The President Daughter and Mafia

The President Daughter and Mafia
Pengakuan Paloma



Setelah kepergian Dave dari kamar mereka, Paloma masih diam. Dia tidak berani menatap Alano yang terlihat menunggunya bersuara menjawab pertanyaan tadi.


"Apa kau akan diam saja Paloma?" Alano menatap jengah Paloma, ia paling tidak suka dibuat menunggu.


"Aku tidak tahu harus menjelaskannya darimana." Paloma menghembuskan nafas pelan.


Dia memutuskan untuk berbicara jujur pada Alano dan tidak akan ada yang ia tutupi lagi.


Paloma menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Aku diculik dan dibawa pada Albert. Dia mengancam akan membunuh kedua orang tuaku jika aku tidak mau menyetujui kesepakatan yang dia buat untuk menikah denganmu. Aku terpaksa mengikuti kemauan Albert karena salah satu Paspampres yang dekat dengan bundaku ternyata selama ini mengkhianati kami, dia menjadi kaki tangan orang yang menculikku. Aku pikir dalang penculikanku adalah Albert, tapi dugaanku salah. Dia juga hanya salah satu kaki tangan orang itu. Albert diperintahkan untuk membunuhku begitu aku tiba di Italia, mereka sepertinya ingin menghilangkan jejak dengan cara membunuh dan membuangku disini."


Airmata Paloma membanjiri kedua pipinya, hatinya terasa sakit mengingat kejadian penculikan hari itu hingga ia harus berakhir ditempat ini dan menikah dengan Alano orang asing yang tidak dia kenal.


"Lalu siapa orang yang menculikmu dan membawamu kesini Paloma?" Alano menatap iba Paloma.


Dia tahu jika Paloma hanyalah korban atas dendam orang lain hingga pamannya menggunakan Paloma sebagai tamengnya untuk membunuh Alano.


"Aku tidak kenal orang itu Alano, yang aku tahu dia memiliki luka bekas pedang di wajahnya dan berjenggot. Dan karena kejadian penculikan itu semua Paspampres yang bertugas menjaga dan melindungiku mati, hanya tersisa ka Austin saja yang masih melindungiku dari para teroriss yang ingin menculikku. Meskipun kondisinya saat itu sudah terkena tembakan dan mengeluarkan banyak darah. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana keadaannya apa dia masih hidup atau sudah mati karena mencoba melindungiku."


Paloma menangis sesenggukan mengingat keadaan Austin waktu itu, ia berharap jika Austin bisa selamat dari baku tembak yang terjadi.


Alano yang masih menatap Paloma menangis berinisiatif mengambilkan tissue dan memberikannya pada Paloma.


"Terima kasih karena sudah mau bercerita dengan jujur padaku Paloma, aku akan membantumu."


Paloma yang sedang menghapus airmatanya dengan tissue berhenti dan menatap Alano, "Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu Alano? Apa kau tidak sedang membohongiku?"


"Tidak Paloma untuk apa aku membohongimu, aku memang ingin membalas perbuatan paman Albert yang sudah sangat keterlaluan pada kami. Selama ini aku mencoba bersabar untuk membiarkan paman bertindak sesuka hatinya karena aku tidak mau menyakiti hati Mommy. Mommy selalu berkata padaku bahwa keluarga adalah segalanya, dan jika salah satu berbuat kesalahan maka keluarga harus bisa memaafkan apapun kesalahannya. Dan asal kau tahu saja, Mommy buta karena ulah paman Albert, dia sengaja melakukan itu agar dia bisa merebut harta warisan Daddy. Kejadian itu terjadi saat aku masih berumur 10 tahun dan tidak bisa berbuat apa-apa."


Paloma begitu terkejut mendengar penuturan Alano, tak disangka kalau Albert begitu tega melakukan perbuatan keji seperti itu pada adik kandungnya sendiri.


"Sekarang aku minta, kau melaporkan padaku apa saja perintah yang diberikan Albert padamu. Kau tidak perlu takut karena mulai sekarang aku akan melindungimu, kita akan mengikuti permainan Albert."


Alano menatap Paloma dengan penuh keyakinan, ia berharap Paloma mau mempercayainya untuk membantu menghancurkan Albert Hall paman kandungnya.


Paloma mengangguk mengiyakan perkataan Alano. Ya, dia hanya bisa percaya pada Alano ia yakin kalau Alano bisa dipercaya dan tidak akan membohonginya.


"Sebenarnya Albert menyuruhku untuk meracunimu Alano, dia memberikan aku sebuah botol racun untuk dicampurkan pada makananmu setiap hari. Tapi kau tenang saja aku tidak pernah mencampurkan apa-apa di makananmu Alano, aku berani bersumpah!."


Alano tersenyum tipis melihat Paloma yang mengangkat tangan menunjukkan 2 jarinya.


"Iya, aku percaya padamu Paloma. Aku memang selalu mengawasi gerak gerikmu selama kau tinggal di Mansion. Aku tidak mungkin percaya begitu saja saat paman membawamu padaku."


"Jadi kau memata-mataiku selama ini Alano? Hah ... aku benar-benar tidak menyangka itu." Paloma menggelengkan kepala mendengar ucapan Alano barusan.


.


.


.


.


.


.


.


.


** Dukung terus yuk karya author dengan cara Like and Vote yang banyak


Terima kasih 🌹