The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Rasa Bersalah



Sudah satu hari satu malam sejak penangkapan Bella terjadi di rumah sakit, dia tidak mau membuka mulutnya saat di interogasi oleh pihak kepolisian.


Meski wajahnya sudah tampak babak belur karena di pukuli anggota Brimob tapi Bella tetap diam, tidak mau menjawab pertanyaan yang diberikan penyidik padanya.


Sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Presiden, mereka menyembunyikan penangkapan anggota Paspampres yang berkhianat itu dari publik. Mereka tidak ingin berita ini menghancurkan rencana yang sudah mereka susun bersama kedua Agen FBI dan CIA, yang dipercayakan Kevin untuk menyelidiki kasus penculikan Paloma anak perempuannya.


Agen Ronald dan Agen Catheline akan melaksanakan rencana sesuai dengan permintaan Alano tempo hari. Dan 2 hari lagi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden akan diselenggarakan. Mereka sudah menyusun strategi untuk mengungkap kebenaran yang ada, dan juga menangkap Bambang Soesatyo.


Poly yang geram saat mendengar laporan ana buahnya tentang kebungkaman Bella, pergi ke ke kantor polisi dimana Paspampres itu ditahan.


Ceklek...


Bunyi pintu ruangan interogasi dimana Bella ditahan dibuka, Poly masuk ke dalam tanpa ditemani siapapun. Mereka hanya di ijinkan untuk memantau nya dari balik kaca antar ruangan.


Bella tersentak melihat sang Ibu Negara yang hampir 10 tahun ini selalu dia temani dan jaga.


Poly duduk di depannya diantara meja panjang yang menjadi penghalang mereka. Tangan serta kaki Bella di borgol hingga membuat wanita itu tidak bisa bergerak bebas.


Sebagai anggota Paspampres yang terlatih, mereka tahu kalau Bella tidak akan segan-segan untuk melarikan diri jika dia mempunyai kesempatan sedikit saja.


"Aku benar-benar tidak menyangka kau tega mengkhianati keluarga kami seperti ini. Kau bahkan ingin membunuh Hana, orang yang yang tidak bersalah sama sekali!."


Poly menatap tajam pada Bella yang tertunduk tidak berani melihat Poly Irawan ibu Paloma.


"Katakan padaku, apa alasan mu melakukan ini Bella. Apa selama ini kami memperlakukan mu dengan buruk? Apa gaji mu sebagai anggota Paspampres tidak cukup memenuhi keserakahan mu?. Dan apa aku masih kurang baik padamu?."


Suara Poly terdengar sedikit bergetar. Dia begitu syok sampai saat ini begitu Poly mendapatkan berita jika selama ini, Bella wanita yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri adalah dalang di balik penculikan putrinya Paloma.


Poly kecewa dan sakit hati mendapati kenyataan yang menyakitkan, dan seakan mencabik-cabik hatinya.


Bella masih diam, kenangan kebersamaan dirinya dengan keluarga Presiden terlintas di pikirannya.Jika bisa Bella ingin sekali memutar waktu dan merubah keadaan.


Dia memang bodoh karena tergiur dengan sejumlah uang yang diberikan Bambang padanya, untuk menjadi kaki tangan kedua pria tua yang ingin menghancurkan Kevin Hendrawan Presiden RI itu.


Brakkk...


Poly memukul meja ruangan interogasi dengan kuat membuat Bella terkejut.


"Apa kau tuli Bella? Kau terlihat seperti seorang pembunuh saat kau ingin menghabisi Hana dirumah sakit, tanpa rasa takut dan sesal sedikit pun! Jangan bilang kalau kau takut sekarang."


Poly menatap marah perempuan berambut sebahu di depannya dengan marah. Dia ingin sekali mencekik leher perempuan itu sampai mati.


Poly sudah melihat video rekaman di rumah sakit saat Bella ingin membunuh Hana kemarin. Apalagi mendengar penghinaan nya terhadap Paloma, dengan mengatakan anak nya sudah mati, menambah bara api di dada Ibu Negara itu berkobar.


"Maaf, maafkan saya Ibu. Saya tahu kalau kesalahan saya sudah sangat mengecewakan anda. Saya hanya bisa memohon maaf padamu."


Bella akhirnya mau bersuara setelah mengunci rapat mulutnya sejak dia ditangkap di rumah sakit. Bella masih menunduk tidak berani menatap Poly Irawan.


"Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan mu pada kami Bella. Setelah ini aku akan memastikan, kau akan membusuk di dalam penjara!."


Poly berdiri dari tempat duduknya dan melangkah pergi menuju pintu keluar. Tangan nya berhenti saat akan memutar Handle pintu, dia berbalik dan menampar pipi Bella melampiaskan kemarahan dan kekecewaan nya dalam hati.


Dia menatap jijik anggota Paspampres itu yang tampak menyedihkan di ujung ruangan.


Poly berjalan keluar dari ruangan interogasi meninggalkan Bella yang tampak menyesal sudah melakukan perbuatan keji pada keluarga Presiden, yang sudah sangat baik memperlakukan nya selama ini.


Tangis kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam, mengucur deras dari matanya yang bengkak akibat terkena pukulan anggota Brimob.


Bella sampai sesenggukan menahan rasa sakit yang menggerogoti hati dan perasaannya. Dia tahu kalau perbuatan nya ini tidak akan pernah bisa di maafkan.


Dia menyesal, namun nasi sudah menjadi bubur. Bella harusnya bersyukur karena mereka tidak membunuh dirinya saat ini.


Poly mengatur nafas saat rasa sesak terasa di dadanya. Dia sempat meneteskan airmata di perjalanan pulang menuju Istana Negara dimana Kevin Hendrawan suaminya sedang menunggu kedatangan nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


****Hari ini Up 2 episode


Like and Vote 🌹**