
Setelah pengakuan cinta Hana pada Austin, pagi ini lelaki bertubuh atletis itu tampak bersemangat menjalani sesi terapinya.
Baru beberapa hari mereka tidak bertemu, namun kemajuan pada tubuh Austin sangat luar biasa. Dia sudah semakin lincah menggerakkan tubuhnya, bahkan Austin sudah mulai berlari kecil meski belum terlalu jauh.
Hana sangat bahagia melihat kekasih hatinya sudah bisa beraktifitas dengan normal kembali.
"Selamat ya Ka, akhirnya Ka Austin bisa berjalan dengan normal kembali."
Hana tersenyum manis menatap pria tampan di depannya yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
"Terima kasih baby, ini semua juga berkat dukungan mu selama ini padaku."
Hana merona mendengar panggilan sayang Austin untuk dirinya, dia masih tidak menyangka jika kini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Aku akan langsung melamar mu begitu kita pulang ke Indonesia baby."
Austin tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk meresmikan hubungan keduanya. Meski Austin masih merasa tidak enak pada Ali sepupu tirinya, namun dia juga tidak mau sampai kehilangan Hana untuk yang kedua kalinya.
"Aku ikut maunya Ka Austin bagaimana saja. Aku selalu siap kapanpun Ka Austin mau melamar ku."
Austin tersenyum dengan perasaan membuncah bahagia, dia memeluk tubuh kecil Hana saking bahagianya.
"Ih.. Ka, jangan main peluk begitu dong. Ka Austin keringatan gitu, jorok tau!."
Hana memukul-mukul pundak Austin merasa kesal karena lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan dirinya yang protes dengan pelukan tiba-tiba itu.
Austin hanya tertawa melihat tingkah menggemaskan putri Ketua MPR RI itu dan mencium pipi kenyal Hana tanpa permisi.
Hana semakin merona dan salah tingkah mendapati perlakuan mesra Austin padanya.
"I love you baby."
"I love you too Ka Austin."
Sementara itu di negara lain yang cukup jauh dari Amerika, di Kota Roma Negara Italia waktu setempat.
Pagi ini Dave bangun dan melihat Barbara sudah siap untuk berangkat ke kantor. Dia bahkan membuat sarapan meski hanya roti bakar saja mereka berdua.
Dave masih merasa tidak enak dengan perlakuan nya kemarin pada Barbara, yang telah melecehkan dirinya.
"Duduklah Barbara."
Dave meminta Barbara untuk duduk di meja makan saat dia ingin pergi meninggalkan Dave, karena masih takut untuk berduaan dengan pria tampan itu.
Dengan ragu-ragu akhirnya Barbara pun duduk di depan Dave namun masih mengambil jarak yang cukup diantara mereka.
Dave menghembuskan nafas kasar melihat wanita pengganggu itu, mencoba menjaga jarak darinya.
"Maafkan aku Barbara."
Ini pertama kalinya pria arogan dan sombong itu mengucapkan kata keramat pada orang lain, selain bos besarnya. Barbara sampai mematung tidak menyangka kalau si tukang perintah itu mau meminta maaf padanya.
"Aku tidak bermaksud ingin melecehkan mu kemarin. Tapi, aku terlalu marah karena kau sama sekali tidak pernah mendengarkan peringatan yang aku katakan padamu. Aku juga paling tidak suka saat orang lain mengganggu bos besar hingga membuatnya kesal dan tidak nyaman. Sejak dulu aku terbiasa selalu menjadi penjaga bos dan memastikan bos besar hidup dengan nyaman dan bahagia."
"Aku seperti itu, karena aku sudah berjanji pada mendiang nyonya Angelina Hall. Jauh sebelum saat aku memutuskan untuk mengabdikan diriku pada keluarga Lodovico. Terutama selalu berada di sisi pewaris tunggal Keluarga Lodovico bos Alano. Jadi untuk yang terakhir kalinya aku minta padamu Barbara, berhentilah mengganggu kebahagiaan bos besar bersama nona muda. Kau memang pantas untuk bahagia, tapi bukan bersama bos. Aku berjanji akan selalu menjaga mu dan memastikan hidup mu ke depannya akan selalu bahagia."
Entah apa maksud dari perkataan Dave, tapi mampu membuat hati Barbara tenang. Dia bahagia karena ada seseorang yang mau berada di sisinya tanpa memandang masa lalu Barbara yang kelam.
Tiba-tiba Dave memegang tangan Barbara yang berada di atas meja dan menatap perempuan bertubuh seksi itu dalam.
"Aku tahu kau pasti sudah muak mendengar kata janji Barbara. Tapi aku akan buktikan semua ucapan ku padamu. Aku hanya ingin kau percaya padaku saja."
Deg...
Jantung Barbara berdetak tidak karuan mendapati perlakuan Dave yang tak biasa dan membuat wanita itu salah tingkah.
Ada kesungguhan dan kejujuran yang terpancar dari manik mata hitam pria tampan di depannya.
Barbara pun tersenyum dan mengangguk, semalam setelah Alano pulang dia memang sudah menyerah dengan perasaan nya terhadap pria masa kecilnya itu.
Barbara sudah rela melepaskan seseorang yang bukan jodohnya, dia berharap Alano akan selalu hidup bahagia bersama Paloma Hendrawan.
Dalam hati Barbara berjanji akan membuka hatinya untuk pria yang senang memerintah dirinya, dan hidup dengan bahagia di masa depan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****Tinggal 1 episode lagi dan novel ini akan selesai guys
di tunggu yaa..
See you tomorrow 🤗
Like and Vote 🌹**