The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Kakak Sepupu



"Al, maukah kau menemani ku kerumah sakit sebentar? Aku ingin mengunjungi Austin, kakak sepupu ku disana."


Alano yang tengah memakai kemeja nya setelah mandi pagi, menatap Paloma yang tengah duduk di depan meja riasnya. Mereka tidur bersama di kamar Paloma yang terbilang cukup sederhana, untuk seorang putri Presiden dan pengusaha sukses di Indonesia.


"Baiklah. Tapi selesai aku meeting ya sayang."


Alano mengecup lembut dahi Paloma dan menyerahkan sebuah dasi ke tangannya, meminta agar Paloma memakaikan dasi itu ke lehernya.


Paloma pun dengan senang hati melakukan tugasnya sebagai istri untuk melayani Alano suaminya.


Setelah sarapan bersama di meja makan, Alano pamit lebih dulu ke ruang kerja Paloma untuk meeting online bersama dewan direksi yang sudah menunggu nya. Dave selalu setia mendampingi Alano selama rapat tersebut berlangsung.


Alano juga sudah menarik kembali saham yang telah di beli Pablo Dominic sebelumnya, dengan cara mengembalikan uang yang sudah Pablo bayarkan untuk membeli saham tersebut.


Alano tidak ingin lagi berhubungan dengan Pablo Dominic, setelah lelaki itu dengan beraninya menyatakan cinta pada Paloma istri sahnya.


2 jam kemudian Alano beserta Paloma yang ditemani Dave dan seorang anggota Paspampres yang bertugas di bagian kemudi, berangkat menuju rumah sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dimana Austin dirawat.


Sudah 3 bulan semenjak peristiwa baku tembak dalam penculikan Paloma terjadi, Austin belum juga bangun dari kondisi komanya.


Paloma merasa bersalah mendapati keadaan Austin yang terlihat lebih kurus dan pucat, dengan kumis tipis yang terlihat tumbuh di wajah tampan nya.


"Hai Ka Austin, apa kabarmu? Aku sudah kembali sekarang. Aku mohon cepatlah sadar, aku baik-baik saja saat ini berkat doa Ka Austin. Oh ya, aku sudah menikah sekarang. Namanya Alano Lodovico, pria yang sudah menjaga dan menyelamatkan aku selama aku diculik dan dibawa ke Italia. Kami akan mengadakan pesta pernikahan 4 hari lagi. Makanya Ka Austin harus bangun dan melihatku memakai gaun pengantin nanti."


Airmata Paloma tidak bisa lagi dia bendung. Kenangan indahnya bersama Austin menari indah di pikirannya.


Austin yang selalu setia berada di sampingnya, saat menemani Paloma pergi kemana saja. Paloma merasa bersalah dan sakit hati karena dirinya lah yang membuat Austin sampai koma hingga 3 bulan lamanya.


"Jangan menangis sayang, kakak sepupumu pasti akan sedih melihat dirimu menangis seperti ini."


Alano mengusap airmata di pipi Paloma dan membawa nya kedalam pelukan hangat pria bertubuh kekar itu.


Samantha dan juga Kerta yang berada disana ikut menangis terbawa suasana. Mereka hanya berharap akan ada mukjizat bagi anak tunggal mereka itu.


"Maafkan aku Ka Austin, gara-gara melindungi ku kau sampai harus koma seperti ini. Maafkan aku."


Paloma sesegukan dalam dekapan hangat suaminya. Alano membelai rambut panjang Paloma, memberikan ketenangan dalam hatinya.


"Jangan berkata seperti itu Paloma. Itu bukanlah kesalahan mu, Austin hanya melakukan tugasnya sebagai ajudan Presiden yang bertugas untuk selalu melindungi mu kapanpun."


Kerta berujar dengan tulus untuk menenangkan keponakan cantiknya yang sangat dia sayangi.


Sejak dulu Paloma memang selalu dekat dengan Kerta dan Samantha, paman dan bibinya itu. Mereka selalu memanjakan Paloma layaknya anak perempuan mereka sendiri.


"Benar kata paman mu Paloma sayang. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Bibi yakin Austin akan segera sadar, dia pasti akan sangat bahagia mendengar kau telah kembali Paloma."


Tiba-tiba jari tangan Austin bergerak yang sempat dilihat oleh Alano. Dia lalu melepaskan pelukan Paloma untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar atau tidak.


"Ada apa Al?."


"Jari tangan kakak sepupumu bergerak sayang. Coba kau perhatikan."


Samantha dan Kerta yang mendengar perkataan Alano, berjalan mendekati ranjang rumah sakit dimana Austin berada.


Jari tangan Austin terus bergerak di ikuti kedua matanya yang mulai terbuka perlahan setelah 3 bulan tertutup rapat.


"Oh my God, Austin anakku!."


Paloma menangis bahagia melihat pemandangan mengharukan di depannya, karena akhirnya Austin sudah kembali ke sisi mereka. Dia bersandar di dada bidang Alano yang tengah merangkul mesra pundak Paloma.


Dokter datang setelah Kerta menekan tombol di atas ranjang rumah sakit, dan memeriksa secara keseluruhan kondisi Austin.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tuan Austin baik-baik saja saat ini. Namun karena dia baru sadar dari komanya yang cukup lama, tuan Austin akan menjalani beberapa terapi untuk membantu tubuhnya agar dapat berjalan kembali. Dan juga agar otot-otot tubuh tuan Austin bisa kembali seperti semula."


Semua yang ada disana bisa bernafas lega mendengar perkataan dokter. Mereka senang karena akhirnya Austin bisa bangun dari kondisi komanya, dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Dokter pun keluar setelah mereka mengucapkan terima kasih padanya.


"Ka Austin."


Paloma memeluk tubuh Austin yang tengah bersandar di ranjang rumah sakit.


Austin tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca melihat adik sepupunya. Meski masih lemah, Austin berusaha membelai kepala Paloma.


"Terima kasih karena sudah melindungi ku waktu itu Ka."


"Sama-sama dek, aku senang melihat kau baik-baik saja."


Paloma tersenyum lembut dan memperkenalkan Alano pada Austin kakak sepupu nya.


"Kenalkan Ka, ini suamiku Alano."


Mereka pun bersalaman dan sesekali bercanda untuk mengajak Austin berbicara, agar semua saraf dan otot tubuhnya kembali bekerja dengan baik.


"Aku senang karena sekarang sudah ada yang akan selalu menjaga mu dek."


Austin berujar dengan tulus setelah Paloma menceritakan semua kejadian yang sudah dia lewati, selama dia diculik dan dibawa ke Italia lalu bertemu dengan Alano Lodovico suaminya.


Mereka bersyukur karena akhirnya keluarga Hendrawan bisa berkumpul bersama lagi, dengan anggota keluarga yang sudah lengkap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Akan ada up setiap hari


Like and Vote 🌹**