
Alano dan Dave tiba di Kota Napoli bersama anggota Mafia Fire Red. Mereka segera menuju rumah Albert Hall pamannya. Senjata api dan beberapa bom sudah disiapkan mereka.
Alano baru saja mendapat kabar dari mata-mata disana kalau saat ini Paloma tengah disiksa dan dalam keadaan yang memprihatinkan.
Alano semakin geram mendengarnya dia sudah berjanji kalau dia akan menyiksa kedua orang tua itu sampai mati.
"Apa Pablo sudah tiba disana?."
Alano duduk di kursi belakang sambil memainkan pistol di tangannya.
"Dia baru saja tiba Bos bersama anak buahnya dan mereka sedang berjaga di sekitar rumah tuan Albert."
Dave membawa mobil mewah milik Alano dengan kecepatan penuh dan anggota Mafia Fire Red mengikuti mereka dari belakang.
"Bagus. Pastikan anak buah Pablo untuk bersiap disana. Begitu kita tiba, kita akan langsung menyerang anak buah pamanku dan pria tua itu. Aku yakin Albert sudah memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi anggota kita. Dia pasti tahu kalau aku akan datang kesana mencarinya!."
"Baik Bos."
Dave segera menghubungi anggota nya melalui earphone yang dia pakai.
Kali ini Alano tidak mau kebobolan lagi, dia benar-benar memikirkan rencana mereka malam ini untuk menjemput Paloma dari rumah Albert Hall pamannya.
20 menit kemudian Alano tiba dirumah Albert yang tidak sebesar mansion miliknya di Kita Roma. Pagar tinggi terlihat mengelilingi rumah model klasik itu, ada pos di pintu gerbang yang dijaga cukup ketat.
Alano turun dari mobil memperhatikan rumah itu dari jarak yang cukup jauh, dia tidak mau anak buah Albert dan Sentosa tahu kalau Alano sudah tiba disana. Rencananya mereka akan menyerang secara diam-diam agar Paloma bisa diselamatkan dari sana. Mereka tidak ingin memancing keributan dan berakibat pada keselamatan Paloma.
Tiga orang penembak jitu mulai menembak beberapa penjaga yang berjaga di pos pintu gerbang. Dengan cepat anggota Mafia Fire Red dan anak buah Pablo Dominic masuk ke halaman rumah Albert dan mulai menembaki musuh.
Tidak butuh waktu lama mereka mampu menghabisi anak buah Albert yang ada di halaman rumahnya. Alano masuk ke dalam rumah diikuti Dave tangan kanannya dan menembak para musuh yang berjaga disana. Bunyi tembakan peringatan berhasil membuat Albert dan Sentosa terkejut di dalam ruangan.
"Shit!."
Alano bersembunyi di balik tembok untuk menghindari tembakan musuh.
"Dave! Pastikan mereka tidak akan kabur!."
Alano memberi perintah mutlak dia tidak ingin musuhnya berkeliaran lagi dan mengganggu ketenangan hidupnya.
Albert keluar dari ruangan penyekapan Paloma bersama anak buahnya, mereka lari menuju pintu belakang untuk bisa kabur dari sana. Alano yang melihat Albert berlari keluar rumah menembakkan timah panas kearah nya, namun tembakan itu tidak berhasil mengenainya.
Albert berhasil kabur dengan menaiki mobilnya, sementara anak buah yang ikut melindungi dirinya mati terkena tembakan Alano dan anggota Mafia Fire Red.
"Dave, utus orang untuk mengejar Albert. Pastikan untuk menangkapnya hidup-hidup!."
Alano memberi perintah begitu semua musuh sudah tumbang. Dia lalu berlari memasuki ruangan dimana Paloma disekap.
Alano mengepal kuat tangannya, dia menatap Sentosa tajam yang saat itu sedang menodongkan senjata pada Pablo. Dengan cepat Alano menembak tangan Sentosa hingga pistol di tangannya terpental jauh. Dave berlari dan memukul tengkuk Sentosa hingga dia pingsan.
Ada kristal bening yang jatuh di pipi Alano, hatinya begitu sakit melihat keadaan Paloma. Begitu ikatan ditangan dan kaki Paloma terlepas dia segera menggendong tubuh lemah Paloma. Sekilas Alano mencium bibir Paloma mencoba memberi ketenangan di hatinya saat ini.
"Dave kau urus laki-laki tua itu. Bawa dia ke markas dan pastikan dia tetap hidup! Segera tangkap Albert malam ini juga!."
"Baik Bos."
Dave membungkuk memberi hormat hingga Alano bos besarnya keluar dari ruangan itu. Dave melirik Pablo yang terlihat mematung ditempatnya, dia tahu kalau Pablo pasti sedikit syok mendengar ucapan terima kasih Alano untuknya.
Begitu Pablo naik kedalam mobil mewah milik Alano, dia langsung tancap gas dengan kecepatan penuh ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Alano masih menggendong Paloma dalam pelukannya. Dia tidak berhenti mencium dahi Paloma dan mengusap sisa airmata di pelupuk mata indahnya.
Maafkan aku Paloma lagi-lagi aku tidak bisa menjaga mu dengan baik hingga kau harus berakhir seperti ini. Mata Alano terasa hangat, dia membelai lembut rambut hitam Paloma dan terus berdoa dalam hati agar istrinya bisa selamat.
Pablo melihat pemandangan mesra di belakang kursi kemudinya. Ada rasa tidak rela saat Alano mencium dan membelai rambut Paloma. Hah.. Sepertinya Alano memang mencintai Paloma. Apa aku masih punya harapan untuk merebut Paloma darinya?.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Akan ada update setiap hari guys
Like Rate and Coment 🌹**