak perlu khawatir. Aku justru akan merasa bersalah jika Bella tidak bisa diselamatkan, selama ini dia selalu menjagaku dengan baik sekarang saatnya aku membalas perbuatannya."


Poly tersenyum yakin menatap Kevin Hendrawan suami tercintanya.


Dokter lalu mulai mempersiapkan segala kebutuhan Poly untuk melakukan transfusi darah, dalam hati Poly selalu berdoa semoga darahnya bisa menyelamatkan Bella sang Paspampres yang selalu setia berada disampingnya. Ia juga ingin melindungi Bella seperti yang Bella lakukan selama ini pada dirinya dan keluarganya.


Presiden RI dan Ibu Negara tiba di Indonesia pukul tiga pagi, Bella langsung dibawa ke rumah sakit YPK Mandiri, Menteng, Jakarta Pusat.


Poly dan Kevin ikut mengantarkan Bella kesana meski Kevin sudah meminta Poly untuk beristirahat terlebih dahulu, namun Poly bersikeras untuk menemani Bella di rumah sakit. Kevin pun terpaksa mengikuti keinginan istrinya, dia tahu kalau Bella sangat berarti baginya. Poly sudah menganggap Bella seperti anaknya sendiri. Kevin dan Poly ikut beristirahat di rumah sakit samping ruang perawatan Bella.


Jam 10 pagi Bella sadar dari tidurnya, dia menatap sekeliling dan mendapati Poly sedang duduk disofa sambil tertidur. Ditangannya dipasang jarum infus dan beberapa kabel didadanya. Kilas balik kejadian penembakan yang terjadi padanya terngiang dikepala Bella.


Flashback On


Bella sedang berdiri tidak jauh dari posisi Presiden dan Ibu Negara berada, matanya tak henti memperhatikan keadaan sekitar Potomac Park.


Sesekali dia tersenyum sinis melihat kemesraan antara Kevin Hendrawan dan Poly Irawan. Saat ini kalian masih bisa tersenyum seperti itu tapi ketika kalian mendapat berita kematian Paloma hidup kalian pasti akan sangat menderita.


Tiba-tiba saja ponsel Bella berdering dia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang didekatnya, karena jika mereka sedang bertugas Paspampres dilarang menerima telepon dari siapapun.


Bella memandang ponselnya dan melihat private number yang menghubunginya, Bella berpikir mungkin saja itu Albert Hall yang memang kadang kala meneleponnya menggunakan nomor private number.


"Halo!."


Bella mengangkat telepon dengan nada ketus, ia kesal dengan Albert karena belum mengiriminya uang bulan ini.


"Bersiaplah Bella sebentar lagi giliranmu!." Suara orang asing ditelepon terdengar seperti suara laki-laki.


"Halo siapa ini."


Tuuut.. tuuut.. tuuut...


Bunyi telepon yang sudah ditutup, sialan! siapa orang ini mengapa dia berkata seperti itu.


Tak berselang lama pesan masuk berbunyi di ponsel Bella, dia membuka isi pesan itu dan terkejut melihatnya. Gambar foto Gael Avignon yang sedang dirantai dengan wajah babak belur terlihat.


Dorrr..


Seseorang menembak dada Bella, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya dengan darah yang mengalir deras dibalik kemeja yang ia pakai. Pandangan Bella mengabur dan ia jatuh pingsan tergeletak ditanah.


Flashback Off


"Kau sudah sadar Bella?."


Poly yang terbangun dari tidurnya begitu terkejut saat melihat Bella sudah membuka matanya.


"Ibu.. Maaf merepotkanmu, bagaimana keadaan Ibu apa Ibu baik-baik saja bersama Bapak Presiden?." Bella menatap Poly dengan pandangan khawatir, akting.


Poly meraih tangan Bella dan mengusapnya lembut, "Aku baik-baik saja bersama Bapak kau tenang saja Bella. Sekarang pikirkan saja dirimu sendiri agar kau bisa cepat sembuh."


Poly tersenyum tulus, ada pandangan penuh cinta dimatanya untuk Bella.


Poly menekan tombol dekat ranjang Bella untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama dokter dan dua orang perawat masuk ke ruang perawatan Bella. Polypun keluar untuk memberikan kesempatan pada dokter untuk memeriksanya.


"Apa yang kau rasakan saat ini Nona Bella?." Dokter bertanya setelah seluruh pemeriksaan berakhir.


"Saya hanya merasa nyeri saja diluka bekas operasi dok."


"Baiklah saya akan memberi obat pereda nyeri untuk lukamu. Kau harus bersyukur tembakan itu tidak mengenai jantungmu, meski kau kehilangan banyak darah. Untung saja saat dipesawat Ibu Negara mau mendonorkan darahnya untukmu, kalau tidak entah apa yang akan terjadi padamu."


Bella tersentak kaget saat mendengar penuturan dokter, "Mendonorkan darah dok?."


"Iya Nona Bella, berterima kasihlah pada Ibu Negara dia terlihat sangat menyayangimu seperti dia menyayangi Nona Paloma anaknya." Dokter tersenyum tulus menatap Bella, diapun pamit keluar dari ruang perawatan itu.


Ada rasa sesak didadanya mengingat perkataan dokter, dia tidak menyangka kalau Poly Irawan akan melakukan sesuatu yang begitu mulia bagi dirinya yang sudah berbuat jahat pada keluarga Presiden. Rasa bersalah dan rasa menyesal meliputi hati dan pikiran Bella, entah apa yang akan terjadi saat Ibu Poly tahu kalau aku ikut terlibat dalam penculikan Nona Paloma.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Like Vote and Rate guys 🌹