The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Kantor Polisi



Sekitar pukul 11 siang, Kevin bersama Poly dan anak tirinya Ali Hartono tiba di kantor polisi dengan pengawalan ketat oleh anggota Paspampres dan beberapa anggota kepolisian.


Awak media yang sejak tadi menunggu kedatangan Presiden RI bersama Ibu Negara itu, berusaha mewawancarai keluarga mereka.


Para wartawan mengambil gambar dan foto begitu mereka turun dari dalam mobil Kepresidenan. Juru bicara Kepresidenan yang baru menggantikan Bambang Soesatyo sebelumnya, meminta pada awak media untuk mengkawal bersama-sama kasus penculikan putri Presiden yang menyeret beberapa nama penting di Indonesia.


Dia berjanji akan menggelar jumpa pers secara resmi setelah mereka mendapatkan informasi yang jelas, dari pihak Kepolisian serta pengakuan Bambang dan Bella nanti.


Di dampingi Kapolri, Kevin masuk ke ruang interogasi dimana Bambang sedang di tahan dengan borgol yang mengikat tangan dan kakinya.


Bambang tertunduk saat melihat Kevin duduk di depannya dengan mata penuh amarah, sedang memandanginya.


"Katakan padaku apa motif mu menculik Paloma anak ku?."


Bambang tersenyum tipis mendengar pertanyaan Kevin, dia lalu mengangkat kepalanya dengan tegak menatap remeh lelaki paruh baya di depannya itu.


"Kenapa kau marah? Rasa sakit yang kau rasakan tidak seberapa dengan sakit yang aku rasakan, ketika anak ku mati dalam perang melawan ISIS di Suriah! Harusnya anak mu itu ikut mati menemani anakku di surga!."


Braakkk...


Kevin memukul meja ruangan interogasi dengan penuh emosi, ingin rasanya dia menendang laki-laki brengsek di depannya.


"Apa hubungan nya Paloma dengan anakmu? Anakmu mati secara terhormat karena sudah berkorban demi Negara. Kau bodoh atau pura-pura bodoh Bambang! Jangan menyalahkan sesuatu yang buka menjadi otoritas ku sebagai pemimpin Negara!."


"Hahaha..."


Bambang tertawa sarkas mendengar ucapan Kevin Hendrawan.


"Bukan otoritas mu kau bilang? Kalau saja kau tidak terlalu bodoh mengirim pasukan bantuan ke Suriah untuk membantu tentara Amerika, anak ku pasti masih hidup hingga sekarang. Kau lah yang sudah membunuh anak ku!."


Suara Bambang menggema di penjuru ruang interogasi, Ali yang sedang mendengarkan mereka dari balik kaca mengepal kuat tangannya. Poly berusaha menenangkan emosi anak laki-laki nya itu, yang tampak sangat marah melihat Bambang mencemooh ayah tirinya.


"Asal kau tahu, kami sudah merencanakan untuk membunuh anak perempuan mu dengan cara memperkosa nya dan memotong - motong tubuhnya lalu membuang mayatnya ke laut! Hahaha...."


Kevin berdiri dan berjalan cepat ke arah Bambang. Dia memukul wajah Bambang menggunakan kedua tangannya, melepaskan segala amarah yang mengganggu hati dan pikirannya selama ini.


Bapak Kapolri hanya membiarkan orang nomor satu di Indonesia itu, memukuli Bambang sampai dia puas.


Tiba-tiba Ali ikut masuk ke dalam ruang interogasi dan melayangkan pukulan serta tendangan di tubuh Bambang, yang sudah terkapar lemah di lantai.


Ali sudah menahan emosinya sejak tadi, dia berjanji akan menghabisi lelaki tua tidak tahu malu itu.


"Sudah cukup nak. Kita tidak boleh memukuli nya sampai mati! Biarkan dia merasakan dingin dan kejamnya berada di dalam jeruji besi, hingga dia membusuk disana!."


Kevin menarik tangan Ali agar menjauh dari Bambang yang sudah babak belu, akibat pukulan dan tendangan dari mereka berdua.


Bambang yang masih setengah sadar tertawa seperti orang gila mendengar perkataan Kevin. Meski semua tubuhnya sakit dengan darah yang merembes keluar dari hidungnya.


"Kau sungguh sangat menyedihkan Bambang. Pantas saja anakmu tidak memberi tahukan padamu kalau, dia datang secara pribadi padaku dan meminta ku untuk mengikut sertakan dirinya dalam misi tersebut. Harusnya kau bersyukur memiliki seorang anak yang sangat berani dan berjiwa patriot, bukan nya malah melarang dia untuk mengikuti nalurinya sebagai abdi negara yang rela mati dan berjuang demi tanah air!."


"Apa maksudmu Kevin?"


"Ya.. kau pasti bertanya-tanya bukan kenapa aku tidak mengindahkan permintaan mu waktu itu, agar anakmu tidak ikut dalam misi tersebut. Dia sendirilah yang meminta ku untuk mengikut sertakan dirinya dalam tim bantuan ke Suriah. Karena dia tahu kalau kau sebagai ayah nya sangat menantang keras, dia pergi kesana! Makanya dia meminta ku untuk tidak mengatakan apapun padamu!."


Kevin bersama Ali keluar dari sana setelah berhasil menyalurkan emosi yang sudah lama mereka pendam, untuk orang yang pernah dekat dengan keluarga Presiden.


Serta menyampaikan informasi yang membuat Bambang menangis menyesal karena sudah menyalahkan orang lain, atas kesalahan nya sendiri sebagai orang tua yang tidak bisa mendukung keinginan anaknya di saat-saat terakhirnya.


"Maafkan papa nak, maafkan papa."


Bambang menangis sesenggukan di dalam ruang interogasi, menyesali kebodohannya selama ini.


"Ayo, kita harus bersiap untuk menjemput Paloma di bandara."


Kevin mengajak keluarga kecilnya untuk pergi dari kantor polisi menuju bandara, dengan pengawalan ketat.


Kevin sempat berbicara empat mata dengan Kapolri dan juru bicara Kepresidenan yang baru, tentang masalah penculikan Paloma putrinya.


Dia meminta untuk langsung mengadakan konferensi pers saat ini juga, untuk memberikan fakta dan informasi yang akurat tentang keterlibatan Bambang Soesatyo, Sentosa Abdi Djoyo dan Bella anggota Paspampres yang bertugas melindungi Ibu Negara.


Kevin tidak ingin berita kasus penculikan Paloma simpang siur dan membuat masyarakat menjadi resah. Mengingat dirinya sebagai kepala negara yang dicintai, dan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Hari ini Up 2 episode


Like and Vote 🌹**